Wednesday, 21 October 2026


Wujudkan Kemandirian Susu, Pemerintah Siapkan Tiga Program Besar

06 Jun 2026, 20:47 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah bertekad Hari Susu Nisantara (HSN) tahun 2026 menjadi  momentum mewujudkan kemandirian susu nasional. Untuk mewujudkan pemerintah melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian menyiapkan tiga program besar.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Agung Suganda mengakui, saat ini konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sekitar 17,76 liter per kapita per tahun, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara ASEAN lainnya. Di sisi lain, total populasi sapi perah sekitar 540 ribu ekor.

Perinciannya, 85 persen dipelihara peternak rakyat dengan kepemilikan dibawah 50 ekor, 10 persern peternakan komersial menengah dengan populasi 50-1000 ekor, dan hanya 5 persen  peternakan korporasi/mega farm dengan populasi di atas 1000 ekor. 

Dengan rata-rata produksi susu sebanyak 16 liter per ekor per hari, produksi susu segar secara nasional baru mencapai sekitar 1 juta ton atau hanya memenuhi sekitar 20 persen dari kebutuhan susu nasional.

“Selebihnya kita masih impor sekitar 3,7 juta ton  atau 3 setara susu segar dengan nilai sekitar 25 triliun rupiah per tahun,” katanya saat hari Susu Nusantara (HSN) yang diselenggarakan di Kebun Binatang Ragunan, Sabtu (6/6). Pemerintah Indonesia telah menetapkan HSN tiap tanggal 1 juni bertepatan dengan Hari Susu Dunia.

Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan sektor persusuan nasional.  Tantangan yang dihadapi saat ini antara lain: masih kurangnya jumlah indukan sapi perah, ratarata produksi susu masih rendah, sebagian besar peternakan rakyat skala kecil.

Tantangan lainnya, keterbatasan lahan, dan iklim/cuaca yang kurang cocok untuk sapi perah serta tingginya impor bahan baku susu. “Dengan semangat optimisme, kita dapat melihat bahwa dibalik tantangan tersebut terdapat peluang yang harus kita manfaatkan,” katanya.

Agung menegaskan, pihaknya mempunyai tekad membangun kemandirian susu nasional. Untuk mencapai tujuan tersebut, Ditjen PKH terus menjalankan tiga program besar. Pertama, memperkuat regulasi percepatan peningkatan produksi dan penyerapan susu segar.

“Saat ini pemerintah sedang melakukan finalisasi  Rancangan Peraturan Presiden tentang Percepatan Peningkatan Produksi Susu sebagai  4 fondasi yang kuat bagi pengembangan industri persusuan nasional,” tuturnya.

Kedua, meningkatkan populasi dan produktivitas sapi perah. Kementerian Pertanian terus mendorong pihak swasta/mitra PKH untuk melakukan impor indukan sapi perah yang kemudian bermitra dengan koperasi dan peternak rakyat.

“Beberapa rencana investasi peternakan sapi perah terintegrasi baik oleh investor luar maupun nasional terus kami fasilitasi sampai proses impor sapi perah nya nanti,” katanya.

Selain investasi swasta, tahun ini Ditjen PKH mendapatkan tugas untuk membangun peternakan sapi perah terintegrasi di luar pulau Jawa. “Semoga dalam waktu dekat ini kita dapat menyaksikan pelaksanaan Groundbreaking pembangunan peternakan sapi perah baik yang akan dilakukan oleh swasta maupun pemerintah,” tuturnya.

 Untuk meningkatkan produktivitas, Ditjen PKH terus melakukan perbaikan mutu genetik melalui inseminasi buatan dan embrio transfer, peningkatan kualitas pakan dan manajemen pemeliharaan serta pengendalian penyakit reproduksi dan menular strategis.

Ketiga, mempercepat hilirisasi dan meningkatkan konsumsi susu nasional. Pemerintah menginginkan susu segar dalam negeri memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, memiliki pasar yang lebih luas.

“Bahkan menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi  5 masyarakat, termasuk melalui Program Makan Bergizi Gratis dan berbagai gerakan minum susu nasional,” katanya.

Untuk menjalankan ketiga program besar tersebut, pemerintah khususnya Ditjen PKH tidak akan mampu bekerja sendiri. Karena itu, kata Agung, pihaknya mengajak seluruh pihak antara lain pemerintah daerah, perguruan tinggi, perusahaan mega farm, koperasi, industri pengolahan susu, dan para peternak sapi perah. 

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018