Selasa, 21 Mei 2019


Peternak : Broker yang Tekan Harga, Tapi Kami Enggak Bisa Apa-apa

05 Apr 2019, 17:19 WIBEditor : Gesha

Harga ayam memang tengah turun dan biasa terjadi tiga kali dalam setahun | Sumber Foto:ISTIMEWA

Anton mengaku kalau dalam satu tahun, dia bisa menghadapi sekitar 2 sampai 3 bulan dimana harga daging ayam anjlok. Biasanya dalam satu tahun itu ada sekitar 2 sampai 3 bulan yang pasti harga daging ayam anjlok.

 TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Harga ayam yang tengah turun di kandang, bagaikan simalakama bagi peternak. Karena mereka tahu, salah satu penekan harga tersebut adalah broker (pedagang besar) dan rantai distribusi yang panjang. Tetapi, mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

"Memang kami akui rantai distribusi terlalu panjang. Kami enggak bisa apa-apa karena mereka beli banyak sekaligus jadi di kandang juga cepet habisnya. Kami enggak perlu repot lagi cari-cari pembeli," ucap salah satu peternak ayam broiler dari Kedung Halang, Bogor, Gatot. 

Dirinya menjelaskan bahwa selama ini  ayam hidup milik peternak selalu dibeli oleh broker atau pedagang besar. Disebut pedagang besar karena mereka memang membeli dengan jumlah yang banyak. Setelah itu, broker mengirim ayam hidup tersebut ke pangkalan sebelum dibeli oleh para pedagang di pasar becek. 

Anton menuturkan daripada ayam ini terus di kandang dan akan mengeluarkan biaya pakan yang semakin tinggi  mau enggak mau harus jual ke broker . "Broker punya cold storage.  Tanpa broker juga kami bisa babak belur, karena ayam kami enggak ada yang beli," tuturnya.

Karena itu,Anton berharap agar peternak bisa dilatih oleh pemerintah dalam bentuk memberikan jalan untuk bisa menembus pasar. Setidaknya Dinas Pertanian setempat agar bisa memasok ke pasar becek langsung terdekat dengan kami. Karena yang saya tahu, pasar di Bogor aja, barangnya dari Jakarta, Sukabumi. Padahal di Bogor sendiri ada peternak ayam tersebut," tukasnya.

Turunnya harga ayam juga disinyalir Anton memanfaatkan momen Pemilu dan Ramadhan yang berlangsung sebentar lagi. "Mereka ambil untung karena momen. Tapi yang dirugikan kami, dengan alasan melimpahnya ayam sekarang ini," tuturnya.

Anton mengaku  kalau dalam satu tahun, dia bisa menghadapi sekitar 2 sampai 3 bulan dimana harga daging ayam anjlok. “Biasanya dalam satu tahun itu ada sekitar 2 sampai 3 bulan yang pasti harga daging ayam anjlok. Bulan September kemarin salah satunya. Kami harus kurangi produksi juga. Sebelumnya, kami bisa produksi sampai 90.000 ekor per bulan, tapi karena harga murah jadi dikurangi hingga 30.000 ekor ayam per bulan," timpalnya.

Mengantisipasi kurangnya pemasukan karena anjloknya harga live bird, Anton sampai mengurangi setengah dari produksi. Setiap bulan, diirnya biasanya mampu memproduksi sekitar 40.000 ekor ayam. "Sudah sebulan ini sih, kita kurangi produksi jadi 20 ribu ekor ayam," tuturnya.

“Turunnya harga ayam ini enggak sejalan dengan harga komponen produksi yang cenderung meningkat. Seperti misalnya harga pakan yang mencapai Rp 7.500 per kg, satu ekor ayam itu biasanya butuh sekitar 2,2 kg sampai 2,5 kg pakan. Harga Day Old Chick (DOC) mencapai Rp 6.500 satu ekor lalu ada obat-obatnya agar mereka tidak rentan sakit, belum lagi biaya operasional lainnya seperti listrik dan air,” katanya lagi. 

Anton mengakui satu-satunya siasatnya memang dengan mengurangi produksi. "Karena dengan begitu, semuanya akan berkurang, seperti pakan yang dibeli kan akan berkurang. Biasanya kami pelihara di 10 kandang ayam, jadi hanya 5 kandang," tukasnya.

Namun, dirinya optimis jika harga ayam bisa kembali normal. "Kalau lihat euforianya sih beberpa minggu ke depan sudah kembali stabil. Apalagi umur ayam kan tidak panjang. Paling 21 hari sudah bisa dipanen," tuturnya.

 

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018