Wednesday, 21 October 2026


Ketum HKTI, Sudaryono : HKTI Harus Kerja, Bukan Cuma Banyak Omong!

26 Jun 2025, 11:48 WIBEditor : Gesha

HKTI harus jadi organisasi modern yang kerja nyata, bukan sekadar banyak omong! Begitu tegas Ketua Umum HKTI, Sudaryono, yang juga Wakil Menteri Pertanian, dalam pidato panas penuh tantangan.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- HKTI harus jadi organisasi modern yang kerja nyata, bukan sekadar banyak omong! Begitu tegas Ketua Umum HKTI, Sudaryono, yang juga Wakil Menteri Pertanian, dalam pidato panas penuh tantangan.

Dalam suasana Munas HKTI yang meriah dan dipenuhi rasa optimisme, Ketua Umum terpilih DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sudaryono, menyampaikan pidato penuh semangat dan guyon segar, namun sarat makna dan arahan tajam.

Ia bukan hanya sekadar menyapa, tetapi juga menantang seluruh pengurus dan kader HKTI untuk menjadi pejuang lapangan yang bergerak cepat, bukan tukang wacana yang hanya pintar bicara.

“Karena itu, saya berharap HKTI jadi organisasi modern yang bekerja! Jangan banyak omong!” tegas Sudaryono, yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Sudaryono melihat tantangan pertanian Indonesia ke depan makin kompleks.

Maka, menurutnya, HKTI harus bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang nyambung dengan program pemerintah, bukan lagi sekadar pengamat atau pengkritik pasif.

Dalam pidatonya yang disambut tawa dan tepuk tangan, Sudaryono mengumumkan rencana yang agak nyeleneh namun penuh pesan simbolik: ia akan mengeluarkan surat edaran larangan sakit dan tidur bagi pengurus HKTI.

“Saya akan keluarkan SE. Dilarang sakit, dilarang tidur. Harus kerja terus sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan!” ucapnya dengan nada bercanda namun sarat sindiran bagi mereka yang malas turun ke lapangan.

Baginya, organisasi hidup itu bukan di seminar dan diskusi belaka. Ia ingin HKTI punya denyut nadi di tengah rakyat, aktif menyapa petani, bukan sekadar menyusun program lalu bubar.

Sudaryono menegaskan bahwa HKTI sejak awal berdirinya adalah mitra pemerintah, bahkan sudah demikian sejak masa Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.

Namun pascareformasi, arah HKTI cenderung tidak sejalan dengan kebijakan negara. Perannya pun banyak berpindah menjadi lembaga advokasi petani.

“Itu bagus, tapi sekarang bukan waktunya hanya advokasi. Kita harus membela langsung, menghubungkan petani dengan kebijakan, dengan program nyata dari pemerintah,” tandasnya.

Ia ingin HKTI terkoneksi langsung dengan strategi besar pertanian nasional. Sebagai Wakil Menteri Pertanian, ia merasa memiliki tanggung jawab ganda: membangun pertanian lewat kebijakan, dan menghidupkan HKTI sebagai perpanjangan tangan program.

Tambahan Pasukan

Sudaryono menyebut bahwa Kementerian Pertanian selama kuartal pertama 2025 mencatat capaian signifikan.

Produksi beras naik hingga 54 persen, dan jagung tumbuh 39 persen. Ia menyebut capaian ini diraih bahkan sebelum dirinya menjadi Ketua Umum HKTI.

“Sekarang saya punya tambahan pasukan: penyuluh pertanian, dinas, Babinsa, dan sekarang HKTI. Tinggal pilih, mau pasukan yang kerja atau cuma bobok bobok?” tantangnya.

Ia ingin HKTI menjadi pasukan tambahan yang bukan cuma hadir di forum, tapi bekerja nyata di desa dan sawah.

Ia juga menegaskan bahwa ke depan akan diterapkan sistem monitoring dan evaluasi ketat. Pengurus provinsi harus menjadi mandor dari kinerja kabupaten, dan hasilnya harus bisa diukur.

Dalam gaya khasnya yang humoris, Sudaryono menyampaikan perumpamaan soal karakter bangsa dari kebiasaan kerjanya. Jepang disebut sebagai bangsa yang banyak kerja sedikit bicara. Jerman bahkan lebih ekstrem, kerja terus, hampir tak banyak omong. China, katanya, bisa kerja dan bicara sekaligus, makanya bisa bangkit cepat.

“Ada juga bangsa yang banyak bicara, sedikit kerja. Itu katanya sih di Afrika, kata orang-orang ya. Nah Indonesia masuk kategori yang mana?” ujarnya disambut gelak tawa.

Pertanyaan retoris itu menyenggol sekaligus mengajak refleksi. Sudaryono menginginkan Indonesia, khususnya HKTI, masuk golongan bangsa yang produktif, yang menjawab tantangan bukan dengan debat, melainkan aksi.

Langkah Kongkret

Sebagai langkah konkret, Sudaryono melempar tantangan ke seluruh pengurus HKTI: adakan minimal dua kegiatan nyata di tingkat kabupaten selama bulan Juli.

“Apa pun itu, asal berdampak untuk petani dan rakyat, silakan. Asal jangan cuma acara seremoni,” tegasnya.

Ia menyebut bahwa sebuah organisasi bisa hidup karena pertemuan dan kegiatan. Tanpa itu, organisasi cuma tinggal papan nama. Ia mencontohkan, acara Munas kali ini bahkan dianggapnya paling mewah sepanjang sejarah HKTI, baik dari segi kemasan maupun dukungan sponsor. Tapi, kemewahan itu harus dibayar dengan kerja keras setelahnya.

Sudaryono juga dengan lugas mengatakan bahwa HKTI di bawah kepemimpinannya tidak akan menjadi tempat nyaman bagi mereka yang suka leha-leha.

“Saya orang kerja. Hobi saya cuma tiga: makan, tidur, dan kerja. Jadi kalau ada yang gak suka kerja, ini akan jadi organisasi yang gak enak buat kalian,” ucapnya setengah serius.

Namun bagi mereka yang mau belajar, mau berkeringat, ia jamin akan jadi perjalanan menyenangkan, penuh tantangan dan kontribusi.

Sudaryono menutup pidatonya dengan nada reflektif: bahwa rakyat Indonesia, khususnya petani, tidak butuh janji-janji kosong. Mereka perlu kehadiran, perhatian, dan pendampingan yang nyata.

“Bagi saya, yang penting bukan bikin program, tapi apakah program itu sampai ke petani? Apakah HKTI hadir saat petani butuh solusi? Itulah yang harus jadi ukuran,” ujarnya penuh penekanan.

Dengan nada patriotik, ia mengajak seluruh jajaran HKTI untuk mewujudkan organisasi modern yang bukan hanya terdengar, tapi juga terasa oleh para petani di pelosok negeri.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018