Kamis, 27 Juni 2019


KEMENTAN : Kesejahteraan Dilihat Menyeluruh, NTP Maret 2019 Lebih Tinggi dari Tahun Lalu

03 Apr 2019, 06:39 WIBEditor : Gesha

Perlu analisa menyeluruh untuk mengklaim kesejahteraan petani. Tidak bisa dilakukan hanya melihat NTP | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

Sangat keliru jika menyoroti data NTP untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Sebab NTP bukankah satu-satunya alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani secara langsung, namun lebih pada tren kemampuan atau daya beli petani.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---- BPS mencatat, NTP Maret 2019 menurun dibandingkan Februari dan Januari. Namun jika dibandingkan tahun 2018, NTP Maret 2019, lebih tinggi. 

"Agar NTP menggambarkan tingkat kesejahteraan, harus dibaca tahunan karena komoditas pertanian adalah tanaman semusim. Kalau dibaca bulanan ya pasti berfluktuasi antar bulan karena fenomena musiman," tutur Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Bambang Sugiharto kepada tabloidsinartani.com.

Data BPS menunjukkan NTP Pertanian Maret 2019 sebesar 102,73 lebih tinggi 0,77 persen dibandingkan Maret 2018 sebesar 101,94.

Lebih lanjut Bambang mengatakan data BPS harga gabah Maret 2019 di petani Rp 4.604 per kg dan di penggilingan Rp 4.706 per kg cukup menguntungkan petani. NTP Tanaman Pangan pada Maret 2019 sebesar 105,31 lebih tinggi 3,39 persen dibandingkan bulan yang sama tahun 2018 sebesar 101,86.

"Angka NTP di atas 100 berarti pendapatan petani lebih tinggi dari pada pengeluarannya atau surplus, dan bila dilihat dari trend menunjukkan kondisi NTP Pertanian dan NTP Tanaman Pangan semakin membaik," ujarnya.

Untuk diketahui, BPS pada hari Senin (1/4) sempat merilis Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2019 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya dan membuat geger skala nasional karena selama ini selalu dianggap membaik.

BPS mencatat harga gabah kering panen pada periode Maret 2019 turun, dan menyebabkan harga beras di penggilingan mengalami penurunan harga.

Imbasnya, NTP pun turun, lantaran kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang di konsumsi rumah tangga. NTP Maret 2019 tercatat turun 0,21% menjadi 102,73 dari bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).

Penurunan paling tajam terjadi pada subsektor tanaman pangan. Rata-rata gabah kering petani Rp 4.604 per kilogram, atau turun 9,87%. Di tingkat penggilingan, Rp 4.706 per kilogram atau turun 9,87% dibandingkan harga gabah kualitas yang sama.

Turunnya harga gabah pada musim panen diamini Bambang menjadi salah satu penyebab NTP Maret 2019 turun, namun hal tersebut bagi Bambang tidak bisa dijadikan ukuran tingkat kesejahteraan petani.

Menurut Bambang, NTP bukan satu-satunya alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. "Sangat keliru jika menyoroti data NTP untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Sebab NTP bukankah satu-satunya alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani secara langsung, namun lebih pada tren kemampuan atau daya beli petani," pungkasnya.

Bambang menambahkan hal yang sama untuk Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Tanaman Pangan pada Maret 2019 sebesar 111,23 naik 2,01 persen dibandingkan bulan Maret 2018 sebesar 109,04. Angka ini juga menunjukkan suplus dan trend yang membaik.

Analisis NTP jangka panjang menunjukkan semakin menguat, angka BPS berupa NTP Pertanian 2018 sebesar 102,46 naik 0,42 persen dibandingkan tahun 2014 sebesar 102,03.

Untuk NTP Tanaman Pangan 2018 sebesar 102,92 naik 4,12 persen dibandingkan tahun 2014 sebesar 98,88. "Begitu pun untuk NTUP 2014 hingga 2018 juga meningkat bagus, naik 5,39 persen," tandas Bambang.

Selain NTP, Bambang menjelaskan untuk melihat tingkat kesejahteraan perlu juga melihat tingkat inflasi yang dirilis BPS. Pada 2014 tercatat inflasi bahan pangan sebesar 10,57 persen dan 2017 turun menjadi 1,57 persen.

"Ini capaian yang luar biasa, baru kali ini terjadi penurunan inflasi bahan pangan yang sangat tajam. Pada 2018 pun inflasi pun turun 3 persen. Artinya selama 4 tahun lebih petani merasa gembira, sejahtera," ungkapnya.

Belum lagi, Total ekspor komoditas pertanian selama 4,5 tahun terakhir naik 29 persen nilainya mencapai Rp 1.300 triliun. Kemudian Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari tahun 2014 yang hanya Rp 900 triliun naik menjadi Rp 1.462 triliun di tahun 2018 serta kemajuan sektor pertanian Indonesia masuk peringkat 5 dunia dari 224 negara.

"Capaian ekspor dan PDB ini pastinya dirasakan petani manfaatknya. Uang tidak mengalir ke luar, tapi dinikmati petani," tutupnya.   

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018