
Ketua Koperasi Bina Peternak Karya Bersama (BPKB), Eti Marlina
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kalangan peternak ayam petelur (layer) berharap pemerintah bisa mengoptimalkan serapan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan memasok telur ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pasar telur akan lebih terjamin dan mendapat kepastian harga.
Ketua Koperasi Bina Peternak Karya Bersama (BPKB), Eti Marlina mengatakan, sebelumnya pihaknya sudah ada pertemuan dan penandatangan kerjasama dengan koordiantor SPPG, yayasan dan mitra untuk penyerapan 1 juta butir telur. Bahkan pertemuan tersebut dihadiri perwakilan dari Kementerian Pertanian/Badan Pangan Nasional dan Pemerintah Daerah.
Membawahi asosiasi dan koperasi peternak ayam di 5 kabupaten yakni,Blitar, Kediri, Tulungagung, Malang dan Trenggalek, Eti menilai penyerapan telur dari SPPG belum optimal, bahkan kini berhenti.
”Awalnya sempat berjalan seminggu dua kali, tapi sekarang serapan telur dari SPPG berhenti total,” kata Eti usai berdialog dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat Rapat Koordinasi Kemitraan Jagung Pakan di Jakarta, Selasa (27/10).
Eti menyesalkan alasan dan klaim berhentinya penyerapan telur dari SPPG karena telur kurang digemari, sehingga banyak sisa. Padahal menurutnya, justru telul adalah produk ternak yang paling mudah mengolah dan banyak disukai anak-anak.
Karena itu Eti berharap, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian bisa mengambil langkah untuk mengoptimalkan serapan telur peternak layer di seluruh Indonesia. Sebab dengan adanya serapan telur dalam program MBG dapat membantu peternak dari tekanan harga telur yang kini di bawah Rp 24 ribu/kg. ”Dengan harga telur sesuai Harga Acuan Pemerintah (HAP), kami sangat terbantu dari tekanan harga,” ujarnya.
Selain serapan telur dari SPPG, Eti juga berharap, pemerintah bisa mendorong perusahaan atau Perum Bulog untuk menyerap telur peternak. Apalagi dengan kenaikan harga jagung hingga Rp 8.000-8.500/kg dan bahan baku pakan lainnya yakni konsentrat dan bekatul biaya produksi telur kini mencapai Rp 24-25 ribu/kg.
”Alhamdulillah sekarang peternak kecil dan mikro bisa mendapatkan jagung SPHP seharga Rp 5000/kg, kami sangat terbantu karena dapat menurunkan biaya pakan,” ujarnya. Karena itu, lanjut Eti, kalangan peternak sangat berharap program jagung SPHP dilanjutkan pada tahun 2027.
Sementara itu Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatkan, untuk membantu peternak dari tingginya biaya produksi, pemerintah akan melakukan penguatan ekosistem dari hulu hingga hilirisasi hasil peternakan.
Nantinya, produksi telur dari peternak mikro dan kecil diharapkan dapat terserap melalui pasar reguler, pemenuhan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pengembangan industri pengolahan telur.
Dalam rancangan yang dibahas, sekitar 1,9 juta ton telur diproyeksikan terserap melalui pasar reguler, termasuk untuk mendukung kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan masyarakat. Selain itu, pengembangan industri pengolahan telur menjadi produk cair maupun tepung telur turut didorong untuk memperluas pasar domestik serta membuka peluang ekspor.