Friday, 16 April 2021


Untuk Ganti Lahan Subur, Kalau Bukan Food Estate Apa?

15 Mar 2021, 13:51 WIBEditor : Ahmad Soim

Guru besar USU menilai untuk membangun food estate di Humbahas perlu ketelatenan | Sumber Foto:Humas Ditjen Horti

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Untuk infrastruktur, alih fungsi lahan subur tidak bisa dielakkan. Lahan baru sebagai penggantinya terkendala kesuburan.

 Jumlah SDM untuk menggarap lahan pertanian di wilayah timur Indonesia itu juga kurang. “Kita harus bisa bangun wilayah itu dengan teknologi untuk ketahanan pangan Indonesia yang berkelanjutan,” kata Deputi Pangan dan Agrobisnis, Kementerian Perekonomian, Dr. Musdalifah Machmud.

Menurutnya lahan pertanian yang ada sekarang tidak lagi cukup untuk menyediakan pangan bagi penduduk Indonesia yang terus bertambah. “Lahan yang ada sekarang tak cukup, harena alih lahan tak bisa dikendalikan. Kita perlu kerja keras bangun lahan baru, food estate adalah harapan kita,” tambahnya.

Diakuinya banyak tantangan dan banyak kendala yang perlu dicarikan solusinya. “Kalau bukan food estate, apa yang bisa kita laksanakan? Sekarang yang ada adalah itu, food estate seperti di Kalteng. Kalau ada kendala mari kita kritisi. Dalam hal teknis harus kita berikan input input yang baik,” tambahnya.

 

BACA JUGA:

> Kinerja Food Estate Kalteng 2021?

> Dukungan Penuh untuk Food Estate di Sumbawa

> Universitas Cendana Kerahkan Mahasiswa dan Dosen Garap Food Estate Sumba Tengah

 Menurutnya pemerintah tengah menggarap ketersdiaan pangan, komponen yang digarap adalah Food Estate, Klaster Pertanian, Pekarangan Pangan Lestari (P2L)/Family Farming, Urban Farming, Reducing Food Loss, Cadangan Beras Pemerintah, dan Perlindungan alih fungsi lahan sawah.

Pada sub sistem distribusi yang digarap pemerintah: Smart Supply Chain, Simpul Pangan (pusat distribusi), dan Lumbung Pangan Masyarakat.

Sedangkan dalam subsistem konsumsi yang digarap pemerintah adalah: Diversifikasi Pangan, Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA), Reducing Food Waste, Keamanan Pangan, serta  Penanganan rawan pangan dan Stunting.

 “Namun dalam pelaksanaannya belum terimplementasi dengan baik, perlu pemberkuat pelaknsaananya. Pertanian presisi dan skala besar yang terintegrasi. Ini belum. Harus dimulai sekarang. Tak bisa satu tahun, multi years, terus dilakukan. Tahun mendatang bisa terbangun, bisa terjamin kesejahteraan dengan terbangunnya lahan lahan pangan berkorporasi berskala besar,” tambah Musdalifah.

---+

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018