Tuesday, 17 May 2022


Wabah PMK, Peternak Tak Perlu Panic Selling

11 May 2022, 08:48 WIBEditor : Gesha

Peternak sapi dihimbau tidak menjual murah | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tengah menjadi sorotan. Peternak sapi pun tengah ketar ketir ketakutan ternaknya terkena penyakit serupa. Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) pun meminta agar seluruh Peternak Sapi/Kerbau untuk tidak panik menghadapinya. 

"Tidak perlu melakukan panic selling (menjual secara panik dengan harga murah)," tegas Ketua umum PPSKI, drh. Nanang Purus Subendro.  Dirinya melanjutkan, tingkat kematian pada hewan dewasa relatif rendah (1–5 persen), tetapi pada sapi, domba, dan babi berusia muda cukup tinggi (hingga 20 persen). 

Daripada panik, drh. Nanang menyarankan peternak untuk melakukan langkah-langkah pencegahan serta pengendalian dengan meningkatkan Biosecurity di peternakan, mulai dari, tidak memasukkan ternak baru terutama dari daerah wabah, tidak mengunjungi peternakan lain terutama peternakan-peternakan di daerah wabah. 

Termasuk, membatasi lalu lintas orang yang keluar masuk lokasi kandang, tempat pakan dan minum tidak bercampur hingga penyemprotan kandang, kendaraan, peralatan dan perlengkapan kerja dengan desinfektan yang efektif. Peternak juga sebaiknya meningkatkan imunitas ternak dengan memperbaiki pakan dan terapi supportif seperti vitamin dan mineral agar ternak mampu melawan virus PMK.

"PMK bukan merupakan penyakit zoonosis/menular dari hewan dan manusia namun sangat mudah menular ke sesama hewan. Partikel virus ditemukan pada udara yang dihembuskan hewan terinfeksi, air liur, air susu, urine, tinja, semen, cairan dari vesikel, hingga cairan amnion dari janin domba teraborsi. Virus PMK dapat masuk ke tubuh hewan peka melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi (terutama melalui aerosol) dan dengan benda-benda terkontaminasi (seperti pakaian, sepatu, dan kendaraan), " jelasnya. 

Drh. Nanang juga meminta peternak untuk segera melaporkan jika ada ternak yang menunjukkan gejala klinis mengarah pada PMK pada petugas peternakan setempat. Adapun ciri khas penyakit ini adalah munculnya lepuh (vesikel) dan/atau erosi kulit di bagian hidung, lidah, bibir, di dalam rongga mulut (baik di gusi maupun pipi bagian dalam), di sela kuku, dan di puting.

Tanda klinis lain yang sering ditemukan yakni demam (sekitar 40 °C), depresi, hipersalivasi (keluarnya air liur secara berlebihan), penurunan nafsu makan, berat badan, dan produksi susu, serta hambatan pertumbuhan. 

Reporter : Nattasya
Sumber : PPSKI
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018