
Suroyo, Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (Faperta UKRI)
TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung---Peringatan Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober dan menjelang genap dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2026, arah kebijakan pembangunan pertanian nasional menorehkan rekor dan sejarah baru.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional per September 2026 menyentuh angka 131,11 atau naik 1,49 persen dibanding Agustus 2026 (129,19). Capaian ini merupakan angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir sekaligus bukti nyata keberhasilan transformasi sektor pangan nasional.
Pencapaian historis ini berbanding lurus dengan melonjaknya produksi delapan komoditas pangan strategis yang diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton, jauh melampaui kebutuhan nasional sebesar 68,22 juta ton. Surplus agregat sebesar 4,69 juta ton berhasil diwujudkan pada komoditas beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Sementara keberhasilan Perum Bulog menyerap 4,13 juta ton setara beras (103,29 persen dari target) serta cadangan pemerintah yang terjaga di atas 4,6 juta ton kian memperkokoh benteng kedaulatan pangan bangsa.
Suroyo, Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (Faperta UKRI) menilai, capaian ini menunjukkan visi Presiden Prabowo dalam menyejahterakan petani dan mewujudkan swasembada pangan nasional berada di jalur yang sangat tepat (on the right track).
"Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dan mendukung penuh kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Kerja keras dua tahun ini terbukti nyata, pangan kita tidak hanya aman dan surplus, tetapi tingkat kesejahteraan rakyat tani melonjak pesat hingga NTP menembus rekor 131,11," ujar Suroyo dalam keterangannya di Bandung, Jumat (16/10).
Suroyo menilai, rekor NTP ini merupakan buah manis dari keberanian Presiden Prabowo mengambil kebijakan yang berpihak kepada petani, lebih progresif dan berdampak langsung di tingkat tapak.
Keberhasilan ini ia menilai, bukti bahwa komitmen Presiden Prabowo menyejahterakan petani bukan sekadar janji, melainkan kenyataan yang dirasakan di sawah-sawah dan ladang-ladang seluruh Indonesia. “Kebijakan beliau terbukti ampuh mengangkat harkat dan daya beli petani kita," tuturnya.
Peningkatan daya beli petani turut didorong oleh intervensi langsung pemerintah melalui penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sejak Oktober 2025 (Kepmentan No. 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025). Kebijakan strategis ini terbukti berhasil memangkas biaya sarana produksi hingga 26 persen dan menghemat anggaran tanpa membebani APBN. Penurunan harga pupuk NPK menjadi Rp92.000 per sak dan pupuk organik menjadi Rp640 per kilogram secara langsung memperbesar margin keuntungan petani.
"Penurunan HET pupuk bersubsidi hingga 20 persen adalah langkah fenomenal dari Presiden Prabowo yang sangat meringankan beban petani. Kebijakan ini membuktikan kepedulian mendalam beliau terhadap struktur biaya produksi yang selama ini mengimpit masyarakat tani," kata Suroyo meyakinkan.
Kawal Program Presiden
Melihat capaian luar biasa ini, lompatan besar harus menjadi fondasi kokoh untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Untuk menyempurnakan dan menjaga keberlanjutan capaian emas tersebut, akademisi Faperta UKRI ini berkomitmen penuh untuk terus berdiri mendampingi pemerintah melalui empat pilar penguatan.
Pertama, pengawalan harga panen. Mengawal penyerapan gabah dan jagung secara konsisten agar harga di tingkat petani tetap stabil dan memberikan keuntungan maksimal, terutama saat panen raya.
Kedua, dukungan penegakan HET pupuk bersubsidi. Mendukung penuh instruksi pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menindak tegas pihak-pihak yang mencoba memainkan harga pupuk bersubsidi di atas HET.
Ketiga, akselerasi subsektor tanaman pangan dan peternakan. Bersama pemerintah memperkuat program insentif bagi subsektor tanaman pangan dan peternakan agar lonjakan kesejahteraannya semakin merata menyamai subsektor perkebunan.
Keempat, penguatan regenerasi petani muda. Menjadikan momentum keberhasilan ini untuk menarik minat generasi muda turun ke sektor pertanian melalui modernisasi, mekanisasi, dan akses pembiayaan yang inklusif.
Suroyo bersama Faperta UKRI menegaskan kesiapan penuh untuk menjadi garda terdepan dalam mengeksekusi visi besar Presiden Prabowo di lapangan, khususnya dalam mencetak wira tani muda di seluruh daerah. Faperta UKRI siap menjadi mitra strategis utama pemerintah untuk mengawal seluruh kebijakan ini.
“Kami yakin, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia tidak hanya akan mencapai swasembada pangan berkelanjutan, tetapi juga mengantarkan petani Indonesia menuju masa depan yang berdaulat, adil, makmur, sejahtera, maju, dan bermartabat," pungkas Suroyo penuh optimisme.