Wednesday, 26 February 2020


Peternak Sapi Dituntut Berkontribusi Turunkan Emisi Gas Metan

28 Jan 2020, 13:15 WIBEditor : Yulianto

Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) bekerja sama dengan Northern Territory Cattlemen’s Association (NTCA) dan Red Meat and Cattle Partnership | Sumber Foto:Ika

Keberadaan usaha peternakan terutama peternakan sapi kerap disorot karena merupakan penghasil gas metan yang digolongkan sebagai gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pelaku usaha budidaya  sapi potong dan sapi perah diharapkan dapat berperan lebih aktif dalam mendukung upaya pemerintah menurunkan emisi gas metan  penyebab pemanasan global. Langkah yang antara lain bisa dilakukan adalah dengan mengaplikasikan teknologi produksi  biogas, serta pemilihan  pakan  hijauan yang tepat.

Dalam  satu seminar  yang diadakan organisasi  Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) bekerja sama dengan Northern Territory Cattlemen’s Association (NTCA) dan Red Meat and Cattle Partnership, di Jakarta, Senin (27/1), sejumlah narasumber memaparkan betapa  keberadaan usaha peternakan sapi bisa besar pengaruhnya terhadap lingkungan ,khususnya kejadian pemanasan global.

Ilmuwan dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Panjono, mengemukakan bahwa pemanasan global adalah isu terpopuler abad ini. Keberadaan usaha peternakan terutama peternakan sapi kerap disorot karena merupakan penghasil gas metan yang digolongkan sebagai gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global.

Karena itu bisa dimengerti bila para pelaku usaha peternakan sapi sangat dituntut peran aktifnya oleh pemerintah dan masyarakat  untuk melakukan upaya-upaya nyata dalam menurunkan produksi gas metan di lingkungan peternakannya.“Sejauh ini di beberapa sentra peternakan sapi sudah berkembang usaha memproduksi gas bio dari kotoran sapi. Bahkan ada desa yang berstatus sebagai Desa Mandiri Energi,” jelas Panjono.

Agar usaha menghasilkan gas bio dari kotoran sapi makin meluas dilaksanakan di kalangan peternakan rakyat, dosen Fapet UGM ini menyarankan pemerintah bisa mengeluarkan prototipe bio digester yang cocok digunakan untuk peternakan skala kecil.

Disamping menghasilkan gas bio dari kotoran sapi, usaha menurunkan emisi gas metan bisa dilakukan dengan cara mengajak peternak sapi mengggunakan hijauan yang rendah kandungan emisi gas metannya seperti daun lamtoro dan kaliandra. “Disamping menurunkan emisi gas metan, Kandungan protein hijauan tersebut tinggi sehingga bisa meningkatkan kualitas pakan yang diberikan ke sapi,” tuturnya.

Ia  juga mengharapkan peternak bisa diedukasi cara melakukan fermentasi rumput atau hijauan yang akan diberikan ke ternaknya karena dengan cara difermentasi, rumput atau hijauan bisa menurun pula kandungan emisi gas metannya.

Senada dengan Panjono, Pebi Purwosuseno dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian, Pertanian juga menekankan pentingnya terus mensosialisasikan usaha menghasilkan gas bio di lingkungan peternakan.

Ditjen PKH sejauh ini memiliki program untuk memfasilitasi peternak dengan peralatan  memproduksi bio gas di sentra-sentra peternakan sapi. Disamping bantuan alat, peternak juga mendapat pendampingan dari Dinas peternakan setempat sehingga segala aktivitas yang dilakukan bisa terpantau.

“Dengan adanya pendampingan ini diharapkan kegiatan menghasilkan gas bio ini bisa berkelanjutan dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” ujar Pebi.

Di pedesaan, gas bio yang dihasilkan dari kandang-kandang peternak menghasilkan energi listrik untuk penerangan rumah dan kandang  serta juga bahan bakar gas yang digunakan masyarakat untuk memasak.

CEO NTCA, Ashley Manicaroos, menjelaskan bahwa peternakan sapi di Australian dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca  saat ini umumnya sudah beralih dari menggunakan diesel menjadi memanfaatkan tenaga matahari untuk menghasilkan sumber energi difarmnya. “Banyak langkah-langkah lain seperti efisiensi penggunaan pakan dan penggunaan teknologi IT dalam tata laksana pemeliharaan ternak,” katanya menjawab pers. 

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018