Senin, 18 Februari 2019


Sutopo BNPB : Sampaikan Kasus Zoonosis dengan Bahasa Mudah Tapi Tidak Memicu Kepanikan

30 Jan 2019, 18:03 WIBEditor : Gesha

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menekankan pentingnya komunikasi dan sosialisasi dengan bahasa mudah namun tidak menimbulkan kepanikan masyarakat | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pengendalian Penyakit Infeksi Baru/Berulang (PIB) dan Zoonosis sebenarnya bisa dilakukan di awal dengan proses komunikasi dan sosialisasi yang langsung menyentuh ke seluruh lapisan masyarakat.

“Komunikasi krisis penanganan Penyakit Infeksi Baru/Berulang (PIB) dan Zoonosis lebih mudah dilakukan. Tidak terjadi langsung secara massal tetapi perlahan sehingga lebih mudah dikendalikan dibandingkan dengan bencana alam yang terjadi mendadak dan tidak dapat diprediksi," ungkap Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho pada acara Peluncuran Dokumen : Pendekatan One Health dalam Penanggulangan Bencana Non Alam Penyakit Infeksi Baru/Berulang dan Zoonosis, Jakarta, Selasa (29/1).

Terlebih di saat terjadi kasus PIB atau pun zoonosis, harus bisa dikomunikasikan kepada publik dengan bahasa yang mudah dipahami dan tidak berdampak.

“Memang perlu dilatihkan pada dinas peternakan bagaimana pada saat terjadi penyakit-penyakit tersebut. Secara teknis memang keahlian mereka, namun bagaimana agar tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat. Ini harus diantisipasi,” terangnya.

Apalagi, perkembangan sosial media saat ini begitu pesat dan berkembang luas karenanya harus mengelola dengan baik." Pangsa pasarnya sebagian besar adalah milenial yang pandai sosial media. Kalau bicara birokratis, yang disampaikan kaku, hanya menampilkan pimpinannya yang sifatnya seremonial itu tidak menarik,” pungkasnya.

Sutopo mencontohkan bahasa personifikasi yang sering dipakainya di berbagai platform media sosial. Atau bahkan akun-akun lembaga yang sekarang diakuinya lebih luwes berbahasa. "Kita harus pintar-pintar mengelola, maka adminnya serahkan pada anak muda. Kalau orang-orang birokrat dan sudah tua, tidak tahu medsos, bahasanya biasa saja, formal, seremonial, itu tidak menarik,” tambahnya.

Menurutnya yang terpenting pesan yang dimaksud sampai dan mengena pada netizen dan followers. Namun dalam penyampaian informasi bencana non alam, BNPB tetap mengedepankan kementerian atau sektor terkait. “BNPB hanya pendukung,” tukasnya.

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018