Sunday, 24 October 2021


Pemerintah : Antibiotik Dilarang Keras untuk Ternak

26 Jul 2021, 16:59 WIBEditor : Gesha

Antibiotik dilarang | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --Saat ini pelaku usaha peternakan tak bisa lagi sesuka hati menggunakan antibiotika dalam aktivitas kegiatan budidayanya karena pemerintah kian ketat melakukan pengaturan termasuk menerapkan sanksi yang tegas bagi pihak-pihak yang melanggar.

Menanggapi dan mengklarifikasi berita terkait penggunaan antibiotik yang dinilai tidak tepat di salah satu media cetak nasional, Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), drh Irawati Fari dan Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Dr.drh Munawaroh MM mengemukakan bahwa antibiotika tertentu sudah lama dilarang penggunaannya oleh pemerintah.

Antibiotika Meropenem, Chloramphenicol dan Colistin sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No.9736 /2020  sudah dilarang penggunaannya secara oral, parenteral dan topikal. "Sejak itu praktis industri peternakan ayam ras pedaging (broiler) tidak ada lagi yang menggunakan jenis antibiotika tersebut," tegas mereka.

Sejauh ini pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian juga secara terus menerus telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya resistensi    anti mikrobial (termasuk didalamnya antibiotika) di Indonesia.

Diterbitkannya  Peraturan Menteri Pertanian No. 14 Tahun 2017tentang “Klasifikasi Obat Hewan” merupakan langkah tegas Pemerintah untuk menghambat laju  resistensi dan Pemerintah Pusat berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah melakukan monitoring  serta  sidak langsung kepada pabrik pakan maupun peternak agar mentaati aturan yang berlaku

Setiap obat hewan yang dimasukkan ke negara Indonesia, diproduksi maupun diedarkan oleh perusahaan obat hewan harus sudah memiliki “Nomor Pendaftaran atau Registrasi”yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertanian untuk menjamin mutu, khasiat dan keamanan obat hewan.

Antibiotik termasuk dalam kategori obat keras yang mana dalam penggunaannya harus dengan resep dokter hewan yang berwenang dan digunakan untuk tujuan terapi ( pengobatan) sesuai dengan petunjuk label pada kemasan obat dan mengikuti waktu henti obat (widthdrawal time) sesuai masing-masing obat.

Peran Dokter 

Lebih lanjut drh Munawaroh menjelaskan, penggunaan antibiotik terus dikurangi dari waktu ke waktu seiring dengan makin ketatnya peraturan yang ada dalam importasi antibiotik dan sudah banyak peternakan ayam yang tidak lagi menggunakan antibiotik.

"Berbagai produk pengganti antibiotik sebagai imbuhan pakan maupun air minum sudah banyak di daftarkan oleh perusahaan obat hewan seperti sediaan herbal, probiotik, acidifierdan  enzim," jelasnya 

Dalam penjelasan tertulis dipaparkan pula mengenai peran dokter hewan dalam mendukung kegiatan usaha peternakan. Khususnya posisi Technical Service (TS) yang bekerja pada industri obat hewan selama ini  berperan membantu peternak dalam menjaga kesehatan hewan ternaknya. Tenaga TS tidak semua berprofesi Dokter Hewan, ada juga yang TS yg bukan Dokter Hewan.

Dokter hewan yang bekerja sebagai Technical Service (TS) berperan aktif sebagai tenaga profesi medik veteriner dari perusahaan obat hewan untuk membantu mendiagnosa penyakit, memberikan solusi medis sesuai keahlian dan sumpahnya.

"Perusahaan obatnya dalam hal ini terhimpun dalam Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), sedangkan Dokter hewannya berhimpun di bawah Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI)," katanya.

Dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari dokter hewan terikat oleh aturan/ regulasi teknis serta kode etik profesi kedokteran yang wajib dipatuhi seluruh dokter hewan.  "Hal ini juga berlaku terhadap dokter hewan profesi. Karenanya bila ada  penyimpangan di lapangan itu merupakan tanggung jawab dari oknum dokter hewan bersangkutan," tambahnya.

Karena itu, ASOHI dan PDHI memiliki kode etik yang harus diterapkan anggotanya ,dengan demikian perusahaan obat hewan yang memiliki tenaga dokter hewan yang bertugas  sebagai TS akan  memastikan bahwa para TS tersebut mematuhi kode etik yang berlaku dalam menjalankan tugasnya.

Termasuk, dalam melakukan promosi pengenalan produk obat hewan, perusahaan obat hewan dapat melakukan baik berbentuk seminar, lokakarya atau workshop di berbagai tempat  sesuai dengan target sasaran dari kegiatan tersebut,

Reporter : Ika Rahayu
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018