Monday, 19 October 2020


Setelah Dua SE, Dirjen PKH Kirim Surat Lagi ke Pengusaha Ternak

28 Sep 2020, 11:16 WIBEditor : Yulianto

Beternak ayam kampung SenSi lebih menguntungkan | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Untuk menjaga stabilisasi harga ayam hidup dan menyelamatkan peternak rakyat, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Nasrullah telah mengeluarkan dua Surat Edaran (SE). Setelah dua SE tersebut, kini terbit lagi surat kepada pelaku usaha pada 18 September lalu.

SE pertama No. 09246T/SE/PK/230./F/08/2020 mengenai Pengurangan DOC FS Ayam Ras melalui Cutting HE, Penyesuaian Setting HE dan Afkir Dini PS Tahun 2020. SE kedua No. 9663/SE/PK.230/F/09/2020 tentang Pengurangan DOC FS bulan September 2020.

Selain dua SE tersebut, Dirjen PKH juga mengirimkan surat kepada pelaku usaha No: 18029/PK.230/F/09/2020 tentang Pengurangan DOC Final Stock (FS) Ayam Ras Pedaging Nasional. Surat terbaru ini ditujukan ke 46 perusahaan peternakan. Surat ini merupakan hasil evaluasi dua SE sebelumnya. Ada beberapa point yang disampaikan kepada pelaku usaha. Apa isinya?

Pertama, perusahaan pembibit wajib melakukan pengurangan jumlah setting HE sebesar 50 persen atau sebanyak 35.987.675 butir per minggu sesuai data SHR yang dilaporkan perusahaan pembibit dengan cara menunda setting HE ke dalam mesin setter selama 4 periode setting HE sejak 20 September - 17 Oktober 2020.

Sedangkan telur HE yang tidak diinkubasi dalam mesin setter dapat disalurkan sebagai CSR untuk bantuan masyarakat kurang mampu khususnya yang terdampak pandemi Covid-19 dan dilarang diperjualbelikan sebagai telur konsumsi, sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32/Permentan/PK.230/09/2017 Bab III pasal 13 (4) tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Kedua, dalam rangka pengurangan produksi DOC FS bulan September 2020 sebanyak 66.843.677 ekor (85?ri total surplus DOC September 2020), maka perusahaan pembibit wajib melakukan cutting HE fertil umur 19 hari sebanyak 77.293.798 butir. Setelah dikurangi dengan realisasi cutting HE per 12 September 2020, perusahaan pembibit wajib melakukan cutting HE fertil umur 19 hari sebanyak 65.919.523 butir atau 16.479.881 butir per minggu. Pelaksanaan cutting HE lanjutan dimulai sejak tanggal 19 September - 10 Oktober 2020, dengan rincian sesuai lampiran.

Ketiga, dari hasil evaluasi SE Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020, dengan ini disampaikan kembali untuk segera melakukan penyerapan live bird (LB) di Pulau Jawa bulan September 2020 sebanyak 15.075.437 ekor. Pembagian penyerapan LB internal dan eksternal perusahaan pembibit berdasarkan proporsi produksi FS yang dihasilkan masing-masing perusahaan, sesuai lampiran 1 dalam SE Dirjen PKH Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020.

Pelaksanaan afkir dini PS umur lebih dari 50 minggu bulan September 2020 sebanyak 2.200.105 ekor di Pulau Jawa dan diperluas cakupan wilayahnya dengan menambahkan sebanyak 1.000.000 ekor di luar Pulau Jawa. Ditargetkan selesai tanggal 26 September 2020 secara serempak dengan mengeluarkan jantan terlebih dahulu. Jumlah afkir PS umur lebih dari 50 minggu masing-masing perusahaan sesuai lampiran 5 dalam SE Dirjen PKH Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020.

Perusahaan pembibit GPS memastikan dan bertanggungjawab terhadap perusahaan yang telah mendapatkan distribusi PS dari perusahaan pembibit GPS yang dimaksud, untuk melakukan pengurangan jumlah setting, cutting HE dan afkir dini PS sesuai dengan kewajiban masing-masing perusahaan yang telah ditetapkan dalam surat ini dan SE Dirjen PKH Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020.

Keempat, pengawasan cutting HE dan afkir dini PS dilakukan oleh Tim Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, UPT Lingkup Ditjen PKH seluruh Indonesia, Organisasi Perangkat Daerah tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota terkait, Satgas Pangan POLRI, asosiasi perunggasan dan cross monitoring antar perusahaan pembibit.

Kelima, hasil pelaksanaan surat ini dan SE Dirjen PKH sebelumnya Nomor 09246/SE/PK.230/F/08/2020 dan Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020, dilaporkan kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak.

Keenam, perusahaan yang tidak melaksanakan kewajiban sesuai dengan surat ini dan SE Dirjen Nomor 09246/SE/PK.230/F/08/2020 serta Nomor 9663/SE/PK.230/F/09/2020 akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan dan kewenangan Kementerian Pertanian cq. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dirjen PKH, Nasrullah mengatakan, sesuai dengan tupoksi, pihaknya bertugas menangani masalah produksi, termasuk menyelamatkan peternak dari jatuhnya harga ayam hidup. Karena itu dengan keluarnya dua SE tersebut diharapkan harga ayam dan telur kembali terangkat naik.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018