Wednesday, 15 July 2026


Kerap Dianggap Menyiksa Hewan, Ini Fakta di Balik Adu Domba Garut

17 Jun 2026, 11:09 WIBEditor : herman

Seni Ketangkasan Domba Garut (SKDG)

TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang --- Seni ketangkasan Domba Garut yang selama ini kerap disalahpahami sebagai praktik yang mengabaikan kesejahteraan hewan, dipastikan tetap mengedepankan prinsip animal welfare atau kesejahteraan hewan.

Selain menjadi atraksi budaya yang sarat nilai seni, tradisi ini juga dinilai berperan penting dalam menjaga keberlangsungan dan pengembangan plasma nutfah Domba Garut sebagai salah satu kekayaan genetik ternak Indonesia.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan bahwa seni ketangkasan Domba Garut bukan sekadar ajang adu kekuatan, melainkan bagian dari warisan budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat Jawa Barat.

"Kami ingin mensosialisasikan kepada masyarakat luas bahwa seni ketangkasan Domba Garut sangat memperhatikan aspek kesejahteraan hewan. Kegiatan ini memiliki nilai budaya yang sangat kuat dan menjadi salah satu alasan mengapa Domba Garut dapat terus bertahan, berkembang, dan dilestarikan hingga saat ini," ujar Agung saat membuka ndo Livestock Grand Championship (ILGC) di kawasan Nice PIK 2, Tangerang.

Menurutnya, berbagai aturan dalam pelaksanaan seni ketangkasan telah dirancang untuk memastikan keselamatan hewan tetap terjaga. Salah satunya adalah pembatasan jumlah benturan kepala yang diperbolehkan selama pertandingan sesuai dengan kemampuan fisik masing-masing domba.

Selain itu, struktur anatomi kepala Domba Garut juga dinilai memiliki karakteristik yang membuat benturan tidak menimbulkan cedera serius. Dalam pelaksanaannya, setiap pertandingan diawasi secara ketat untuk memastikan tidak ada luka maupun lecet yang dialami hewan.

"Penilaian dalam seni ketangkasan tidak hanya berdasarkan kekuatan dan daya tahan domba, tetapi juga memperhatikan unsur keserasian, keindahan, serta nilai seni yang ditampilkan," jelasnya.

Senada dengan itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI), Yudi Guntara Noor, mengatakan bahwa aturan seni ketangkasan Domba Garut saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu.

Ia menjelaskan, pada masa lampau penentuan pemenang lebih banyak didasarkan pada kemampuan bertahan hingga salah satu domba menyerah. Namun seiring meningkatnya kesadaran terhadap kesejahteraan hewan, HPDKI melakukan berbagai pembaruan regulasi.

"Domba Garut merupakan plasma nutfah yang sangat berharga. Karena itu kami tidak ingin ada domba yang mengalami cedera atau luka akibat kegiatan ini," kata Yudi.

Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi ke dalam beberapa kelas berdasarkan bobot badan. Selisih berat antar domba yang bertanding juga dibatasi agar pertandingan berlangsung seimbang dan aman.

Yudi mengungkapkan bahwa unsur benturan kepala hanya menjadi bagian kecil dari keseluruhan penilaian. Sebagian besar penilaian justru berfokus pada kondisi kesehatan, postur tubuh, keserasian bentuk fisik, gaya berjalan, hingga keberanian hewan.

"Penilaian tidak semata-mata melihat pukulan atau benturan kepala. Mayoritas penilaian berasal dari aspek kesehatan, penampilan, dan karakteristik domba itu sendiri," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tidak ada unsur pemaksaan terhadap hewan selama pertandingan berlangsung. Pemilik maupun pendamping tidak diperbolehkan menyentuh atau memaksa domba untuk beradu. Hewan hanya dapat diberikan semangat dari jarak tertentu, sementara wasit memiliki kewenangan penuh untuk menghentikan pertandingan apabila ditemukan potensi yang membahayakan.

Selain bernilai budaya, Domba Garut juga memiliki potensi ekonomi yang besar bagi sektor peternakan nasional. Agung Suganda menjelaskan bahwa salah satu keunggulan Domba Garut adalah kemampuan reproduksinya yang tinggi.

"Domba Garut mampu melahirkan lebih dari satu anak dalam satu kelahiran, bahkan bisa mencapai dua hingga tiga ekor. Ini menjadi keunggulan yang sangat penting dalam pengembangan peternakan," katanya.

Keunggulan tersebut kemudian dimanfaatkan melalui program persilangan dengan jenis domba lain yang memiliki pertumbuhan cepat, bobot tubuh besar, dan produksi daging tinggi. Hasil persilangan diharapkan mampu menghasilkan bibit unggul yang memiliki produktivitas tinggi sekaligus kemampuan reproduksi yang baik.

"Dengan kombinasi berbagai keunggulan tersebut, kita dapat menghasilkan domba unggul yang cepat tumbuh, berbobot besar, dan mampu menghasilkan keturunan lebih banyak. Ini menjadi salah satu potensi besar untuk mendukung pengembangan peternakan nasional," pungkas Agung.

Reporter : Eko
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018