Saturday, 29 January 2022


Peluang Ekspor Terbuka, SYL Minta Sentra Nenas Garap Produk Olahan

08 Nov 2021, 16:15 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL saat berkunjung ke sentra nenas di Jambi | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Muaro Jambi---Komoditas nenas mempunyai peluang besar untuk menembus pasar ekspor. Namun demikian, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta agar komoditas nenas di setiap sentral produksi digarap dari hulu hingga hilir. Dengan demikian, ke depan nenas diolah menjadi produk siap di jual dan berorientasi ekspor.

"Saya senang disini, tapi tentu ini masih perlu kita olah lagi. Saya tahu kalau nenas itu sangat dibutuhkan di luar negeri, sehingga ini perlu konsentrasi sedikit sehingga nenas bisa naik kelas. Jadi hilirisasinya harus jalan ini," ungkap SYL saat kunjungan di perkebunan nenas di Desa Tangkit Baru Kecamatan Sungai Gelam Kabupaten Muaro Jambi, Sabtu (6/11).

SYL mengharapkan industri pengolahan nenas bisa segera dikembangkan dilokasi tersebut guna memproduksi olahan nenas yang siap ekspor. Untuk itu ia meminta supaya lahan dilakukan perluasan lahan untuk pengembangan nenas.

"Kalau bisa lahannya di atas 5000 hektar kita bisa mengarah ke skala industrinya untuk pengalengannya. Karena kalau tidak supplynya bisa tidak ada. Saya sangat tertarik dengan ini. Ada tidak mesin mesin kecil untuk pengalengan ini. Karena ini kalau tidak dikaleng, tidak bisa diekspor," tuturnya.

 

Selain itu, SYL mendorong petani Desa Tangkit Baru juga menanam komoditi pertanian lainnya yang bisa di tumpang sari dengan tanaman nenas. Bisa juga ditanam dipinggiran kebun  seperti jagung, pinang guna menambah pendapatan petani dan meningkatkan ketahanan pangan mandiri. "Saya kira disini juga jangan hanya nenas saja dipinggir-pinggir itu harus ada komoditi lain. Saya sepakat melihat pinang bisa dikembangkan juga atau yang lainnya," kata SYL.

 

Diketahui, Desa Tangkit Baru Kecamatan Sungai Gelam Kabupaten Muaro Jambi merupakan perkebunan nenas paling luas di Provinsi Jambi, bahkan daerah ini menjadi sentra penjualan nenas.  Sebagian besar areal kebun nanas di desa tersebut merupakan kawasan dataran rendah gambut yang berada pada ketinggian 20 meter di atas permukaan laut (mdpl). Nenas yang dikembangkan petani hingga sekarang di desa tersebut jenis Queen (daun pendek berduri tajam, buah lonjong mirip kerucut).

Petani nenas (45), Ambok Asek mengatakan, peremajaan tanaman nenas juga dilakukan secara berkesinambungan. Para petani tidak bisa membiarkan nanas tidak terawat karena komoditas buah bersisik itulah yang menjadi satu-satunya andalan utama pendapatan mereka. "Nenas sudah menjadi lama menjadi satu-satunya andalan usaha ekonomi keluarga kami. Karena itu kami tetap merawat kebun nenas kami dengan baik,” katanya.

Kepala Desa Tangkit Baru, Supadi mengatakan, dinas instansi terkait seperti dinas pertanian, koperasi, pertanian dan pihak swasta juga sering melakukan pelatihan terhadap petani dan UMKIM pengolahan dodol nanas di Desa Tangkit Baru. Pelatihan itu diberikan agar para petani bisa terus berionvasi dalam pengolahan, pembuatan kemasan dan pemasaran nanas dan dodol nanas. “Untuk saat ini, di masa pandemi, pemilik UMKM dodol nanas meningkatkan memasarkan produk mereka secara online (digital),”  katanya.

 

Reporter : Humas dan IP Kementan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018