Saturday, 05 September 2026


Kejar Swasembada Susu, Kementan Siap Kirim 200 Sapi Perah ke Bone

11 Aug 2026, 11:15 WIBEditor : Herman Pratikno

Pengiriman sapi lewat jalur laut

TABLOIDSINARTANI.COM, Baturraden ---  Kementerian Pertanian (Kementan) terus mematangkan langkah untuk mempercepat penambahan populasi sapi perah nasional. Sebanyak 200 ekor sapi perah bunting dari Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BBPTUHPT) Baturraden, Jawa Tengah, disiapkan untuk dikirim menggunakan Kapal Motor (KM) Camara Nusantara I.

Bukan sekadar memastikan sapi bisa tiba di lokasi tujuan, pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan dan kesejahteraan ternak selama perjalanan laut. Mulai dari ketersediaan pakan, air minum, ventilasi, alas ternak, tenaga pemelihara, hingga pendampingan dokter hewan dipastikan masuk dalam perhitungan.

Kesiapan kapal ditinjau langsung di Semarang, Sabtu (8/8/2026). Peninjauan tersebut menjadi bagian dari proses persiapan pengadaan sekaligus rencana pengiriman 200 sapi perah bunting dari Baturraden.

Sejumlah pihak terlibat dalam persiapan tersebut, di antaranya Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Badan Karantina Indonesia, PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI), serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).

Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan, Tri Melasari, menegaskan bahwa kesiapan sarana transportasi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pengembangan populasi sapi perah di Indonesia.

Menurutnya, keberhasilan pengiriman ternak tidak hanya dilihat dari sapi yang berhasil tiba di lokasi penerima. Kondisi sapi selama perjalanan juga menjadi perhatian utama.

“Yang paling utama adalah memastikan seluruh kebutuhan ternak selama perjalanan terpenuhi, mulai dari pakan, air minum, ventilasi, alas yang aman, hingga penanganan ternak selama berada di kapal. Semua aspek tersebut harus disiapkan dengan baik agar sapi tetap nyaman dan kondisinya terjaga sampai tujuan,” ujar Tri Melasari.

Tri menjelaskan, kebutuhan logistik akan dihitung berdasarkan lama perjalanan. Bahkan, pemerintah menyiapkan cadangan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan kondisi selama pelayaran.

Hal ini penting mengingat sapi yang akan dikirim merupakan sapi perah bunting yang membutuhkan penanganan lebih cermat selama proses transportasi.

“Kita harus memastikan perjalanan ternak memenuhi prinsip kesehatan dan kesejahteraan hewan. Karena itu, seluruh kebutuhan selama perjalanan harus dipersiapkan secara matang,” katanya.

Kepala BBPTUHPT Baturraden, Dani Kusworo, mengatakan kesiapan kapal harus berjalan beriringan dengan pengaturan pemeliharaan ternak selama perjalanan.

Tidak hanya pakan dan air minum, pengelolaan kotoran, ketersediaan petugas pemelihara ternak atau kleder, serta dokter hewan juga menjadi bagian penting yang harus dipastikan sebelum sapi diberangkatkan.

“Kami ingin memastikan sapi yang dikirim bukan hanya sampai di tujuan, tetapi sampai dalam kondisi sehat dan siap beradaptasi di lokasi penerima. Karena itu, kebutuhan pakan, air, obat-obatan, petugas, dan dokter hewan selama perjalanan harus dihitung secara cermat,” kata Dani.

Dalam tahap persiapan, seluruh pihak juga akan berkoordinasi untuk menetapkan trayek dan pelabuhan, menyusun standar operasional prosedur (SOP) pengangkutan, membagi tanggung jawab masing-masing pihak, hingga melakukan simulasi proses pemuatan dan pembongkaran ternak.

Salah satu rute yang tengah dikaji adalah Baturraden–Semarang–Bajoe–Bone. Untuk perjalanan dalam kondisi normal, waktu tempuh diperkirakan sekitar lima hingga enam hari.

Namun, pemerintah tidak ingin mengambil risiko. Kebutuhan pakan, air minum, obat-obatan, dan berbagai kebutuhan operasional akan disiapkan untuk sedikitnya delapan hari.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi antisipasi apabila terjadi perubahan kondisi atau kendala selama perjalanan laut.

Pengadaan dan rencana pengiriman 200 sapi perah bunting tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat peningkatan populasi sapi perah sekaligus mendorong produksi susu dalam negeri.

Penambahan populasi dinilai menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun industri susu nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Namun, Kementan menyadari bahwa pengembangan sapi perah tidak cukup hanya dengan mendatangkan atau menyediakan ternak. Seluruh mata rantai pendukung harus dipastikan berjalan secara terintegrasi.

Mulai dari ketersediaan bibit berkualitas, pakan, kesehatan hewan, transportasi, pemeliharaan, hingga pengelolaan sapi di lokasi penerima menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Dengan demikian, investasi penambahan populasi sapi perah diharapkan benar-benar memberikan hasil optimal terhadap peningkatan produksi susu nasional.

Kementan bersama seluruh pihak terkait pun terus mematangkan berbagai aspek teknis sebelum pengiriman dilakukan. Persiapan tersebut sekaligus menjadi bentuk komitmen pemerintah untuk memastikan proses pengangkutan ternak berlangsung aman, memenuhi standar kesehatan, serta mengedepankan kesejahteraan hewan.

Reporter : Eko
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018