
Mentan SYL saat berkunjung ke Balai Penelitian Lingkungan, Pati
TABLOIDSINARTANI.COM, Pati--Perubahan iklim membuat masyarakat dunia harus bisa mengantisipasi. Dengan adanya climate change di berbagai belahan negara membuat ruang bagi produk olahan kita untuk memasuki pasar Internasional.
“Jadi di saat produksi pangan di luar mengalami stag, Indonesia harus mengambil posisi untuk mengisi kebutuhan itu,” kata Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo saat berkunjung ke Balai Penelitian Lingkungan, Padi, Jawa Tengah, Kamis (3/11).
SYL mengingatkan untuk melakukan adaptasi dan mitigasi perubahan Iklim mengingat Indonesia adalah negara terbesar ke-4 dunia. Sebab, tanggung jawab dan tantangannya pun juga besar. “Kita belum selesai menghadapi tantangan covid-19 yang masih terjadi sampai hari ini. Tapi disi lain kita dihadapkan juga dengan emisi gas, efek rumah kaca dan persoalan lingkungan,” tuturnya.
Menurut SYL, perekonomian dunia porak poranda selama dua tahun, termasuk Indonesia. Namun yang mampu bertahan adalah sektor pertanian. Karena itu, dalam kondisi dan situasi apa pun, pertanian harus tetap berproduksi. Contohnya, negara-negara yang mengalami 4 musim, mereka kini tengah mengalami kesulitan dalam hal produksi pangan.
“Saya meminta jajaran Kementan dan kepala daerah untuk mengantisipasi perubahan iklim yang terjadi dengan mempersiapkan stok pangan dan sistem logistik yang siap mencukupi kebutuhan pangan rakyat hingga 2 tahun ke depan,” tuturnya.
Pada dasarnya, ungkap SYL, Indonesia memiliki modal yang kuat di sektor pertanian. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki lahan pertanian yang subur dan pangan lokal dengan keuntungan rasa dan gizi yang tak dimiliki negara lain.
Pada anomali cuaca seperti ini, SYL juga meminta Badan Litbang Pertanian membuat varietas baru yang tahan air dan varietas gogo yang tahan kemarau, buatkan juga embung. “Kita juga harus mulai mengurangi wastefood, lahan pertanian gunakan asuransi usaha tani. Satu-satunya makhluk yang tidak boleh tunduk terhadap alam adalah manusia,” katanya.
Dalam kunjungan kerja di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, SYL didampingi Bupati Pati, Haryanto dan Anggota DPD RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah, Denty Eka Widi Pratiwi,
SYL menilai keberadaan dan peran Balingtan ke depan dituntut lebih aplikatif dan inovatif. Pasalnya, isu-isu lingkungan yang berkaitan dengan pertanian serta perubahan iklim global membutuhkan kecepatan dan ketepatan antisipasi dan solusi.
"Tempat ini bagus sekali dan sangat penting. Fungsinya strategis untuk menjawab tantangan-tantangan sektor pertanian yang ada," kata SYL.
SYL juga mendorong pengembangan hilirisasi dan ekspor pangan lokal. Upaya ini dilakukan guna meningkatkan ketahanan pangan dan perekonomian nasional dengan mendorong pelaku usaha pangan mikro menengah berkontribusi pada peningkatan kualiatas produk olahan pangan berorientasi ekspor.
“Sesuai arahan Presiden Jokowi, komoditi pangan lokal Indonesia harus digenjot memasuki pasar-pasar konsumsi Internasional,” kata SYL. Karenanya, pangan lokal harus dipersiapkan dan diperkenalkan dengan baik sehingga mampu menggaet perhatian pasar ekspor.