Saturday, 17 October 2026


Harga Telur Dibawah Acuan, Pemerintah Wajibkan Dapur MBG Serap Telur Peternak

13 May 2026, 10:57 WIBEditor : herman

Telur Ayam

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pemerintah bergerak cepat merespons turunnya harga telur ayam ras di tingkat peternak yang terjadi di sejumlah sentra produksi nasional. Melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah berupaya mengembalikan harga telur ke level yang melindungi peternak rakyat sekaligus tetap menjaga keterjangkauan bagi masyarakat.

Langkah cepat tersebut dibahas dalam rapat koordinasi stabilisasi harga dan pasokan telur ayam ras yang digelar di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta.

Rapat melibatkan Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional (Bapanas), Badan Gizi Nasional (BGN), asosiasi peternak, koperasi, hingga pelaku usaha perunggasan.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan pemerintah tidak tinggal diam melihat harga telur di tingkat peternak turun di bawah harga acuan pemerintah.

“Tujuan rapat hari ini membahas beberapa hal khususnya terkait stabilisasi harga telur di tingkat peternak, yang belakangan ini harganya memang agak sedikit turun di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah,” ujar Agung.

Menurut Agung, koperasi dan asosiasi peternak telah sepakat menjaga harga telur agar kembali mendekati harga acuan pemerintah di tingkat produsen atau on farm sebesar Rp26.500 per kilogram.

“Teman-teman koperasi dan asosiasi sepakat menjaga agar harga ini menuju pada harga acuan tingkat produsen atau on farm yang telah ditetapkan Bapanas yaitu Rp26.500 per kilogram,” katanya.

Agung juga mengungkapkan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, telah menginstruksikan langkah koreksi harga dilakukan secepat mungkin.

“Menteri Pertanian selaku Kepala Badan Pangan Nasional memerintah kepada kami untuk segera melakukan tindakan koreksi. Besok kami meminta agar harga di tingkat peternak itu sudah naik menuju harga acuan. Tentu Satgas Pangan dan Satgas Stabilisasi Harga juga melakukan pemantauan,” tegasnya.

Pemerintah menilai kondisi produksi telur nasional saat ini masih sangat kuat. Pada 2026, produksi telur diproyeksikan mencapai sekitar 7,3 juta ton, sementara kebutuhan nasional berada di kisaran 6,4 juta ton.

Menurut Agung, peningkatan produksi dipicu tingginya investasi di sektor ayam petelur dan meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat, termasuk untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kenaikan ketersediaan telur year-on-year cukup tinggi, sekitar 30 persen karena ada minat peternak-peternak baru akibat program MBG,” ujarnya.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pemerintah segera menerbitkan langkah konkret untuk menjaga harga telur di tingkat produsen.

“Kami akan mengeluarkan edaran pembelian harga telur di tingkat produsen dan itu harus dipatuhi,” kata Ketut Astawa.

Pemerintah juga akan memperketat pengawasan rantai distribusi agar harga di tingkat peternak tidak terus tertekan oleh permainan rantai pasok.

“Middleman ini harus kita tata agar tidak berulang kondisi seperti ini,” ujarnya.

Selain pengawasan distribusi, pemerintah turut memperkuat dukungan melalui penyaluran jagung pakan serta pengawasan lapangan bersama Satgas Pangan.

Di sisi lain, Badan Gizi Nasional memastikan Program Makan Bergizi Gratis menjadi instrumen penting dalam menyerap produksi telur peternak rakyat.

Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran BGN, Brigjen (Purn) Suardi Samiran, menegaskan setiap dapur MBG wajib membeli telur dari peternak di wilayah sekitar.

“Setiap SPPG wajib menyerap telur dari peternak di sekitarnya. Selain terkait kebutuhan gizi, kebijakan ini guna meningkatkan ekonomi daerah,” kata Suardi.

Langkah pemerintah tersebut mendapat respons positif dari pelaku usaha dan asosiasi peternak.

Ketua Umum Gabungan Organisasi Perunggasan Nasional (GOPAN), Herry Dermawan, menilai harga telur saat ini tidak mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya.

“Harga hari ini bukan harga asli. Harga telur sangat sensitif terhadap isu,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional (PLN), Musbar Mesdi, berharap penyerapan telur melalui program MBG terus diperkuat agar harga di tingkat peternak tetap stabil.

“Kami berharap penyerapan telur oleh MBG ditingkatkan karena sekarang ini masih sedikit. Selain itu, ke depannya harga telur jangan di bawah Rp25.000,” katanya.

Reporter : Eko
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018