Saturday, 08 August 2026


Kenapa Libatkan TNI dan Polri saat Cetak Sawah, Ini Jawaban Mentan

17 Jun 2026, 13:02 WIBEditor : Yulianto

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat berdialog dengan mahasiswa di Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (6/6).

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Kendari--Pemerintah banyak melibatkan aparat keamanan, seperti TNI dan Polri dalam pengembangan cetak sawah di tanah Papua. Ada apa? ini jawaban Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat berdialog dengan mahasiswa di Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (6/6).

Dalam diskusi tersebut, seorang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo bernama Merius mempertanyakan keterlibatan TNI dan Polri dalam program cetak sawah di Papua. Menurutnya, program pertanian semestinya lebih banyak dikelola langsung oleh masyarakat dan petani setempat.

“Kita tahu bahwa hari ini yang menjadi cetakan sawah terbesar adalah di Papua dan di situ kebanyakan keterlibatan itu TNI-Polri. Namun saya melihat kenapa harus ada TNI-Polri yang terlibat, sedangkan program itu harus dirasakan dan dikelola oleh masyarakat sendiri,” ujar Merius.

 

Menanggapi hal tersebut, Amran menjelaskan, keterlibatan TNI dan Polri bersifat sementara untuk membantu percepatan pembangunan pertanian di daerah yang masih kekurangan tenaga pendamping. 

"Supaya ini ad-hoc saja sementara. Setelah petaninya sudah pintar dan mandiri, polisinya mundur, tentaranya mundur. Bukan hanya di Papua, tetapi di seluruh Indonesia. Kenapa kami gunakan Babinsa? Karena jumlah penyuluh pertanian kita belum cukup. PPL hanya sekitar 37 ribu orang, sementara kebutuhan mencapai 80 ribu,” tutur Amran.

 

Menurut Amran, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam demokrasi dan dunia pendidikan. Justru kritik yang konstruktif dibutuhkan untuk memperbaiki kebijakan dan memperkuat pembangunan nasional.

“Artinya ada perbedaan pemahaman, itu wajar. Itulah Indonesia. Jangan kita sensitif. Kalau mau berhasil, kita harus menerima kritik yang konstruktif. Adik kita ini sedang sekolah, sedang berproses,” ujarnya.

Bagi Mentan Amran, kritik dan perbedaan pandangan tidak boleh menjadi penghalang untuk saling membantu. Sebaliknya, dialog yang terbuka harus menjadi jembatan untuk memperkuat persatuan, membangun pemahaman, dan menghadirkan kepedulian kepada sesama anak bangsa dari Sabang sampai Merauke.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018