
Cetak sawah di Papua, pemerintah turunkan alat berat
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah telah menjadikan Tanah Papua sebagai salah satu lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN). Di wilayah paling ujung timur Indonesia ini, pemerintah mengembangkan pertanian skala besar dengan program cetak sawah. Tujuannya, masyarakat Papua tak lagi tergantung pangan dari luar, tapi bisa mandiri pangan.
Kamis (11/6), ratusan petani Papua bersama kepala daerah mendatangi gedung Kementerian Pertanian di Jalan Harsono RM, Ragunan, Jakarta Selatan. Kedatangan mereka membawa berbagai usulan yang disampaikan kepada Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.
Dari mulai persoalan tambahan cetak sawah hingga pengembangan komoditas unggulan seperti kelapa, pala, kakao, dan kopi, serta berbagai aspirasi yang terkait pembangunan pertanian di wilayah tersebut terungkap dalam forum tersebut. Paling mendapat sorotan adalah program cetak sawah. Apalagi di tengah isu persoalan lingkungan dalam program tersebut.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan, pengembangan pangan di Papua melalui program PSN pemerintah rancang untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Di tengah ancaman krisis pangan, pemerintah harus mempersiapkan ketersediaan pangan jangka panjang seiring pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus meningkat setiap tahun.
“Kalau tidak ditambah, tidak ada PSN untuk padi, sagu, ubi, sementara penduduk bertambah 3,5 juta sampai 4 juta orang per tahun, pangannya dari mana? Ini kita bangun untuk keberlanjutan Republik Indonesia karena penduduk tidak mungkin tidak bertambah,” tutur Amran.
Ia menegaskan, seluruh pengembangan pertanian di Papua menggunakan sistem modern berbasis mekanisasi. Pemerintah memberikan berbagai dukungan kepada masyarakat berupa alat dan mesin pertanian, benih unggul, pembangunan irigasi, hingga pendampingan budidaya untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani.
“Masyarakat kita kasih traktor, dibangun irigasinya dan diberikan benih gratis. Kira-kira salahnya di mana? Padahal kita ingin mereka sejahtera,” katanya. Sedangkan lahan yang dikelola dalam program tersebut merupakan milik masyarakat setempat. Karena itu, ia membantah berbagai narasi yang menyebut masyarakat tidak mendapatkan manfaat dari program tersebut.
Bahkan manfaat program kini mulai dirasakan masyarakat. Penerapan teknologi pertanian modern mampu meningkatkan produktivitas lahan secara signifikan. Jika sebelumnya petani hanya menanam satu kali dalam setahun dengan produktivitas sekitar 3 ton/ha, maka kini hasil panen dapat mencapai sekitar 5-7 ton/ha dengan intensitas tanam hingga tiga kali setahun.
Peningkatan produksi padi juga berdampak pada harga beras. Jika sebelumnya bisa mencapai Rp25-30 ribu/kg, kini di sejumlah wilayah Papua mulai turun dan semakin mendekati harga nasional. "Kita ingin saudara-saudara kita di Papua menikmati harga pangan yang sama dengan masyarakat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi,” ujar Amran.
Dalam program cetak sawah, catatan Kementerian Pertanian total luas yang sedang dikembangkan di Papua pada 2025-2026 mencapai sekitar 80 ribu ha. Sebagian lahan sudah berproduksi dan menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan. "Kurang lebih 30 ribu ha berasal dari program tahun lalu dan sekitar 50 ribu ha tahun ini,” kata Amran.
Amran menegaskan, pembangunan pertanian di Papua akan tetap mengedepankan potensi dan kearifan lokal yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama turun-temurun. Karena itu, selain padi, pemerintah juga terus memperkuat pengembangan sagu, ubi jalar, singkong, kopi, kakao, pala, dan kelapa sebagai komoditas unggulan Papua.
“Kearifan lokal tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan pertanian Papua. Kita ingin seluruh potensi yang dimiliki Papua berkembang secara optimal sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ketahanan pangan daerah,” tuturnya.
Untuk mendukung percepatan pembangunan pertanian di Papua, Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun selama periode 2025-2026. Dukungan tersebut mencakup program cetak sawah, pengembangan komoditas unggulan, bantuan alat dan mesin pertanian, pembangunan irigasi, penyediaan benih, serta berbagai sarana produksi lainnya.
Ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai cetak sawah di tanah papua, bagaimana dampaknya dan tanggapan masyarakat papua. Baca Tabloid Sinar Tani, baik edisi cetak maupun e papernya hubungi tim pemasaran Tabloid Sinar Tani.



