
Deal dagang RI–AS resmi berlaku. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyebut tarif 0 persen bikin ekspor sawit hingga kakao kian kompetitif, harga lebih nendang, pasar Amerika terbuka lebar, peluang cuan petani ikut terdongkrak.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Deal dagang RI–AS resmi berlaku. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyebut tarif 0 persen bikin ekspor sawit hingga kakao kian kompetitif, harga lebih nendang, pasar Amerika terbuka lebar, peluang cuan petani ikut terdongkrak.
Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menandatangani perjanjian dagang resiprokal yang memberi pembebasan tarif impor (0 %) untuk sejumlah produk unggulan Indonesia, termasuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), kopi, kakao, rempah-rempah, dan karet.
Kesepakatan tersebut tercantum dalam Agreement on Reciprocal Trade, yang menyetujui tarif impor 0 ?gi 1.819 kode tarif (HS Lines) produk Indonesia yang masuk ke pasar AS, mencakup komoditas pertanian dan industri.
Sebagai bagian dari perjanjian yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump, AS menurunkan tarif umum impor Indonesia dari sekitar 32 persen menjadi 19 persen, namun memberikan tarif 0 persen untuk komoditas sawit, kopi, kakao, rempah, dan lainnya yang dipandang strategis dan tidak diproduksi secara besar di dalam negeri AS.
Langkah ini terjadi setelah negosiasi panjang yang dimulai sejak 2025, ketika Indonesia meminta agar produk-produk penting tersebut dibebaskan dari bea masuk karena permintaan tinggi di pasar AS.
Pemberian tarif 0 persen terhadap komoditas unggulan dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor CPO Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar USD 24,42 miliar, naik sekitar 21,8 persen dibandingkan 2024, dengan volume keseluruhan sekitar 23,61 juta ton.
Volume ekspor CPO saja pada Desember 2025 bahkan mencapai 2,75 juta ton senilai sekitar USD 2,79 miliar, melonjak 102 persen secara bulanan dan naik 66,8 persen secara tahunan.
Langkah pembebasan tarif ini diperkirakan akan mendorong ekspor CPO dan kakao Indonesia ke AS dalam tahun-tahun mendatang, sekaligus membuat produk Indonesia lebih kompetitif di tengah persaingan dengan negara eksportir lain.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyambut positif kebijakan tarif 0 persen bagi komoditas pertanian Indonesia di AS, menyebutnya sebagai peluang besar bagi petani dan pelaku usaha agar bisa meningkatkan penetrasi pasar global dan memperkuat daya saing harga produk nasional.
Pemerintah juga menegaskan akan terus memastikan kesiapan produksi dan standar mutu agar komoditas yang bebas tarif ini bisa dimanfaatkan optimal dalam perdagangan internasional.
Selain tarif, perjanjian dagang RI–AS mencakup penghapusan tarif impor hampir 99 % produk AS yang masuk ke Indonesia, termasuk barang industri, otomotif, dan produk pertanian, serta komitmen dalam investasi dan standar perdagangan.
Keseluruhan perjanjian dipandang sebagai fondasi kuat memperluas hubungan ekonomi bilateral, memperkuat posisi Indonesia di pasar global, serta mendorong pertumbuhan ekspor komoditas strategis nasional.