Monday, 12 October 2026


Pakan Ternak Mahal Bikin Peternak Terjepit, IPB Hadirkan Jagung Analog dari Singkong

18 Sep 2026, 11:52 WIBEditor : Gesha

Pakan ternak mahal menekan peternak. IPB University mengenalkan jagung analog berbahan singkong sebagai alternatif pakan murah dan bernutrisi.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor – Pakan ternak mahal menekan peternak. IPB University mengenalkan jagung analog berbahan singkong sebagai alternatif pakan murah dan bernutrisi.

Harga pakan yang terus menjadi tantangan bagi peternak membuat biaya produksi semakin berat. 

Ketergantungan terhadap bahan baku pakan seperti jagung juga membuat peternak harus menghadapi risiko kenaikan harga yang dapat langsung memengaruhi biaya pemeliharaan dan keuntungan usaha.

Di tengah persoalan tersebut, tim dosen IPB University memperkenalkan inovasi jagung analog berbahan dasar singkong sebagai salah satu alternatif pakan yang dapat diproduksi dengan memanfaatkan potensi bahan baku lokal.

Inovasi tersebut diperkenalkan kepada kelompok peternak di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Diseminasi dan Produksi Pakan Berbasis Jagung Analog untuk Kemandirian Pakan pada Kelompok Peternak Domba di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor”.

Kegiatan yang berlangsung Jumat (4/9/2026) itu merupakan bagian dari program Dosen Pulang Kampung yang diinisiasi IPB University.

Dosen Fakultas Peternakan IPB University sekaligus Peneliti Utama Jagung Analog, Dr. Ir. Heri Ahmad Sukria, M.Sc.Agr., menjelaskan inovasi tersebut dikembangkan dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang tersedia di sekitar peternak.

Salah satu bahan yang digunakan adalah singkong. 

Komoditas tersebut diolah melalui tahapan tertentu sehingga dapat menjadi bahan dalam formulasi jagung analog.

Menurut Heri, pemanfaatan bahan baku lokal menjadi penting untuk mendorong kemandirian pakan. 

Peternak tidak hanya menjadi pengguna pakan yang tersedia di pasar, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah bahan yang ada di lingkungannya.

“Inovasi jagung analog ini diharapkan tidak berhenti sebagai kajian ilmiah di kampus saja, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan sebagai alternatif pakan yang terjangkau. Dengan begitu, peternak bisa menekan biaya produksi sekaligus merealisasikan kemandirian pakan secara berkelanjutan,” ujar Heri.

Sebanyak 20 anggota kelompok peternak KPS Cipicung Sejahtera Bersama mengikuti kegiatan tersebut.

Para peserta tidak hanya mendapatkan pemaparan mengenai konsep jagung analog, tetapi juga dilibatkan langsung dalam proses pengolahannya.

Heri memberikan materi mulai dari komposisi bahan baku, formulasi nutrisi hingga teknik pengolahan jagung analog. 

Penjelasan tersebut menjadi bekal bagi peternak untuk memahami bagaimana bahan lokal dapat diolah menjadi bagian dari strategi penyediaan pakan.

Salah satu fokus kegiatan adalah pengolahan pascapanen singkong. 

Peternak diperkenalkan pada tahapan persiapan bahan baku, mulai dari pembersihan, pencacahan hingga proses pengeringan.

Tahapan tersebut menjadi bagian penting karena kualitas bahan baku akan menentukan hasil akhir produk yang dibuat.

Dengan keterampilan tersebut, peternak diharapkan dapat memanfaatkan singkong yang tersedia di wilayah Cijeruk dan mengolahnya secara lebih optimal.

Pemanfaatan singkong juga membuka peluang diversifikasi sumber bahan pakan sehingga peternak tidak hanya mengandalkan satu jenis komoditas yang harganya dipengaruhi kondisi pasar.

Selain singkong, kegiatan tersebut juga memperkenalkan tanaman kelor sebagai sumber bahan pengaya nutrisi.

Para peternak diajak menanam biji kelor di sekitar area peternakan. 

Tanaman tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengaya atau enrichment untuk mendukung peningkatan kualitas nutrisi jagung analog berbasis singkong.

Dengan demikian, kegiatan tidak hanya berhenti pada produksi pakan, tetapi juga diarahkan pada pemanfaatan potensi lingkungan sekitar peternakan.

Berbeda dengan kegiatan sosialisasi yang hanya berisi pemaparan materi, program IPB University tersebut memberikan kesempatan kepada peternak untuk mempraktikkan langsung tahapan produksi.

Pendampingan dilakukan tim pakar IPB University bersama mahasiswa Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan IPB University.

Tim tersebut terdiri atas Dr. Ir. Heri Ahmad Sukria, M.Sc.Agr., Dr. Nisa Nurmilati Barkah, S.Pt., M.Si., Sazli Tutur Risyahadi, S.T.P., M.T., M.Si., serta Dr. Nandang sebagai ahli komunikasi sekaligus narasumber dari luar IPB. Sejumlah mahasiswa Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan Fapet IPB juga turut terlibat dalam pendampingan.

Keterlibatan peternak secara langsung menjadi bagian penting dari program karena inovasi pakan harus dapat diterapkan secara praktis di tingkat kelompok.

Peternak tidak hanya mengetahui bahan dan formulasi, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana bahan baku lokal dipersiapkan sebelum masuk ke proses pengolahan.

Persoalan pakan selama ini tidak hanya berkaitan dengan harga, tetapi juga keberlanjutan ketersediaan bahan baku. 

Ketika harga bahan pakan mengalami perubahan, biaya produksi peternak ikut terdampak.

Karena itu, pengembangan jagung analog berbasis singkong diarahkan untuk membuka alternatif pemanfaatan bahan lokal sekaligus memperkuat kapasitas peternak dalam menyediakan pakan secara mandiri.

Program ini menjadi bagian dari penerapan hasil riset perguruan tinggi agar tidak berhenti di lingkungan akademik.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, pengetahuan mengenai teknologi pakan dibawa langsung ke kelompok peternak sehingga inovasi yang dikembangkan di kampus dapat diuji dan diterapkan sesuai kebutuhan di lapangan.

Bagi peternak domba di Cijeruk, pemanfaatan singkong dan potensi tanaman lokal seperti kelor juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun sistem penyediaan pakan yang lebih berbasis sumber daya setempat.

Pada akhirnya, jagung analog yang diperkenalkan IPB University bukan sekadar inovasi untuk mengganti bahan pakan. 

Program tersebut diarahkan untuk mendorong peternak memiliki pilihan dalam menghadapi mahal dan fluktuatifnya harga bahan pakan.

Jika dapat diterapkan secara berkelanjutan, pemanfaatan bahan baku lokal berpotensi menjadi salah satu jalan untuk mengurangi ketergantungan peternak terhadap bahan pakan dari pasar sekaligus memperkuat kemandirian usaha peternakan di tingkat kelompok.

Reporter : Nattasya
Sumber : IPB UNIVERSITY
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018