
Bursa Hewan Qurban ke-24 di Bogor hadir lebih modern dengan fasilitas timbang langsung dan pemeriksaan kesehatan hewan ketat.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor – Bursa Hewan Qurban ke-24 di Bogor hadir lebih modern dengan fasilitas timbang langsung dan pemeriksaan kesehatan hewan ketat.
Bursa Hewan Qurban (BHQ) ke-24 yang digelar di kawasan BRMP PKH Bogor kembali menjadi sorotan warga menjelang Idul Adha 2026.
Tak sekadar menjadi tempat transaksi jual beli hewan kurban, lokasi ini kini disebut sebagai salah satu bursa hewan kurban paling modern karena menghadirkan fasilitas timbangan digital, pemeriksaan kesehatan ketat, hingga edukasi langsung kepada masyarakat.
Setiap sore, area bursa terlihat ramai dipadati pengunjung.
Mulai dari calon pembeli, keluarga, hingga warga yang sekadar berjalan santai sambil melihat deretan sapi dan kambing kurban.
Suasana sejuk khas Kota Bogor membuat lokasi ini perlahan berubah menjadi destinasi edukasi sekaligus wisata musiman yang menarik perhatian masyarakat.
Kepala Pusat BRMP PKH Agus Susanto mengatakan, Bursa Hewan Qurban kini bukan hanya tempat jual beli ternak, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat mengenai pentingnya memilih hewan kurban yang sehat dan sesuai syariat.
“Alhamdulillah sekarang menjadi destinasi. Banyak pejalan kaki maupun tamu yang datang melihat. Ini memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anak maupun orang tua,” ujar Agus saat ditemui di lokasi.
Menurut Agus, konsep bursa modern sengaja dikembangkan agar masyarakat semakin memahami standar perdagangan hewan kurban yang sehat dan profesional.
Salah satu fasilitas unggulan yang paling menarik perhatian adalah adanya timbangan untuk mengecek bobot hewan secara langsung.
Fasilitas ini memungkinkan calon pembeli mengetahui berat pasti sapi atau kambing yang akan dibeli.
Selama ini, transaksi hewan kurban di banyak tempat masih menggunakan sistem perkiraan ukuran tubuh tanpa data bobot yang jelas.
“Insya Allah harga di sini lebih murah. Tetapi yang paling penting adalah adanya dialog antara pembeli dan penjual. Kami juga menyediakan timbangan supaya masyarakat tahu berapa bobot hewan yang dibeli,” katanya.
Agus mengakui budaya jual beli hewan kurban berbasis timbangan memang belum sepenuhnya diterapkan di Indonesia.
Namun pihaknya ingin mulai memperkenalkan sistem perdagangan ternak yang lebih modern dan transparan.
“Nanti ke depannya peternakan kita harus lebih modern, sudah berbasis timbangan yang pasti. Walaupun selama ini masih banyak penjualan berdasarkan perkiraan ukuran tubuh, tapi sekarang pembeli sudah bisa melihat langsung bobot hewannya,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada transparansi harga dan bobot, BRMP PKH juga menaruh perhatian besar terhadap kesehatan hewan kurban.
Seluruh ternak yang masuk ke area bursa diperiksa lebih dulu oleh dokter hewan sebelum diperbolehkan dijual kepada masyarakat.
Agus menegaskan langkah ini penting untuk mencegah penyebaran penyakit menular pada hewan ternak, terutama menjelang tingginya lalu lintas perdagangan kurban.
“Kalau ada penyakit menular seperti orf atau luka di mulut, itu harus dipisahkan. Karena walaupun tidak mematikan, penyakit itu bisa melemahkan hewan dan merugikan peternak maupun pedagang,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bogor Dody Ahdiat memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Bursa Hewan Qurban yang sudah berlangsung selama 24 tahun tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi contoh ideal bagi pengelolaan lapak hewan kurban di wilayah lain.
“Kami mengucapkan terima kasih karena kegiatan Bursa Hewan Qurban ini sudah berjalan 24 tahun. Ini luar biasa dan menjadi contoh model untuk lapak-lapak hewan kurban di Kota Bogor,” ujar Dody Ahdiat.
Ia mengatakan, seluruh hewan yang dijual di lokasi dipastikan memenuhi syarat kesehatan dan syariat Islam sehingga masyarakat bisa membeli dengan rasa aman dan nyaman.
Dody Ahdiat juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Bogor tengah menyiapkan regulasi baru terkait penjualan hewan kurban.
Aturan tersebut nantinya mencakup sistem lalu lintas hewan, tata cara penjualan, hingga pengelolaan kandang dan penyimpanan ternak.
“Sekarang memang belum semuanya terdeteksi karena belum ada regulasi yang kuat. Tahun depan kami akan membentuk tim kecil untuk membuat aturan penjualan hewan kurban dan belajar dari sistem yang sudah diterapkan di sini,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala BRMP Prof Fadjry Djufry memastikan seluruh hewan kurban yang diperjualbelikan di Bursa Hewan Qurban telah mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
Dengan begitu, masyarakat mendapatkan jaminan bahwa hewan yang dibeli bebas dari penyakit berbahaya.
“Kami ingin memastikan semua hewan yang dijual di sini bebas dari penyakit seperti PMK, antraks, LSD, dan penyakit zoonosis lainnya,” tegas Fadjry.
Menurutnya, pengawasan terhadap lalu lintas hewan kurban sangat penting karena banyak ternak yang masuk dari luar daerah maupun luar provinsi.
Untuk itu, pemerintah berencana membuat checkpoint pemeriksaan hewan yang masuk ke Kota Bogor mulai tahun depan.
“Kalau ada checkpoint, semua hewan yang masuk bisa dicek kesehatannya sehingga kita bisa memastikan benar-benar bebas penyakit,” katanya.
Tak hanya itu, BRMP juga ingin mendorong para pelaku UMKM penjual hewan kurban agar memiliki standar pengelolaan yang lebih baik.
Mulai dari kebersihan kandang, kesehatan hewan, hingga sistem penjualan yang transparan.
Dengan konsep modern, fasilitas lengkap, pengawasan kesehatan ketat, dan edukasi terbuka untuk masyarakat, Bursa Hewan Qurban ke-24 di Bogor kini menjadi wajah baru perdagangan hewan kurban yang lebih profesional, sehat, dan terpercaya di Indonesia.