Saturday, 05 September 2026


Dengar Curhat Mahasiswa Alor, Mentan Amran Batalkan Rapat Jakarta dan Terbang Langsung ke NTT

10 Aug 2026, 07:31 WIBEditor : Gesha

Curhat mahasiswa Alor bikin Mentan Amran bergerak cepat. Rapat penting di Jakarta dibatalkan, pesawat langsung diarahkan ke NTT untuk melihat kondisi warga.

TABLOIDSINARTANI.COM, Alor – Curhat mahasiswa Alor bikin Mentan Amran bergerak cepat. Rapat penting di Jakarta dibatalkan, pesawat langsung diarahkan ke NTT untuk melihat kondisi warga.

Curhat mahasiswa asal Alor, Adriano Padama, soal kondisi masyarakat di daerahnya membuat Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengambil langkah cepat.

Amran membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta dan memilih terbang langsung ke Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (8/8/2026).

Keputusan itu diambil setelah Amran mendengar langsung aspirasi Adriano saat mengisi kuliah umum di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, Kamis (6/8).

Dalam kesempatan tersebut, Adriano menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat Alor. Mulai dari harga dan distribusi beras hingga kebutuhan dukungan pemerintah untuk mengembangkan sektor pertanian.

Aspirasi itu rupanya tak berhenti di ruang kuliah.

Amran memilih turun langsung untuk melihat kondisi masyarakat sekaligus memastikan persoalan yang disampaikan mahasiswa tersebut segera ditindaklanjuti.

“Insyaallah kami langsung turun. Kami batalkan acara rapat pimpinan di Jakarta dan langsung terbang ke Alor. Kami sudah lihat, semua permintaan kami penuhi di bawah naungan Kementerian Pertanian,” kata Amran.

Menurut Amran, keberanian Adriano menyampaikan persoalan masyarakat patut diapresiasi. Ia menilai suara mahasiswa dapat menjadi pengingat pemerintah mengenai kebutuhan nyata masyarakat di daerah.

“Dia membawa aspirasi rakyat, bukan kepentingan pribadi. Saya bangga dengan Adriano, ini putra terbaik NTT,” ujar Amran.

Setibanya di Alor, Amran langsung meninjau sejumlah lokasi dan berdialog dengan pemerintah daerah serta masyarakat.

Dari hasil peninjauan tersebut, Amran menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan menjadi salah satu sasaran utama intervensi Kementerian Pertanian di Alor.

Menurut dia, sektor pertanian memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

Karena itu, pemerintah menyiapkan strategi jangka pendek sekaligus jangka panjang.

“Di sini kemiskinan masih tinggi. Solusi tercepatnya adalah pertanian. Karena itu, kita kerjakan yang jangka pendek dan jangka panjang sekaligus,” kata Amran.

Untuk jangka pendek, pemerintah memastikan kebutuhan pangan masyarakat, terutama beras, tetap aman.

Amran menyebut stok beras telah tersedia di gudang. Ia meminta harga beras di Alor tetap terjangkau dan tidak jauh berbeda dengan harga di Jakarta.

"Beras sudah aman, sudah ada di gudang. Harganya harus sama dengan Jakarta, sekitar Rp13 ribu,” tegasnya.

Amran juga menyoroti adanya masyarakat yang membeli beras dengan harga mencapai Rp25 ribu hingga Rp30 ribu.

Ia meminta Bulog melakukan operasi pasar apabila kondisi tersebut masih terjadi.

“Jangan sampai ada lagi masyarakat yang membeli beras dengan harga Rp25 ribu atau Rp30 ribu. Kalau dibutuhkan, Bulog lakukan operasi pasar,” katanya.

Tak hanya beras, Kementerian Pertanian juga menyiapkan dukungan untuk meningkatkan produksi pangan di Alor.

Dukungan tersebut meliputi benih padi dan jagung, alat dan mesin pertanian atau alsintan, serta pompa untuk lahan yang memiliki sumber air.

Dalam kunjungannya, Amran bahkan menambah sejumlah bantuan alsintan dan pompa sesuai kebutuhan yang disampaikan pemerintah daerah dan masyarakat.

Namun, pemerintah tidak hanya mengejar solusi jangka pendek.

Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dalam jangka panjang, Amran mendorong pengembangan komoditas perkebunan yang dinilai sesuai dengan kondisi Alor.

Tiga komoditas yang menjadi perhatian adalah kelapa, kakao, dan jambu mete.

Amran menargetkan pengembangan tanaman tersebut mencapai sedikitnya 10 ribu hektare di Alor.

Jika satu hektare dikelola satu keluarga, menurut perhitungannya, program tersebut berpotensi membuka sumber pendapatan bagi 10 ribu keluarga.

“Kalau satu keluarga empat orang, sekitar 40 ribu orang bisa merasakan manfaatnya. Karena itu, kita harus kerja sungguh-sungguh agar kemiskinan di Alor bisa ditekan,” ujarnya.

Pemerintah juga memastikan masyarakat tidak dibebani biaya awal dalam program tersebut.

Amran mengatakan bibit dan biaya tanam disiapkan pemerintah. Sementara penyuluh pertanian lapangan (PPL) diminta mengawal tanaman hingga tumbuh dan berhasil.

“Bibitnya dari pemerintah, biaya tanamnya juga dari pemerintah. Gratis untuk rakyat. PPL harus mengawal sampai tumbuh dan berhasil,” katanya.

Saat meninjau tanaman kakao, Amran mengapresiasi pertumbuhan bibit yang telah dikembangkan di Alor.

Ia menilai kakao, kelapa, dan mete bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi investasi jangka panjang bagi masyarakat.

“Ini masa depan Alor. Kakao, mete, dan kelapa bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang,” ujar Amran.

Amran menegaskan, kedatangannya ke Alor bukan sekadar kunjungan seremonial.

Ia ingin memastikan program pemerintah benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat dan tidak berhenti pada perencanaan dari pusat.

“Kita tidak boleh hanya berbicara dari Jakarta. Saya datang ke sini untuk melihat langsung, mendengar langsung, dan langsung memutuskan apa yang harus dikerjakan,” pungkasnya.

Reporter : Nattasya
Sumber : Kementan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018