Monday, 13 April 2026


Jawab Tuntutan Pasar, Indonesia Kini Punya Panduan Resmi Budidaya Ayam Petelur Cage-Free

27 Mar 2026, 17:50 WIBEditor : Herman

Buku Panduan Budidaya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial

TABLOIDSINARTANI.COM,  Jakarta – Tren global yang semakin menaruh perhatian pada kesejahteraan hewan dan keamanan pangan mulai memengaruhi arah industri perunggasan di Indonesia.

Menjawab perubahan tersebut, sebuah buku panduan berjudul Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia resmi diterbitkan pada Selasa, 1 Desember 2025.

Buku ini ditulis Sandi Dwiyanto dan Mutzu Huang dari Lever Foundation dengan tujuan memberikan panduan praktis bagi pelaku industri dalam mengembangkan produksi telur cage-free atau telur dari ayam yang dipelihara tanpa sangkar.

Kehadiran buku ini tidak lepas dari meningkatnya komitmen perusahaan pangan global dan nasional terhadap penggunaan telur cage-free.

Hingga saat ini, lebih dari 2.300 perusahaan pangan di dunia telah menyatakan komitmen untuk beralih menggunakan 100 persen telur cage-free dalam rantai pasok mereka.

Di Indonesia, beberapa perusahaan seperti SuperIndo, Swiss-Belhotel, dan Ismaya Group termasuk yang telah menyatakan komitmen tersebut.

Menurut Sandi Dwiyanto, dalam beberapa tahun terakhir permintaan terhadap produk pangan yang lebih etis, aman, dan berkelanjutan terus meningkat. Hal ini mendorong perusahaan-perusahaan pangan untuk mulai mengubah kebijakan pengadaan bahan baku, termasuk telur.

“Perusahaan pangan global maupun domestik kini mulai beralih ke penggunaan telur 100 persen cage-free dalam rantai pasok mereka. Tren ini menjadi sinyal penting bagi industri perunggasan untuk mulai mempersiapkan diri,” ujar Dwiyanto.

Momentum perubahan tersebut juga diperkuat kebijakan pemerintah. Pada akhir 2025, Kementerian Pertanian menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025 tentang Kesejahteraan Hewan yang menjadi regulasi pertama di Indonesia yang secara khusus mengatur isu tersebut.

Dwiyanto menambahkan bahwa buku ini tidak hanya membahas konsep teknis, tetapi juga memuat pengalaman lapangan, praktik manajemen, serta analisis ekonomi yang dapat menjadi acuan bagi pelaku industri.

“Melalui buku ini, kami ingin menghadirkan panduan yang komprehensif, mulai dari konsep dan prinsip teknis hingga studi kasus nyata dari peternak di Indonesia maupun di negara lain,” katanya.

Buku yang diterbitkan bekerja sama dengan Pertanian Press ini disusun dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Pertanian, akademisi, asosiasi industri, perusahaan integrasi, hingga para peternak.

Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng., menilai buku tersebut hadir pada momentum yang tepat ketika industri perunggasan global tengah mengalami perubahan besar.

Menurutnya, isu kesejahteraan hewan, keamanan pangan, dan keberlanjutan kini menjadi faktor penting dalam sistem produksi pangan dunia.

“Perubahan paradigma menuju sistem produksi yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan merupakan suatu keniscayaan,” tulis Ali Agus dalam kata pengantar buku tersebut.

Ia mencontohkan bahwa sejumlah kawasan seperti Eropa telah meninggalkan sistem battery cage, sementara negara-negara seperti Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan, serta beberapa negara di ASEAN juga bergerak menuju sistem yang lebih ramah terhadap kesejahteraan hewan.

“Indonesia perlu memposisikan diri sebagai bagian dari transformasi ini, bukan sekadar mengikuti,” ujarnya.

Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) sekaligus anggota Komisi IV DPR RI, Heri Dermawan, juga mengapresiasi penerbitan buku ini.

Ia menilai buku tersebut dapat menjadi referensi teknis yang sangat dibutuhkan oleh pelaku industri perunggasan di tengah dinamika pasar global.

“Perubahan dalam industri pangan global mendorong kita untuk memikirkan kembali bagaimana praktik budi daya dapat menjadi lebih berkelanjutan dan tetap menjaga daya saing nasional,” kata Heri.

Buku ini, lanjutnya, memberikan gambaran komprehensif mulai dari tren global, standar kesejahteraan hewan, manajemen teknis, hingga analisis ekonomi, termasuk studi kasus peternakan di Tiongkok dan analisis bisnis di Indonesia.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami. Ia menilai meningkatnya perhatian dunia terhadap kesejahteraan hewan membuka peluang baru bagi industri perunggasan Indonesia.

“Perubahan ini membuka peluang bagi sektor perunggasan Indonesia untuk mengakses segmen pasar baru, baik di dalam negeri maupun dalam rantai pasok global,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa proses transisi menuju sistem cage-free harus tetap mempertimbangkan efisiensi produksi serta kondisi pasar domestik agar dapat berjalan secara realistis dan berkelanjutan.

Dorongan terhadap penggunaan telur cage-free juga datang dari konsumen. Survei yang dilakukan Lever Foundation bersama GMO Research pada Juli 2025 menunjukkan perubahan preferensi masyarakat.

Sebanyak 72 persen konsumen menilai hotel, restoran, supermarket, dan perusahaan makanan seharusnya hanya menggunakan telur bebas sangkar dalam rantai pasok mereka. Selain itu, sebanyak 55 persen konsumen mengaku lebih cenderung memilih merek makanan yang menggunakan 100 persen telur cage-free.

Buku Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia kini tersedia secara gratis dan dapat diakses melalui website Pertanian Press atau melalui tautan https://epublikasi.pertanian.go.id/pertanianpress/catalog/book/202⁠.

Kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi referensi praktis sekaligus strategis bagi para pemangku kepentingan, khususnya peternak dan pelaku industri perunggasan, dalam memahami peluang pasar serta mengembangkan sistem produksi yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing.

Lever Foundation merupakan organisasi non-pemerintah global dengan tim yang beroperasi di Asia, Eropa, Amerika Utara, dan Amerika Latin.

Organisasi ini bekerja sama dengan berbagai perusahaan untuk meningkatkan praktik pengadaan pangan yang lebih manusiawi, aman, dan berkelanjutan, khususnya dalam pengembangan sumber protein hewani serta sistem pangan berbasis nabati.

Reporter : Eko
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018