Thursday, 10 September 2026


Kongres XIV GPPU Tegaskan Pembibitan sebagai Arsitek Industri Perunggasan Nasional

24 Jul 2026, 05:36 WIBEditor : Gesha

Bukan sekadar menghasilkan DOC, pembibitan kini ditegaskan sebagai penentu masa depan industri perunggasan nasional di Kongres XIV GPPU.

TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang Selatan – Bukan sekadar menghasilkan DOC, pembibitan kini ditegaskan sebagai penentu masa depan industri perunggasan nasional di Kongres XIV GPPU.

Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) menegaskan sektor pembibitan menjadi fondasi utama pembangunan industri perunggasan nasional.

Penegasan tersebut disampaikan dalam Kongres XIV GPPU yang berlangsung di DoubleTree by Hilton Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, pada 22–23 Juli 2026.

Mengusung tema "Pembibitan sebagai Arsitek Industri Perunggasan Nasional", kongres menjadi momentum memperkuat sektor hulu melalui regenerasi kepemimpinan, peluncuran buku 55 tahun GPPU, hingga seminar nasional yang membahas strategi memperkuat industri perunggasan menghadapi tantangan global.

Ketua Umum GPPU periode 2022–2026 Achmad Dawami mengatakan pembibitan bukan sekadar menghasilkan Day Old Chick (DOC), tetapi menjadi titik awal yang menentukan kualitas seluruh rantai produksi perunggasan.

"Pembibitan adalah titik awal seluruh rantai nilai industri perunggasan. Di era modern, sektor pembibitan dituntut terus beradaptasi melalui inovasi genetika, digitalisasi breeding, penguatan biosekuriti, serta penerapan prinsip keberlanjutan dan kesejahteraan hewan. Ketika sektor hulu kuat, seluruh rantai industri akan tumbuh lebih sehat dan berdaya saing," ujarnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan besarnya peran subsektor perunggasan terhadap penyediaan protein hewani nasional.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), populasi ayam ras pedaging Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 3,2 miliar ekor, sedangkan populasi ayam ras petelur mencapai sekitar 390 juta ekor.

Sementara itu, produksi daging ayam ras nasional telah melampaui 4 juta ton per tahun, sedangkan produksi telur ayam ras mencapai lebih dari 6,5 juta ton.

Angka tersebut menjadikan daging ayam dan telur sebagai sumber protein hewani yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian juga menunjukkan konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun seiring pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asupan protein hewani.

Secara global, Food and Agriculture Organization (FAO) menempatkan daging unggas sebagai salah satu komoditas protein hewani dengan pertumbuhan konsumsi tercepat di dunia karena harganya relatif terjangkau, efisiensi produksi tinggi, serta memiliki jejak emisi karbon lebih rendah dibandingkan sebagian besar daging merah.

Karena itu, keberhasilan industri perunggasan nasional sangat ditentukan oleh kualitas sektor pembibitan sebagai penghasil bibit unggul yang memiliki produktivitas tinggi, efisiensi pakan yang baik, serta ketahanan terhadap penyakit.

Selain membahas arah pengembangan industri, Kongres XIV GPPU juga menghasilkan kepengurusan baru. Melalui musyawarah mufakat, peserta kongres memilih Asrokh Nawawi sebagai Ketua Umum GPPU periode 2026–2030.

Dalam pidato perdananya, Asrokh menilai tantangan industri perunggasan ke depan semakin kompleks, mulai dari fluktuasi harga bahan baku pakan, ancaman penyakit hewan, perubahan iklim, hingga dinamika perdagangan global.

"Amanah ini bukan tugas yang ringan. Kami berharap dukungan seluruh anggota GPPU dan insan perunggasan Indonesia. Kami juga akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan agar industri perunggasan nasional terus tumbuh dan berkembang," katanya.

Momentum kongres juga ditandai dengan peluncuran buku "Dari Hulu untuk Ketahanan Pangan: Perjalanan 55 Tahun GPPU dalam Membangun Keberlanjutan Industri Perunggasan Indonesia" yang merekam perjalanan organisasi sejak berdiri pada 20 Desember 1970.

Buku tersebut mendokumentasikan berbagai tonggak penting perkembangan industri pembibitan nasional, mulai dari modernisasi teknologi breeding, penguatan biosekuriti, dinamika kebijakan pemerintah, hingga berbagai inovasi yang mendorong daya saing industri unggas Indonesia.

Seminar nasional yang menjadi bagian dari kongres menghadirkan narasumber dari pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha untuk membahas transformasi sektor pembibitan, digitalisasi breeding, penguatan biosekuriti, hingga strategi membangun industri perunggasan yang berkelanjutan.

Pengurus GPPU periode 2026–2030 kemudian dikukuhkan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian drh. Agung Suganda, disaksikan para anggota GPPU, asosiasi perunggasan, akademisi, dan pelaku industri.

Saat ini GPPU beranggotakan 37 perusahaan pembibitan unggas yang berperan menjaga keberlanjutan pasokan bibit ayam berkualitas di Indonesia.

Dengan regenerasi kepemimpinan dan penguatan inovasi di sektor hulu, GPPU optimistis pembibitan akan terus menjadi pilar utama industri perunggasan nasional sekaligus menopang ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018