Sunday, 12 July 2026


Musim Pancaroba Datang, Ini 3 Penyakit Ayam Paling Berbahaya yang Wajib Diwaspadai

06 May 2026, 03:07 WIBEditor : Gesha

Musim pancaroba picu ancaman serius bagi ayam. Tiga penyakit berbahaya dari bakteri, virus, dan protozoa siap menyerang kapan saja.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Musim pancaroba picu ancaman serius bagi ayam. Tiga penyakit berbahaya dari bakteri, virus, dan protozoa siap menyerang kapan saja.

Musim pancaroba kembali menjadi momok bagi para peternak ayam di berbagai daerah. 

Perubahan cuaca yang ekstrem, dari panas terik ke hujan deras dalam waktu singkat tidak hanya berdampak pada kenyamanan ternak, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai penyakit berbahaya yang bisa menyerang secara tiba-tiba.

Kondisi ini diperparah dengan fluktuasi suhu dan kelembapan yang sulit diprediksi. 

Ayam yang sebelumnya sehat bisa mendadak lesu, kehilangan nafsu makan, hingga mengalami kematian jika tidak segera ditangani. 

Para peternak pun dituntut untuk lebih waspada dan memahami potensi ancaman yang mengintai di balik perubahan musim ini.

Dokter hewan dari Balai Perakitan dan Pengujian Unggas dan Aneka Ternak (BRMP UAT), drh. Triwardhani Cahyaningsih, M.Si, menegaskan penyakit yang menyerang ayam di musim pancaroba umumnya berasal dari tiga sumber utama yaitu bakteri, virus, dan protozoa.

“Perubahan suhu yang drastis membuat ayam stres. Saat stres, daya tahan tubuhnya menurun, sehingga patogen lebih mudah masuk dan berkembang,” ujar Triwardhani.

Ia mengingatkan, tanpa penanganan yang tepat, penyakit-penyakit ini bisa menyebabkan kerugian besar, baik dari sisi produksi maupun kematian ternak.

Ancaman Infeksi Bakteri

Penyakit akibat bakteri menjadi salah satu yang paling sering ditemukan pada ayam, terutama saat kondisi lingkungan tidak higienis dan kelembapan tinggi. 

Di musim pancaroba, kondisi kandang yang basah akibat hujan serta sirkulasi udara yang buruk menjadi faktor utama berkembangnya bakteri.

Salah satu penyakit yang umum muncul adalah snot atau infeksi saluran pernapasan, serta CRD kompleks (Chronic Respiratory Disease). 

Kedua penyakit ini menyerang sistem pernapasan ayam dan dapat berkembang dengan cepat jika tidak ditangani.

Gejala awal yang sering terlihat antara lain ayam mengalami kesulitan bernapas, terlihat megap-megap, dan mengeluarkan suara ngorok, terutama saat malam hari. 

Selain itu, ayam juga tampak lesu, bulu kusam, dan kehilangan nafsu makan.

Dalam kondisi lebih parah, lendir bisa keluar dari hidung dan mata, bahkan terjadi pembengkakan di sekitar wajah. 

Jika dibiarkan, infeksi ini bisa menyebar ke seluruh populasi dalam waktu singkat.

“Masalah pernapasan ini sering dianggap sepele, padahal bisa sangat berbahaya jika tidak segera diatasi,” jelas Triwardhani.

Ia menambahkan, penularan bakteri sangat mudah terjadi melalui udara, pakan, air minum, maupun kontak langsung antar ayam. 

Oleh karena itu, kebersihan kandang dan peralatan menjadi faktor kunci dalam pencegahan.

Serangan Virus

Jika infeksi bakteri masih bisa dikendalikan dengan penanganan yang tepat, ancaman dari virus justru jauh lebih berbahaya. 

Dua penyakit virus yang paling ditakuti peternak adalah Newcastle Disease (ND) atau tetelo, serta Avian Influenza (AI).

Newcastle Disease dikenal sebagai penyakit yang sangat menular dan mematikan. 

Gejala khasnya adalah gangguan saraf yang menyebabkan leher ayam terpuntir atau terlihat tidak normal. 

Selain itu, ayam juga bisa mengalami kelumpuhan, kehilangan keseimbangan, hingga tidak mampu berdiri.

Pada tahap awal, ayam mungkin hanya terlihat lesu dan nafsu makan menurun. 

Namun dalam waktu singkat, kondisi bisa memburuk drastis dan berujung pada kematian massal.

“Kalau sudah kena tetelo, penyebarannya sangat cepat. Satu kandang bisa habis dalam waktu singkat,” ungkap Triwardhani.

Sementara itu, Avian Influenza atau flu burung menjadi ancaman yang lebih kompleks karena bersifat zoonosis, yaitu dapat menular dari hewan ke manusia. 

