Wednesday, 21 October 2026


Semangat Angkat Tenun NTT, Santi Ambarwati: Bisa Mendunia Seperti Batik

09 Dec 2024, 14:06 WIBEditor : Herman

PJ Gubernur NTT, Andriko Noto Susanto Bersama Istri

TABLOIDSINARTANI.COM, Kupang —Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT, Santi Ambarwati, memiliki visi besar untuk menjadikan kain tenun NTT mendunia seperti batik. Dalam berbagai kesempatan, ia tak hanya menjadikan tenun sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai identitas yang terus ia gaungkan lewat gaya hidup dan program-programnya.

Bagi Santi, cara terbaik mempromosikan tenun adalah memakainya sendiri. "Bapak (Penjabat Gubernur NTT) itu setiap Senin pakai keki sebagai pakaian dinas harian. Tapi Rabu dan Kamis, celananya disarungin dengan tenun. Bahkan semi jasnya pun dari tenun," ungkap Santi saat ditemui di Kupang.

Ia juga selalu memastikan setiap momen menjadi peluang untuk mempromosikan tenun. “Setiap saya keluar rumah, saya selalu foto, lalu saya posting dengan hashtag Dekranasda NTT. Orang yang melihat pasti penasaran, ‘Tenun ini dari mana?’ Jadi, setiap langkah kecil kami adalah cara memperkenalkan tenun kepada dunia.” Ujarnya.

Tidak hanya itu, Santi mengajak masyarakat untuk melihat bahwa tenun tidak melulu sebagai sarung tradisional, tetapi bisa diubah menjadi berbagai produk fesyen modern. "Tenun bisa dimodifikasi jadi blazer, tunik, dress, bahkan semi jas. Saya ingin menunjukkan bahwa tenun bisa dipakai di segala situasi, baik formal maupun kasual," jelasnya.

Santi menjelaskan, Dekranasda NTT memiliki standar ketat dalam memilih tenun yang akan dijual. Ada tim khusus yang bertugas mengkurasi kualitas produk. "Kami lihat bahan baku yang digunakan, tingkat kerapatan benangnya, pewarna, dan kerumitan motifnya. Semakin rumit, semakin mahal," katanya.

Ia juga memberikan perhatian besar pada penggunaan bahan alami. “Kalau pewarna yang digunakan alami, itu pasti lebih mahal karena prosesnya panjang dan hasilnya unik. Tapi memang ini sepadan dengan nilai budaya dan ekonominya,” tambahnya.

Namun, tantangan besar adalah menyamakan standar harga di pasar. "Kadang, motif yang sama dijual dengan selisih harga sangat besar, misalnya Rp1.500.000 untuk tenun asli dan hanya Rp150.000 untuk yang printing. Kalau masyarakat tidak diberi edukasi, mereka pasti memilih yang murah. Padahal, ini bisa melemahkan penghargaan terhadap hasil karya para penenun," tuturnya.

Untuk mengatasi masalah ini, ia mendorong adanya Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bagi motif-motif tenun. "Harus ada jaminan agar penenun tetap mendapatkan royalti jika motif mereka diproduksi massal. Ini juga cara melindungi warisan budaya kita dari pembajakan," jelasnya.

Menurut Santi, kain tenun memiliki peran penting dalam menopang perekonomian keluarga di NTT. "Mama-mama penenun sering menenun untuk memenuhi kebutuhan mendesak, seperti biaya sekolah atau kuliah anaknya. Jadi, ini tidak hanya sekadar kerajinan, tapi juga sumber kehidupan," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa menenun adalah keahlian yang sangat dihargai di beberapa daerah di NTT. "Di Sumba, misalnya, perempuan yang bisa menenun punya nilai lebih di mata calon mertuanya. Bahkan, belis (mahar) bisa lebih tinggi jika seorang calon menantu pandai menenun. Ini menjadi alasan mengapa tradisi menenun tetap bertahan," katanya.

Salah satu cara unik yang dilakukan Santi untuk mendukung para penenun adalah membeli langsung dari mereka saat kunjungan ke daerah. "Rasanya beda kalau saya ambil langsung dari pengrajin. Bagi mereka, itu menjadi kebanggaan tersendiri," ujarnya.

Namun, ia tetap memastikan setiap produk yang dibeli melewati proses kurasi. "Kalau ada cacat, kami turunkan harga. Kami juga selalu jujur kepada pembeli bahwa produk tersebut memiliki kekurangan. Transparansi ini penting untuk menjaga kepercayaan," jelasnya.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kain tenun, Santi memiliki mimpi besar untuk menjadikannya mendunia seperti batik. Salah satu langkah konkretnya adalah mencanangkan tanggal 14 Desember sebagai Hari Tenun NTT.

"Kami ingin membuat parade tenun, mencatat rekor MURI, dan menetapkan Hari Tenun NTT. Pada hari itu, semua orang dari anak sekolah hingga pegawai kantor akan memakai tenun," katanya penuh semangat.

Selain itu, Santi dan tim Dekranasda terus mengupayakan keikutsertaan dalam berbagai pameran, seperti Inacraft di Jakarta. "Pameran seperti ini adalah peluang besar untuk memperkenalkan tenun NTT ke pasar nasional dan internasional. Kami juga sering membawa produk ke acara internasional, meski masih dalam tahap promosi, belum ekspor besar-besaran," tuturnya.

Santi mengaku bahwa kecintaannya pada tenun tumbuh seiring waktu. “Awalnya saya hanya sekadar suka. Tapi semakin mengenal, saya jadi mencintai. Sekarang, saya hafal motif-motifnya, asalnya dari mana, bahkan pengrajin di tiap daerah. Ini karena saya benar-benar ingin memajukan tenun NTT,” ujarnya.

Ia juga selalu berusaha menginspirasi masyarakat untuk mencintai produk lokal. “Kadang-kadang, kita tidak bisa mencintai sesuatu kalau belum mengenalnya. Itulah sebabnya saya terus turun ke lapangan, bertemu langsung dengan pengrajin, dan melihat proses menenun. Dari situ, saya jadi lebih paham dan bisa menyampaikan ke orang lain dengan sepenuh hati,” jelasnya.

Santi berharap bahwa suatu hari nanti, tenun NTT bisa mencapai status yang sama dengan batik. Namun, ia juga menyadari tantangan besar yang harus dihadapi. “Batik itu punya versi printing yang harganya lebih terjangkau, sehingga semua orang bisa membeli. Tenun juga perlu adaptasi seperti itu. Tapi, harus ada mekanisme seperti royalti agar penenun tetap mendapatkan manfaat dari motif yang mereka ciptakan," katanya.

Ia menambahkan bahwa keberlanjutan tenun NTT sangat bergantung pada penguatan kualitas, edukasi pasar, dan promosi. "Dengan bahan baku yang bagus, harga yang wajar, dan promosi yang masif, saya yakin tenun kita bisa diterima dan diminati di pasar global," tutupnya penuh harapan.

Dengan semangat yang ia tunjukkan, Santi Ambarwati tak hanya menjadi penggerak Dekranasda, tetapi juga inspirasi bagi masyarakat NTT untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya mereka. Tenun NTT kini berada di jalur yang tepat untuk menjadi ikon budaya Indonesia di mata dunia.

Reporter : Dede
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018