
Penyemprotan agens hayati oleh petani bersama penyuluh di BPP Ajung
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Menelisik sistem pangan Indonesia saat ini menurut Khudori, Pegiat Pendayagunaan Pertanian, masih terpusat di Jawa lebih dari 50 persen. Meskipun ada ekstensifikasi, kontribusi Jawa belum bisa digantikan. Perlu sistem distribusi yanga handal. Kita harus buat stok yang baik. Lembaga Bulog semakin lama semakin diminimalkan. Sehingga pangan terpusat dan tak bisa didistribusikan.
Kondisi sistem pangan saat ini di Indonesia, penguasaan lahan kita sangat kecil, dan lahan yang ada rawan terkonversi. Sistem pangan dari berapagam menjadi seragam. Terjadi Foodloss dan waste, nomor dua di dunia, yakni setelah Arab Saudi. Rantai pasok pangan tak adil. Sistem pangan kita ditopang oleh petani kecil.
Dr. Sofyan Sjaf, Wakil Kepala LPPM-IPB mengatakan membangun kedaulatan pangan perlu dimulai dari desa. “Pangan yang tidak dikelola dengan baik. serba tanggung dan merugikan. Tidak ada tata kelola yang baik. Oleh karena itu, bangun kelembagaan lebih baik, coba lirik BUMDES. Lirik teknologi market place. IPB sudah bisa membaca konsumsi pangan di tingkat keluarga,” urainya.
Dia sepakat ketahanan pangan suatu keniscayaan. Kita menghadapi masalah yang tidak kecil karena ratio lahan relatif kecil, maka harus ada kebijakan lain agar petani sejahtera. Untuk membangun sistem pangan dari desa Pendidikan vokasi bagi SDM desa diperlukan.
BACA JUGA:
> Langkah Langkah Agar Sistem Pangan Nasional dan Daerah Berkelanjutan
> Untuk Ganti Lahan Subur, Kalau Bukan Food Estate Apa?
> Kinerja Food Estate Kalteng 2021?
> Dukungan Penuh untuk Food Estate di Sumbawa
“Tidak berarti harus Pendidikan formal, melainkan bisa berupa ruang ruang informal pendidikan SDM desa menjadi penting. Transfer inovasi perguruan tinggi ke desa desa agar termotivasi bertani dan menghasilkan produk yang menguntungkan secara berkelanjutan,” tambahnya.
Musdalifah juga sependapat untuk membangun sistem ketahanan pangan berkelanjutan perlu memperhatikan banyak hal, mulai dari Sub Sistem Ketersediaan, Sub Sistem Distribusi, dan Sub Sistem Konsumsi.
Dalam sistem ketersdiaan komponen yang digarap pemerintah adalah Food Estate, Klaster Pertanian, Pekarangan Pangan Lestari (P2L)/Family Farming, Urban Farming, Reducing Food Loss, Cadangan Beras Pemerintah, dan Perlindungan alih fungsi lahan sawah. Pada sub sistem distribusi yang digarap pemerintah: Smart Supply Chain, Simpul Pangan (pusat distribusi), dan Lumbung Pangan Masyarakat.
Sedangkan dalam subsistem konsumsi yang digarapa pemerintah adalah: Diversifikasi Pangan, Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA), Reducing Food Waste, Keamanan Pangan, serta Penanganan rawan pangan dan Stunting.
“Namun dalam pelaksanaannya belum terimplementasi dengan baik, perlu pemberkuat pelaknsaananya. Pertanian presisi dan skala besar yang terintegrasi. Ini belum. Harus dimulai sekarang. Tak bisa satu tahun, multi years, terus dilakukan. Tahun mendatang bisa terbangun, bisa terjamin kesejahteraan dengan terbangunnya lahan lahan pangan berkorporasi berskala besar,” tambah Musdalifah.
---+
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/