Wednesday, 21 October 2026


Bangkitkan Pertanian Indonesia, Rachmat Pambudy Serukan Revitalisasi Penelitian dan SDM Pertanian

24 Jun 2025, 22:17 WIBEditor : Gesha

Rachmat Pambudy serukan pentingnya revitalisasi riset dan SDM pertanian sebagai kunci kebangkitan pertanian Indonesia agar tak lagi tertinggal dalam arus perubahan global.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Rachmat Pambudy serukan pentingnya revitalisasi riset dan SDM pertanian sebagai kunci kebangkitan pertanian Indonesia agar tak lagi tertinggal dalam arus perubahan global.

 "Ini waktunya kita tumbuh dan bangkitkan pertanian Indonesia!" seruan itu menggema lantang dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, **Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, MS**, dalam forum Musyawarah Nasional ke-10 Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) di Jakarta, Senin malam (24/6/2025).

Seruan itu bukan sekadar slogan, tapi sebuah refleksi panjang dari sejarah dan visi masa depan pertanian Indonesia, sebuah panggilan untuk bangkit dari tidur panjang, dan menyusun langkah besar berbasis riset, penyuluhan, dan semangat gotong royong.

Dalam pidato panjang yang penuh semangat, Rachmat mengajak seluruh pelaku pertanian untuk menengok kembali kekuatan masa lalu, menghidupkan kembali lembaga penelitian yang dulu pernah menjadi kebanggaan dunia, dan menyiapkan generasi baru petani dan peneliti yang mampu menjawab tantangan zaman.

Rachmat membuka paparannya dengan menggugah kesadaran sejarah. “Indonesia adalah negara pertanian. Bahkan ketika kita belum bernama Indonesia, Nusantara sudah jadi poros kekayaan dunia,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa VOC, konglomerasi dagang asal Belanda, bisa menjadi kekuatan global bukan karena kekuatan politik, melainkan karena kekayaan pertanian Nusantara yakni rempah, kopi, gula, dan hasil bumi lainnya. 

"VOC bukan negara, tapi bisa menguasai negara karena dia menguasai pertanian kita. Ia punya angkatan perang, ia punya kekuasaan, semua dibangun dari kekayaan agraria kita," tegas Rachmat.

Lantas ia bertanya retoris, Bisakah ini kita ulangi, Pak Amran? Mengacu pada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang sebelumnya menyampaikan urgensi hilirisasi komoditas pertanian strategis sebagai mesin penggerak ekonomi bangsa.

Dalam konteks modern, Rachmat menyoroti kenyataan bahwa luas wilayah daratan Indonesia hanya 191 juta hektare, sementara jumlah penduduk sudah menembus 280 juta jiwa. Artinya, rasio lahan per kapita Indonesia termasuk terendah di ASEAN.

"Apa artinya? Kita harus hati-hati, harus cermat memilih tanaman yang kita kembangkan. Harus yang produktivitasnya tinggi dan punya nilai ekonomi besar," tegasnya.

Ia menyebut sejumlah komoditas unggulan masa kini dan masa depan, seperti kopi, kakao, rempah-rempah, sinamon (kayu manis), hingga tanaman kratom yang hanya tumbuh di Indonesia.

Kakao, misalnya, kini telah mencapai harga global lebih dari Rp160 juta per ton, menjadikannya primadona baru ekspor pertanian.

Lembaga Penelitian

“Dulu, lembaga penelitian terbaik dunia ada di Bogor. Tapi setelah kemerdekaan, kita seolah kehilangan arah. Gedungnya masih kokoh, tapi orang-orangnya tidak ada,” ungkapnya, mengingatkan bahwa gedung penyuluhan di Bogor pernah dibangun oleh arsitek legendaris F. Silaban , setara dengan gedung-gedung besar seperti BI atau TNI AU.

Ia menyoroti contoh nyata seperti kayu manis, yang oleh nenek moyang kita telah dimanfaatkan untuk menurunkan gula darah.

Namun karena tak ada riset yang membuktikan secara ilmiah di Indonesia, justru hasil penelitian luar negeri yang dipatenkan dan dikomersialkan. “Kita punya bahan baku, mereka yang dapat nilai tambah,” ucapnya getir.

Tak hanya riset, Rachmat juga menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pemanfaatan bioteknologi canggih.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah memulai embrio transfer sapi di Cipelang sejak tahun 1995, bahkan menghasilkan “sapi kembar 50”.

Kini, Indonesia harus melangkah lebih jauh dengan teknologi seperti CRISPR, guna menghasilkan bibit unggul dari tahap embrio.

“Kalau dulu kita bisa membangun *Repelita* tanpa apa-apa, sekarang kita punya fondasi, tinggal semangatnya yang harus dikobarkan lagi,” katanya membakar semangat peserta Munas.

Mengakhiri pidatonya, Rachmat menyampaikan satu “titipan” khusus kepada Menteri Pertanian dan HKTI: bangkitkan kembali lembaga penelitian, perkuat penyuluhan, siapkan fasilitas, dan kembalikan semangat seperti era awal pembangunan dulu.

“Tantangan memang berat. Tapi seperti yang saya katakan, semakin berat justru akan semakin ringan setelah 15 tahun kita jalani bersama,” tutupnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018