Sabtu, 17 Agustus 2019


Waspadai Mutasi Virus Flu Burung, Pasar Unggas Hidup Terus Diawasi

17 Jun 2019, 10:53 WIBEditor : Gesha

Pengawasan terus dilakukan Kementerian Pertanian untuk mengantisipasi mutasi Flu Burung | Sumber Foto:ISTIMEWA

Kegiatan ini mampu memonitor sirkulasi virus AI baik virus H5N1 galur (clade) 2.1.3 ataupun 2.3.2 serta mendeteksi awal munculnya virus influenza baru.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Virus Flu Burung di Indonesia memang takkan bisa lenyap, karena itu pengawasan pasar unggas hidup maupun budidaya unggas di masyarakat terus dilakukan.

Flu burung adalah penyakit yang dapat ditularkan ke manusia (zoonosis). Indonesia tertular virus flu burung sejak tahun 2003 yang menyebar ke beberapa wilayah dalam beberapa tahun saja.

Penyakit ini disebabkan oleh virus influenza yang menyerang semua jenis unggas domestik termasuk ayam, bebek, dan burung puyuh, serta diketahui dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi.

Dalam rangka melindungi kesehatan manusia dan produksi ternak unggas di Indonesia, pemerintah gencar melakukan program pengandalian dan penanggulangan FB, termasuk surveilans LBM

Kementerian Pertanian sendiri telah melakukan surveilans flu burung (FB) atau avian influenza (AI) di pasar unggas hidup (live bird market/LBM) di Jabodetabek sejak tahun 2009 untuk memonitor virus AI H5N1dan efektivitas program pengendalian FB dari daerah asal unggas hidup.

Surveilans LBM ini kemudian diperluas sehingga mencakup wilayah di bawah unit pelaksana teknis balai veteriner di seluruh Indoneaia, serta menjadi bagian dari program surveilans rutin AI.

Menurut Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan,  kegiatan surveilans LBM sejak tahun 2009 ini berhasil memonitor kemajuan pengendalian AI, mengidentifikasi awal munculnya virus AI baru, dan mendata profil dasar pasar unggas hidup di wilayah target surveilans. 

Berdasarkan data Kementerian Pertanian angka tahunan kasus FB turun dari 2751 pada tahun 2007 ke 476 pada tahun 2018.

 

 

Sementara itu, Luuk Schoonman dari FAO ECTAD Indonesia menjelaskan bahwa kegiatan ini mampu memonitor sirkulasi virus AI baik virus H5N1 galur (clade) 2.1.3 ataupun 2.3.2 serta mendeteksi awal munculnya virus influenza baru, seperti pada surveilans virus H9N2 dan virus influenza A subtipe lainnya. 

Lanjut Fadjar, program yang ada saat ini merupakan kerjasama antara Kementan dengan FAO melalui dukungan USAID, serta partisipasi pemerintah daerah.

"Suksesnya kegiatan surveilans ini tidak lepas dari kerjasama yang baik antara lembaga/instansi Pemerintah baik pusat maupun daerah, akademisi, mitra kerja dan donor, para petugas surveilans pasar serta para penguji di laboratorium", jelas Fadjar. 

Fadjar menyadari bahwa masih ada tantangan untuk keberlanjutan surveilans LBM terutama keterlibatan semua pihak untuk berbagi perencanaan dan pelaksanaan surveilans LBM, oleh karena itu diharapkan kedepan semua pihak terkait dapat merencanakan surveilans LBM sebagai bagian dari program pencegahan, pengendalian, dan penganggulangan FB di wilayah masing-masing serta dalam rangka penguatan sistem monitoring virus FB secara online (IVM Online).

 

Reporter : Enno
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018