Friday, 10 July 2020


Menyelamatkan Peternakan di Era New Normal

23 Jun 2020, 15:43 WIBEditor : Gesha

Peternak Indonesia | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di masa Pandemi COVID 19, hampir seluruh sektor terkena getahnya. Tak terkecuali subsektor peternakan yang biasa memasok ke pasar dan horeka. Lantas bagaimanakah asosiasi dan pemerintah memandang langkah penyelamatan peternak dan subsektor peternakan di era new normal ini?

Masa transisi menuju era new normal dengan bentuk adaptasi kebiasaan baru dengan memperhatikan protokol kesehatan memang tengah dilakukan Indonesia. 

Namun subsektor peternakan yang seharusnya menjadi penopang pangan sebagai sumber protein hewani, justru masih berkutat dengan beragam permasalahan klasik bahkan nyaris tidak berujung. Seperti dominasi usaha, tingginya harga pakan, ketersediaan dan harga DOC, harga telur dan ayam yang selalu terpuruk karena over produksi dan lainnya. 

"Saat Pandemi COVID 19 muncul langsung berhadapan dengan 4 masalah utama yaitu kelebihan  produksi disaat permintaan turun drastis. Kemudian pemerintah belum (atau lambat) dalam pembelian ayam dari petani untuk kebutuhan bantuan sosial, lalu ada kenaikan harga karena terhambatnya distribusi. Hingga belum adanya kebijakan yang meringankan peternak ayam mandiri yang hingga sekarang terus mengalami kerugian," beber Ketua Forum Media Peternakan (FORMAT), Suhadi Purnomo.

Sedangkan di masa transisi menuju era new normal ini, secara umum kondisi usaha peternakan memang mengalami sedikit kenaikan dan mulai menguat bahkan membuka peluang potensi peluang usaha. "Meskipun begitu, kita juga tetap waspada dengan kondisi pertumbuhan peternakan yang hanya 2,18 persen dari rilis BPS. Dari keseluruhan sektor pertanian hanya tumbuh 0,02 persen saja. Di semester 2 nanti bahkan bisa lebih buruk," tegasnya.

Karena itu, FORMAT berinisiatif mengadakan Webinar Halal Bihalal Asosiasi Peternakan dan Kesehatan Hewan "Persiapan Masyarakat Peternakan dan Kesehatan Hewan Menghadapi Era New Normal", Selasa (23/6) bersama para asosiasi masyarakat Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

"Masing- masing asosiasi memberikan masukan  untuk strategi hadapi kehidupan normal baru di kondisi terkini dari lingkup usaha asosasi. Termasuk cara bertahan dan memberikan masukan kepada pemerintah termasuk komitmen untuk perencanaan nasional. Meski aktivitas Eko belum leluasa namun pengembangan bisnis tetap ada sehingga akan ada keseimbangan baru yang bisa tercipta dari kondisi ini," harapnya.

Bersatu Padu

Dalam halal bihalal virtual kali ini setidaknya hampir seluruh asosiasi hadir dan mengemukakan berbagai usulan dan masukan bagi pemerintah untuk bersama-sama menyelamatkan Peternakan Indonesia.

Mulai dari Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia/FMPI (Don P Utoyo), Gabungan Perusahaan Perbibitan Unggas/GPPU (Achmad Darwami), Gabungan Perusahaan Makanan Ternak/GPMT (Desianto B Utomo), Asosiasi Obat Hewan Indonesia/ ASOHI (Irawati M), Pinsar Indonesia (Eddy Wahyudin), Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional/GOPAN (Herry Darmawan), Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia/PPSKI (Teguh Boediyana), Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong/Gapuspindo (Didiek Purwanto).

Kemudian ada pula Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia/ARPHUIN (Tommy Kuncoro), Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia/HPDKI (Yudi Guntara), Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia/HIMPULI (Ade Zulkarnaen), Asosiasi Monogastrik Indonesia/AMI (Sauland Sinaga) hingga Persatuan Dokter Hewan Indonesia/PDHI (M. Munawaroh).

Diskusi berlangsung hangat dan dinamis dari masing-masing asosiasi yang memaparkan kondisi terkini dari masing-masing komoditas di subsektor peternakan. Mulai dari unggas, sapi, domba dan kambing hingga sarana prasarana produksi peternakan (sapronak) seperti pakan dan obat hewan.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita yang diundang dalam Balla bihalal virtual ini mengapresiasi upaya untuk bersama-sama menyelamatkan Peternakan Indonesia ini, tak hanya setelah COVID 19 ini tetapi juga semakin memperkuat Peternakan sebagai sumber protein hewani masyarakat 

"Di era new normal ini sekaligus menjadi jalan untuk membangun peternakan dengan lebih baik. Kita harus bersatu padu antara asosiasi dan pemerintah. Bagaimana membantu distribusi dan sarana peternakan bagi peternak agar terus bergerak, terus berproduksi agar masyarakat tidak kekurangan pangan. Ini yang harus ditempuh secara sungguh-sungguh dan menghilangkan perbedaan," pesannya.  

I Ketut mencontohkan permasalahan masih tingginya harga produksi karena tingginya harga pakan.  Bagaimana caranya membuat peternakan yang lebih efisien baik di peternak mandiri maupun di peternak perusahaan. 

Tak hanya itu, tantangan ke depan adalah ekspor produk subsektor peternakan. Berdasarkan data dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, ekspor subsektor peternakan pada Januari sampai Februari 2020 mencapai Rp1,7 triliun atau meningkat 30 persen dibandingkan ekspor pada Januari-Februari 2019 yang tercatat sebesar Rp1,3 triliun secara year on year.

"Karena itu, terima kasih untuk integrator. Kita buktikan bisa ekspor dan terus meningkat. Mari kita siapkan berbagai strategi untuk menjadi pahlawan bertempur mengalahkan COVID 19 ini," harapnya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018