Rabu, 18 September 2019


Jaga Eksistensi Petani Ibukota dengan Urban Farming

21 Jun 2019, 08:43 WIBEditor : Gesha

Dengan urban farming, petani Ibukota terus mempertahankan eksistensi diri | Sumber Foto:clara

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Mendengar nama Jakarta pasti yang ada dipikiran adalah kota besar yang maju dan sarat modernisasi. Untuk memenuhi pangan, Sang Ibukota kini tetap mempertahankan pertanian melalui urban farming.

“Dulu sebelum berkembang menjadi kota besar, Jakarta adalah kampung dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani,” kata Walikota Jakarta Selatan, Marullah Matali saat acara Pra Pekan Daerah KTNA (Peda KTNA) Kota Administrasi Jakarta Selatan di Jakarta, Kamis (20/6).

Lantaran banyaknya yang menjadi petani saat itu, Jakarta dikenal sebagai Kampung Agraris. Sedangkan pusat perkotaan hanya ada di Jatinegara.

“Tidak heran kan sekarang daerah-daerah di Jakarta itu nama-namanya dari pertanian dan perkebunan. Ada daerah Kebon Kopi, Kramat Jati, Gambir, dan masih banyak lainnya. Nama-nama itu menunjukan bahwa dulunya daerah tersebut masyarakatnya melakukan kegiatan pertanian di komoditi tersebut,” jelas Marullah.

Sekarang Jakarta merupakan ibukota negara menjadi kota yang sangat maju. Lambat-laun areal pertanian tergusur dan masyarakatnya mulai beralih profesi  dari petani sebagai pekerja kantoran.

“Kampung-kampung itu mulai tergusur, berganti menjadi gedung-gedung yang tinggi nan megah. Areal pertanian pun lambat-laun mulai hilang dan sekarang berganti masyarakatnya melakukan kegiatan pertanian dengan urban farming,” terang Marullah.

Urban farming (pertanian perkotaan) merupakan kegiatan pertanian yang dilakukan di perkotaan yang tidak membutuhkan lahan yang luas.

Menurut Marullah dengan urban farming dapat menjaga eksistensi dan jati diri petani perkotaan. Selain itu, dapat kembali mengakrabkan diri kepada alam dan natural. “Yang penting kita serius menggarapnya di yang serba minimalis ini, maka konsep urban farming itu dapat dengan berjalan lancar,” ujarnya.

Butuh Penyuluh

Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Jakarta Selatan (Sudin KPKP), Wachyuni, mengatakan konsep urban farming ini sesuai dengan program yang diusung oleh Gubernur DKI Jakarta, Program Pengembangan Kewirausahaan Terpadu (PKT) dengan banyak ragamnya.

Mulai mengembangkan industri pengolahan pangan skala rumah tangga hingga berbisnis tanaman segar atau bibit, menjadi hal yang sedang digalakan saat ini.

“Makanya harus menyediakan penyuluh handal dan transfer inovasi teknologi dengan bekerjasama dengan BPTP DKI Jakarta menjadi hal utama yang dilakukan oleh Sudin KPKP Jaksel,” katanya.

Dapat dikatakan, penyuluh pertanian di Jaksel yang hanya berjumlah 17 orang merupakan penyuluh yang cukup berkompeten dan selalu memberikan penyuluhan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Tidak hanya itu berkat kerjasama yang cukup intens dengan BPTP DKI Jakarta, mampu mentransfer inovasi teknologi yang mutakir ke masyarakat ibukota.

“Makanya tidak heran kita ini (perwakilan Jaksel) selalu menjadi perwakilan asal DKI Jakarta diajang KTNA Nasional,” terang Wachyuni.

Memang menjaga eksistensi dan jati diri pertanian (petani) di ibukota tidak semudah membalikan telapak tangan.

Harus mempunyai kiat-kiat yang sesuai dengan culture masyarakatnya. “Kita lihat juga culture masyarakatnya seperti apa. Seperti di Cipedak yang terkenal itu adalah alpukatnya, makanya kita kembangkannya dengan memberikan bantuan bibit Alpukat Cipedak. Yang jelas kita harus terbuka, kompak, dan mempunyai koordinasi yang cukup intens untuk menjaga eksistensi dan jati diri petani di Jakarta. Makanya slogan kita adalah Petani Sehat dan Keren,” ungkap Wachyuni. 

Reporter : Clara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018