
Tak disangka, singkong murah bisa diolah menjadi madu analog oleh Polbangtan Kementan. Dipadukan jahe, kunyit, temulawak, dan ekstrak kangkung.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor – Tak disangka, singkong murah bisa diolah menjadi madu analog oleh Polbangtan Kementan. Dipadukan jahe, kunyit, temulawak, dan ekstrak kangkung.
Di tangan inovator Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, singkong dikembangkan menjadi madu analog berbasis fruktosa singkong dengan tambahan jahe, kunyit, temulawak, hingga ekstrak kangkung.
Inovasi pangan lokal ini dikembangkan Aminudin, dosen Program Studi Teknologi Mekanisasi Pertanian Polbangtan Bogor bersama mahasiswa Jurusan Pertanian selama Juni 2026.
Bukan sekadar sirup biasa, produk tersebut dirancang memiliki karakteristik menyerupai madu alami. Hasil akhirnya berwarna kuning keemasan, memiliki aroma herbal, rasa sangat manis, serta tekstur cair-kental dan homogen.
Yang menarik, bahan bakunya tergolong mudah ditemukan. Selain fruktosa singkong, formulasi madu analog ini menggunakan kangkung, kunyit, temulawak, dan air. Jahe juga menjadi bagian dari kombinasi bahan herbal yang digunakan dalam pengembangan produk.
Hasil uji organoleptik menunjukkan produk mendapatkan skor penerimaan 4,57 atau masuk kategori sangat suka. Sementara itu, aspek rasa memperoleh skor tertinggi, yakni 4,87.
Dari karakteristik produknya, madu analog tersebut memiliki kadar sekitar 80°Brix.
Pengembangan madu analog ini menjadi salah satu contoh bagaimana komoditas pangan lokal dapat didorong naik kelas melalui pengolahan dan inovasi teknologi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Menurutnya, pertanian tidak hanya berhenti pada produksi komoditas di lahan, tetapi juga perlu dilanjutkan melalui inovasi, pengolahan, dan pemanfaatan teknologi.
Semangat itu sejalan dengan pengembangan madu analog berbasis fruktosa singkong.
Produk seperti ini membuka peluang agar komoditas lokal tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan inovasi pengolahan hasil pertanian menunjukkan pentingnya keterhubungan antara pendidikan vokasi, pengembangan teknologi, dan kebutuhan nyata sektor pertanian.
Menurutnya, pengolahan hasil pertanian dapat menjadi bagian dari upaya mendorong petani maupun pelaku usaha untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah.
Lantas, bagaimana singkong bisa berubah menjadi madu analog?
Teknologi pembuatannya relatif sederhana. Proses diawali dengan menyiapkan, mencuci, dan mencampurkan bahan. Campuran kemudian dipanaskan selama kurang lebih 45 menit menggunakan api kecil.
Pemanasan dilakukan untuk meningkatkan viskositas hingga menghasilkan tekstur yang menyerupai madu. Setelah tekstur diperoleh, produk didinginkan sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam botol kemasan.
Peralatan yang diperlukan pun bukan sesuatu yang rumit. Proses tersebut dapat dilakukan menggunakan baskom, panci, saringan, kompor, pisau, talenan, sutil, botol, serta timbangan digital.
Kesederhanaan proses inilah yang menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dikembangkan lebih lanjut, termasuk melalui Teaching Factory Pengolahan Hasil Pertanian Polbangtan Bogor.
Selain bahan baku yang relatif mudah diperoleh, madu analog berbasis fruktosa singkong juga tercatat memiliki estimasi umur simpan hingga enam bulan pada suhu ruang dalam kemasan tertutup.
Namun, angka tersebut masih berupa estimasi yang tercantum dalam dokumen teknologi. Pengujian umur simpan lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan stabilitas dan keamanan produk pada berbagai kondisi penyimpanan.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menilai inovasi pengolahan hasil pertanian dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat pembelajaran vokasi berbasis praktik.
Sementara itu, Direktur Polbangtan Bogor Yoyon Haryanto mengatakan kampus ingin memastikan proses pendidikan tidak berhenti di ruang kelas.
“Kami ingin Polbangtan Bogor tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pendidikan, tetapi juga menjadi ruang lahirnya inovasi pertanian yang dapat diterapkan dan memberikan nilai tambah. Madu analog berbasis fruktosa singkong ini menunjukkan bahwa komoditas lokal memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk pangan yang inovatif,” kata Yoyon.
Menurut Yoyon, keberadaan Teaching Factory Pengolahan Hasil Pertanian juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat langsung proses perubahan bahan baku pertanian menjadi produk bernilai tambah.
“Mahasiswa perlu melihat secara langsung bagaimana bahan baku pertanian diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Dari proses tersebut mereka belajar mengenai teknologi pengolahan, kualitas produk, kreativitas, hingga peluang pengembangan usaha,” ujarnya.
Inovasi madu analog berbasis fruktosa singkong tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan pangan lokal tak selalu harus dimulai dari bahan yang mahal.
Singkong yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat ternyata bisa dikembangkan menjadi produk olahan dengan tampilan, tekstur, dan karakteristik yang berbeda.
Dengan tambahan bahan herbal seperti jahe, kunyit, temulawak, dan ekstrak kangkung, inovasi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi pengolahan dapat membuka peluang baru bagi komoditas pertanian lokal.
Bagi Polbangtan Bogor, pengembangan produk ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan vokasi pertanian yang aplikatif sekaligus mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal menjadi produk bernilai tambah.


