
Presiden Prabowo turun langsung ke sawah! Panen raya digelar serentak di 14 provinsi, dan Indonesia cetak rekor produksi beras tertinggi dalam 7 tahun terakhir.
TABLOIDSINARTANI.COM -- Presiden Prabowo turun langsung ke sawah! Panen raya digelar serentak di 14 provinsi, dan Indonesia cetak rekor produksi beras tertinggi dalam 7 tahun terakhir.
Angin musim panen bertiup hangat di Desa Randegan Wetan, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka.
Hanya beberapa hari setelah gema takbir Idul Fitri mereda, Presiden Prabowo Subianto turun langsung ke tengah sawah.
Bukan sekadar simbol, ini jadi penanda kuat: petani dan pangan kini berdiri di garda terdepan pembangunan bangsa.
Panen Raya Nasional yang digelar serentak di 14 provinsi dan 157 kabupaten/kota ini bukan cuma soal memanen gabah.
Ini gerakan besar, strategi negara, dan bukti bahwa Indonesia sedang serius menata ulang fondasi ketahanan pangannya.
Data dari BPS lewat Kerangka Sampel Area (KSA) menyebut, luas panen nasional April 2025 mencapai 1,59 juta hektare.
Dari sana, diperkirakan akan lahir 8,63 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 4,97 juta ton beras siap konsumsi.
Presiden Prabowo berdiri di tengah petani, penuh bangga. Ia menegaskan keberhasilan ini bukan cuma soal data dan angka.
Ini kemenangan moral. Ini buah dari keringat petani, kerja keras jajaran kementerian, dan sinergi semua elemen bangsa.
“Tanpa pangan, tak ada negara. Tanpa pangan, tak ada NKRI,” ucapnya lantang.
Dalam pidatonya, ia juga menyentil kondisi dunia saat ini.
Saat negara-negara besar sedang panik menghadapi kelangkaan bahan pangan bahkan sampai telur pun jadi barang langka Indonesia justru berhasil menjaga stabilitas harga.
Ramadan dan Idul Fitri kali ini dilalui dengan harga-harga yang terkendali, terjangkau, dan tenang. Bahkan, ekspor telur melonjak, harga di pasar lokal menurun. Paradoks yang justru jadi kebanggaan.
Sentra Produksi
Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah mendominasi kontribusi produksi bulan ini.
Tapi jangan lupakan Sulawesi Selatan, NTB, dan Lampung, pilar-pilar luar Jawa yang juga menyumbang kekuatan produksi nasional.
Totalnya, ke-14 provinsi ini menyumbang 91,42% produksi gabah nasional April ini.
Tak berhenti di sini, Prabowo memaparkan program-program strategis: mulai dari pencetakan sawah baru, penyederhanaan distribusi pupuk, peningkatan teknologi pertanian, sampai penguatan koperasi desa.
Semua ini dibingkai dalam satu tekad: menjadikan petani hidup makmur, bukan sekadar bertahan hidup.
“Saya ingin rakyat kita bisa beli protein dengan harga masuk akal. Saya ingin desa punya gudang, cold storage, apotek murah, dan truk pengangkut panen, Petani harus makmur," katanya penuh semangat.
Faktor Juara
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang mendampingi Presiden, ikut menambahkan catatan penting.
Salah satunya soal pupuk, yang kini distribusinya jauh lebih sederhana.
Tak perlu lagi tandatangan dari 12 menteri, puluhan gubernur, dan ratusan kepala daerah. Berkat Instruksi Presiden, pupuk kini bisa langsung turun ke kelompok tani (Gapoktan).
“Ini revolusi. Kami keliling, dan petani sekarang bisa tersenyum. Harga gabah naik jadi Rp6.500 per kilogram. Petani bersyukur dan berterima kasih,” ujar Mentan Amran.
Program pompanisasi juga disebut-sebut sebagai kunci penting menghadapi dampak El Nino.
Di Pulau Jawa saja, produksi padi meningkat 2,8 juta ton berkat pompa air yang disalurkan ke sawah-sawah yang kekeringan.
Data dari BPS menunjukkan, pada Januari, Februari, dan Maret produksi meningkat sampai 52%.
Presiden menutup pidatonya dengan nada emosional. Dengan suara yang nyaris bergetar, ia menyebut para petani sebagai “pahlawan produksi”.
Ia janji, pemerintahannya akan berdiri bersama mereka, menyiapkan masa depan pangan yang kuat dan berkelanjutan.
“Tak ada panggilan yang lebih mulia dari membela petani. Kami akan buktikan itu. Bersama-sama," pesannya.
Dengan langkah penuh keyakinan, Indonesia bergerak ke depan.