Selasa, 19 November 2019


Menteri Amran : Pertanian Alami Transformasi Besar Dalam 4 Tahun

03 Nov 2018, 09:11 WIBEditor : GESHA

Menteri Pertanian harapkan mahasiswa bisa menjadi agen perubahan dari sebuah transformasi pertanian | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

Generasi muda untuk jadi agen perubahan, karena transformasi di segala bidang

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Makassar --- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta mahasiswa sebagai generasi muda untuk jadi agen perubahan, karena transformasi di segala bidang adalah sebuah keniscayaan jika ingin berdayasaing. Sektor Pertanian pun telah mengalami transformasi besar dalam kurum waktu 4 tahun. 

Perubahan itu diawali revolusi internal yaitu 241 regulasi yang dihapus karena tidak lagi sesuai dengan percepatan pembangunan pertanian.

Demikian pula dari sisi anggaran, ada Rp 800 miliar anggaran perjalanan dinas dan seremonial yang direalokasikan untuk kepentingan petani. “Kami fokuskan itu untuk membeli bibit, obat-obatan dan mesin untuk petani,” tegas Menteri Amran saat memberikan kuliah umum di hadapan Civitas Akademika Universitas Cokroaminoto, Makassar, pada Jumat (2/11).

Hasil dari revolusi internal tersebut sangat signifikan. Dari sebelumnya negara pengimpor pangan, saat ini Indonesia sudah menjadi negara pengekspor pangan.

Ada peningkatan ekspor sebesar 24 persen dengan nilai mencapai Rp 441 triliun. Selain itu, pemanfaatan teknologi berdampak besar bagi peningkatan produksi pertanian.

“Dengan menggunakan alat dan mesin pertanian, kita bisa menghemat Rp 361 triliun. Coba bayangkan, jika menanam padi secara manual, untuk satu hektar saja kita butuh 25 hari. Tapi dengan alsintan, cukup tiga jam saja,” ungkap Amran.

Penggunaan alsintan juga bisa menekan angka kehilangan (loses) hasil panen yang sebelumnya bisa mencapai 10 persen.

Oleh karenanya, Kementerian Pertanian menggenjot pemanfaatan alsintan hingga mengalami kenaikan mencapai 2000 persen.

Bahkan saat ini Kementerian Pertanian sudah mengembangkan traktor yang bisa dioperasikan secara otomatis.

“Petani bisa melakukan tanam dan panen dari rumah, semuanya sudah diprogram, tanpa harus dikemudikan sendiri. Jadi sambil bercengkerama di rumah, tanam dan panen tetap bisa jalan,” ucapnya.

Amran juga mengungkapkan salah satu terobosan yang dilakukan di era Pemerintahan Jokowi-JK adalah Asuransi Pertanian.

Asuransi ini untuk melindungi petani dari risiko kerugian akibat kegagalan panen karena bencana alam dan serangan hama.

Tidak hanya itu, program asurasi juga sudah diperluas ke sektor peternakan, dengan adanya asuransi bagi ternak sapi.

Di sisi lain, Amran juga mengungkapkan sebagai negara agraris, Indonesia punya potensi yang sangat besar, sehingga berani menargetkan untuk menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Ada dua raksasa besar yang sedang dibangkitkan, yakni pemanfaatan lahan rawa dan optimalisasi lahan tadah hujan.

“Ada 10 juta ha lahan rawa yang kita manfaatkan. Caranya, dengan meningkatkan indeks pertanaman. Jika sebelumnya hanya satu kali tanam dalam setahun, dengan segala teknologi yang ada, bisa kita tanam tiga kali dalam setahun,” papar Amran.

Raksasa yang kedua adalah lahan tadah hujan yang hanya bisa dimanfaatkan ketika musim hujan saja. Namun dengan membangun embung, lahan tadah hujan tersebut juga bisa ditingkatkan indeks pertanamannya.    

Oleh karena itu, Amran menekankan agar mahasiswa juga mampu menjadi agen perubahan. Mampu mengubah keadaan yang ada dengan aneka terobosan dan ide-ide kreatif seperti yang telah dilakukan Kementerian Pertanian.

“Jangan kalah dengan Steve Jobs, bos Apple, atau Mark Zuckenberg yang cuma mahasiswa drop out, tapi bisa jadi konglomerat. Kalian harus punya semangat untuk lebih dari mereka,” ucap Amran menyemangati.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018