Kamis, 23 Mei 2019


Papua, Pintu Gerbang Ekonomi Wilayah Pasifik

16 Apr 2019, 19:59 WIBEditor : Yulianto

Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil bersama Gubernur Papua, Lukas Enembe | Sumber Foto:Humas Karantina

Barantan selain bertugas melakukan proteksi terhadap kemungkinan masuknya hama penyakit hewan dan tumbuhan, juga bersama instansi terkait, baik di pusat dan daerah melakukan lompatan kinerja guna mendongkrak ekspor asal komoditas pertanian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jayapura --- Secara geografis, Provinsi Papua merupakan pintu gerbang bagi negara-negara di wilayah perairan Pasifik. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, Papua dapat menjadi pintu masuk ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian, Ali Jamil saat melakukan pertemuan dengan Gubernur Papua, Lukas Enembe di Gedung Negara, Jayapura, Senin (15/4).

"Kami laporkan, di konter layanan karantina pertanian Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw setiap hari kita mensuplai bahan makanan pokok yang menjadi komoditas lapor karantina," kata Jamil.

Pada kesempatan ini, Jamil memberikan secara simbolis akses Indonesia Map of Agricultural Commodities Exports (I-MACE) pada pemerintah Provinsi Papua. Aplikasi tersebut berisi tentang perkembangan data ekspor berbagai komoditas pertanian dari daerah terkait. Dimaksudkan juga agar pemerintah provinsi dapat membaca dan mengoptimalkan potensi pertanian yang ada di daerahnya.

"Dengan tools ini, harapannya kebijakan pembangunan kawasan pertanian daerah berorientasi ekspor dapat lebih optimal," ujar Jamil.

Barantan selain bertugas melakukan proteksi terhadap kemungkinan masuknya hama penyakit hewan dan tumbuhan, juga bersama instansi terkait, baik di pusat dan daerah melakukan lompatan kinerja guna mendongkrak ekspor asal komoditas pertanian.

Dari sisi volume dan jenis cukup banyak, sebagai contoh produk turunan gandum berupa tepung terigu setiap harinya tercatat 10 ton. Belum lagi komoditas pertanian lainnya seperti daging ayam segar, kayu lapis, biji kopi, vanili, susu dan sosis.

Kepala Karantina Jayapura, Muklis Natsir menyampaikan data otomasi perkarantinaan, IQFAST di wilayah kerja yakni ekspor produk non migas bidang pertanian dari Jayapura pada tahun 2018 mencapai Rp 35,6 miliar. Terjadi tren peningkatan di trisemester awal 2019 yakni ekspor sudah mencapai 29,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 10,3 miliar.

Ada 5 komoditas unggulan ekspor yaitu berupa kayu merbau, tepung terigu, katu lapis, biji kopi dan vanili. Adapun tujuan negara diantaranya Tiongkok, Papua Nugini dan Amerika Serikat.

Sedangkan komoditas lainnya yang diminati pasar dalam negeri, seperti cangkang sawit, CPO, biji kakao dan kopra. Dengan tujuan daerahnya seperti Kalimantan, Medan, Surabaya, Denpasar dan Yogyakarta. Hingga Maret 2019, biji kakao yang dilalulintaskan sebanyak 75,9 ton. senilainya Rp 2,3 miliar.

Dalam pertemuan tersebut, diekspose juga produk kopi Wamena, Kabupaten Jayawijaya memiliki cita rasa yang khas. Dengan luas lahan pertanian kopi di Jayawijaya yang mencapai 1.910 ha yang tersebar di 24 Distrik seperti di Walesi, Kurulu, Hubertus dan Pyramid.

Dengan produktivitas kopi Wamena berada pada kisaran 600-650 kg/ha dan produksi kopi pada tahun 2017 sebanyak 125,8 ton. Komoditas kopi Wamena jadi salah satu contoh komoditas unggulan yang harus didorong. Belum lagi komoditas ekspor lain yang mulai banyak permintaannya.

Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe mengapresiasi program yang tengah dilakukan oleh Kementan melalui Barantan dalam akselerasi ekspor. Ia berharap program bimbingan teknis, Agro Gemilang yang ditujukan terutama pada calon eksportir baru di Papua dapat terus ditingkatkan.

Lukas juga akan segera memproses status Bandar Udara Sentani sebagai tempat pengeluaran ekspor pemerintah pusat. Papua harus segera dapat menjadi lumbung pangan bagi negara-negara di perairan Pasifik, tegasnya.


 

 

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018