Penyakit ini tidak hanya berdampak pada sektor peternakan, tetapi juga kesehatan masyarakat.

Gejala pada ayam meliputi pembengkakan di bagian kepala, jengger, atau kaki, gangguan pernapasan, penurunan produksi telur, hingga kematian mendadak dalam jumlah besar.

“AI harus diwaspadai secara serius karena risikonya bukan hanya pada ternak, tetapi juga manusia,” tegasnya.

Penanganan penyakit virus umumnya lebih sulit dibandingkan bakteri, sehingga pencegahan menjadi langkah paling efektif. 

Vaksinasi, biosekuriti, dan kontrol lalu lintas manusia serta peralatan menjadi hal yang wajib diterapkan.

Protozoa Mematikan

Selain bakteri dan virus, ancaman lain yang sering muncul di musim pancaroba adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa, yaitu koksidiosis. 

Penyakit ini menyerang saluran pencernaan ayam dan sering kali tidak disadari hingga kondisinya sudah parah.

Koksidiosis ditandai dengan gejala khas berupa kotoran berdarah atau berwarna gelap. 

Ayam yang terinfeksi biasanya terlihat lemah, bulu kusam, dan mengalami penurunan berat badan secara drastis.

Pada kasus yang lebih berat, ayam bisa mengalami dehidrasi dan kematian, terutama pada ayam muda yang memiliki daya tahan tubuh lebih rendah.

Triwardhani menjelaskan, penyebaran koksidiosis sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama kelembaban tinggi yang terjadi saat musim hujan. 

Selain itu, vektor seperti lalat juga berperan dalam menyebarkan parasit ini.

“Awal musim hujan biasanya populasi lalat meningkat. Ini yang sering menjadi perantara penyebaran koksidiosis,” jelasnya.

Kandang yang kotor, basah, dan tidak terawat menjadi tempat ideal bagi protozoa untuk berkembang biak. 

Oleh karena itu, kebersihan kandang menjadi faktor utama dalam mencegah penyakit ini.

Langkah Pencegahan

Menghadapi ancaman penyakit di musim pancaroba, peternak tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman atau cara tradisional. Diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dan disiplin dalam manajemen pemeliharaan.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan kandang secara rutin. Kandang harus bebas dari kotoran, genangan air, dan sisa pakan yang bisa menjadi sumber penyakit.

Selain itu, sirkulasi udara perlu diperhatikan agar kandang tidak lembap. Penggunaan tirai atau terpal bisa membantu melindungi ayam dari angin dan hujan, sekaligus menjaga suhu tetap stabil.

Pakan dan air minum juga harus dipastikan dalam kondisi bersih dan berkualitas. Pakan yang terkontaminasi dapat menjadi media penyebaran bakteri dan virus.

Pengendalian vektor seperti lalat juga menjadi hal penting. Penggunaan perangkap lalat atau menjaga kebersihan lingkungan sekitar kandang dapat membantu memutus rantai penyebaran penyakit.

Yang tidak kalah penting adalah pemantauan rutin terhadap kondisi ayam. Setiap perubahan perilaku atau gejala sekecil apa pun harus segera ditindaklanjuti.

“Deteksi dini adalah kunci. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang untuk menyelamatkan ayam,” ujar Triwardhani.

Musim pancaroba bukan hanya soal perubahan cuaca, tetapi juga kombinasi berbagai faktor risiko yang saling berkaitan.

Suhu yang naik turun secara drastis membuat ayam mengalami stres, sementara kelembapan tinggi menciptakan lingkungan ideal bagi patogen.

Di sisi lain, sistem pemeliharaan tradisional seperti umbaran membuat ayam lebih rentan karena terpapar langsung oleh kondisi lingkungan.

Air hujan yang masuk ke kandang, angin kencang, serta perubahan suhu mendadak menjadi pemicu utama turunnya imunitas ayam.

Kondisi ini diperburuk jika manajemen kandang tidak dilakukan dengan baik. Kurangnya sanitasi, pakan yang tidak higienis, serta air minum yang tercemar bisa menjadi sumber penularan penyakit.

“Semua faktor ini saling berkaitan. Kalau satu saja tidak dijaga, risikonya bisa sangat besar,” kata Triwardhani.

Musim pancaroba memang tidak bisa dihindari, namun dampaknya dapat diminimalkan dengan kesiapan dan kewaspadaan. 

Memahami jenis penyakit yang berpotensi muncul serta cara pencegahannya menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan usaha peternakan.

Dengan manajemen yang baik, penerapan biosekuriti, serta perhatian terhadap kesehatan ayam, peternak dapat melewati masa pancaroba tanpa kerugian besar.

“Yang terpenting adalah jangan lengah. Karena di musim seperti ini, penyakit bisa datang kapan saja,” pungkas Triwardhani.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018