
Uji Coba Rumah Ikonik di Subang Ubah Limbah Ternak jadi Cuan
TABLOIDSINARTANI.COM, Subang — Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satunya melalui pemanfaatan limbah peternakan menjadi kompos atau pupuk organik lewat konsep Rumah Ikonik atau Integrasi Kompos Organik (IKONIK).
Program ini mulai diuji coba Kelompok Tani Ternak Mandiri Jaya, Kabupaten Subang, sebagai model percontohan yang diharapkan dapat direplikasi secara luas di berbagai daerah.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menjelaskan bahwa pendekatan ini dirancang untuk menjawab tiga persoalan utama sekaligus: penanganan limbah, pengurangan ketergantungan pada pupuk kimia, serta peningkatan pendapatan peternak.
“Limbah itu bukan masalah, tetapi potensi. Jika diolah menjadi kompos, ini bisa memperbaiki kualitas tanah sekaligus menambah penghasilan peternak,” ujarnya saat ditemui di Subang beberapa waktu lalu.
Menurutnya, Rumah Ikonik akan menjadi pusat pengolahan kompos terpadu yang mudah dikenali dan diterapkan oleh masyarakat. Program ini juga akan diuji secara terukur melalui perbandingan penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia di lapangan.

“Kami ingin ada bukti nyata bahwa kompos organik mampu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, sehingga pertanian menjadi lebih efisien dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dukungan juga datang dari sektor swasta. Kepala Kemitraan dan Hubungan Eksternal PT Global Dairi Alami, Rizal, menyatakan kesiapan perusahaannya untuk menjadi motor penggerak implementasi program tersebut.
Ia menyebut konsep Rumah Ikonik sejalan dengan program Desa Inovasi yang telah dijalankan perusahaan, termasuk pengembangan kebun jagung masyarakat yang terintegrasi dalam ekosistem agribisnis.
“Kami sudah menjalankan Desa Inovasi dengan kebun jagung masyarakat yang terhubung dengan ekosistem MilkLife. Hasilnya sudah berputar secara ekonomi dan memberi tambahan pendapatan bagi warga,” jelasnya.
Rizal menambahkan, dalam satu siklus tanam, petani mampu memperoleh keuntungan bersih yang stabil jika pengelolaan dilakukan secara kolektif. Ke depan, program ini juga berpotensi diperluas ke sektor hortikultura dan perkebunan.

Integrasi limbah peternakan menjadi pupuk organik dinilai akan semakin memperkuat ekosistem tersebut. Selain menekan biaya produksi, langkah ini juga menjaga produktivitas lahan.
“Dengan pupuk organik dari limbah ternak, sistem pertanian jadi lebih efisien dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ternak Mandiri Jaya, Sarim, mengaku kelompoknya telah merasakan langsung manfaat dari pengolahan limbah ternak.
“Kami sudah membuktikan limbah ternak bisa jadi sumber penghasilan tambahan. Harapannya program ini bisa terhubung dengan Desa Inovasi agar manfaatnya makin luas,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan untuk menjaga kualitas produk pupuk organik yang dihasilkan.
Ke depan, program Rumah Ikonik diharapkan menjadi solusi konkret dalam mengatasi persoalan limbah sekaligus memperkuat ekonomi petani dan peternak. Integrasi antara pengolahan limbah, pengembangan kebun jagung, dan Desa Inovasi digadang-gadang menjadi model baru pertanian berkelanjutan dari hulu hingga hilir.