Minggu, 20 Oktober 2019


BJ Habibie, Darah Kental Pertanian dalam Diri Sang Teknokrat

11 Sep 2019, 21:27 WIBEditor : Gesha

BJ Habibie, sang teknokrat kebanggaan Indonesia | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Meskipun hanya menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ke 3 (1998-1999) dan meneruskan kebijakan Repelita VI, ternyata pertanian sangat melekat dalam diri sang teknokrat ini.

Baharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan BJ. Habibie adalah seorang negarawan dan teknokrat terbaik yang dimiliki oleh Indonesia. Beliau menjadi Presiden RI ke 3 dengan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dari Presiden Soeharto yang lengser yang terjadi atas tekanan masyarakat dan mahasiswa ditambahi krisis moneter. 

Transformasi kekuasaan kepada wakil presiden BJ Habibie menjadi presiden RI setelah mundurnya Soeharto, ternyata tidak menghasilkan suatu perubahan yang progresif khususnya berkaitan dengan persoalan pangan serta pertanian. Kebijakan pertaniannya hanya meneruskan kebijakan pada Repelita VI dari Presiden Soeharto.

Kebijakan ekonomi yang cukup populis di eranya adalah mampu mengendalikan angka rupiah dari belasan ribu hingga berada di bawah Rp 7.000 jelang akhir masa pemerintahannya.

Namun darah pertanian begitu kental mengalir dalam jiwa sang teknokrat ini. Bagaimana tidak, ayahanda sang teknokrat, Alwi Abdul Jalil Habibie adalah orang asli Gorontalo yang bersekolah di Nederlandsch Indische Veeartsenschool di Buitenzorg (Bogor) atau sekarang dikenal dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Karier ayahanda BJ Habibie awalnya sebagai Adjunt Landbouw Consulen di kota Parepare, Sulawesi Selatan dengan daerah tugas yang sekarang telah menjadi Kabupaten Barru, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kabupaten Pinrang.

Salah satu tugas Alwi Abdul Jalil Habibie adalah membimbing dan membina Mantri Pertanian pada wilayah tersebut untuk melakukan eksperimen, menciptakan jenis-jenis tanaman yang bisa menjadi “bibit unggul”.

Dari Parepare, ia dipromosikan menjadi Kepala Jawatan Pertanian di Makassar dengan daerah tugasnya meliputi Indonesia Bagian Timur. B.J. "Rudy" Habibie masuk Gorontalo untuk kali pertama saat baru menginjak usia belasan.

Ayahandanya seringkali melihat ketertarikan Rudy akan pesawat terbang dan senantiasa mendukung dalam kalimat motivasi yang menguatkannya untuk menjadi seorang teknokrat.

Pada 13 September 1950 ayahanda meninggal karena serangan jantung saat sujud dan berpesan ke istrinya agar anaknya melanjutkan pendidikan setingginya dan berpesan ke ibunda  agar memindahkan keluarganya ke Jawa. Saat itulah Rudy dibawa ke Jawa untuk meneruskan sekolahnya di sana.

Setelah lulus dari Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institute Teknologi Bandung), Rudy Habibie meneruskan studi teknik penerbangan di Rhenisch Wesfalische Tehnisce Hoscule (RWTH), Aachen, Jerman Barat.

Ada satu pesan ayahanda Rudy Habibie yang membawanya kembali pada pangkuan ibu pertiwi. "Rudy,kamu harus menjadi mata air,kalau kamu baik pasti di sekitarmu akan baik, tapi kalau kamu kotor pasti disekelilingmu akan mati. Ada banyak sekali orang di muka bumi ini, banyak sekali ragamnya. Jangan sampai kamu lukai mereka. Itu intinya ".

Mungkin, jika tanpa keteguhan hati dan rasa cinta kepada tanah air, Indonesia tidak berhasil membuat pesawat N-250 Gatotkaca produksi di IPTN Bandung. “N-250 adalah hadiah saya untuk ulang tahun Indonesia yang ke-50 waktu itu. Anak muda Indonesia sekarang harus lebih hebat dari Habibie, karena segala fasilitas untuk berinovasi saat ini sangat lengkap,” ujar Habibie.

Ide pertama Habibie untuk menciptakan kapal terbang, terinspirasi saat beliau melakukan perjalanan dari Makassar ke Jakarta dengan menggunakan kapal laut. Ia membutuhkan lima hari perjalanan. Fenomena tersebut yang mendorong beliau untuk berpikir bagaimana untuk menciptakan pesawat terbang.

Kini sang teknokrat tersebut sudah berpulang ke pangkuan Illahi pada 11 September 2019 di usia 83 tahun. Semoga setiap warisan ilmu dan motivasinya membuat generasi milenial Indonesia semakin lebih mencintai negeri sekaligus membuat karya yang kian membanggakan Indonesia di mata dunia.

Selamat tinggal sang Teknokrat kebanggaan Indonesia, BJ Habibie !.

 

Reporter : TABLOID SINAR TANI
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018