Wednesday, 21 October 2026


Tertimpa Pandemi, Ekspor Bambu Hoki Tetap Hoki

16 Nov 2020, 20:33 WIBEditor : Yulianto

Ekspor dracaena (babmbu hoki) tetap berjalan meski tertimpa Covid-19

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi---Berbeda jauh dari kondisi pasar lokal, dracaena atau yang biasa dijuluki Bambu Hoki justru menjadi salah satu tonggak ekspor florikultura. Ekspor dracaena terus berjalan, meski tidak sebanyak di tahun sebelumnya.

"Permintaan ekspor dracaena dari beberapa negara tujuan ekspor masih tinggi hingga saat ini. Biasanya kami Alamanda bisa melakukan ekspor dracaena 2 - 3 kontainer tiap bulan. Rutinnya 2 kontainer tiap bulan. Bulan ini kami kirim 1 kontainer dracaena dengan tujuan ke Cina,” papar salah satu anggota Poktan Alamanda Sukabumi, Ahen di sela-sela kesibukannya mempersiapkan proses ekspor.

Di saat pandemi Covid-19 melanda sendi-sendi perekonomian di berbagai sektor tak terkecuali sektor pertanian, justru permintaan ekspor tanaman florikultura terutama dracaena dari Poktan Alamanda Sukabumi masih meningkat dan menguntungkan. Apalagi beberapa negara pesaing mengalami goncangan akibat pandemi Covid-19.

Ahen mengakui, awal 2020 permintaan dracaena sempat turun. Bahkan saat lockdown diterapkan beberapa negara, eksportir dracaena dari negara-negara lain juga turut menghentikan sementara ekspornya.

“Banyak buyer yang beralih ke kita. Sejak Maret hingga sekarang, kami mengekspor hingga 20 kontainer dracaena. Pada 2021 kami sanggup menargetkan ekspor sebanyak 30 kontainer,” lanjut Ahen.

Selain negara China, negara yang masih eksis mengimpor bambu hoki dari Poktan Alamanda diantaranya negara-negara di benua Asia, Eropa, Rusia dan Amerika. Selain dracaena, Poktan Alamanda juga mengekspor polyscias ke Timur Tengah. Polyscias yang diekspor ada tiga jenis, masing-masing jenis memiliki bentuk daun yang berbeda-beda.

Menurut Ahen, pengembangan dracaena skala ekspor memang memerlukan usaha yang luar biasa. Karena itu, pihaknya terus mengembangkan inovasi, seperti model rangkaian dracaena baru serta pengembangan vas dracaena. “Kami juga akan melakukan studi ke Vietnam terkait pengembangan tanaman Polyscias,” tambah Ahen.

Sebagai informasi, kata Ahen, Vietnam telah mengembangkan Polyscias untuk dimanfaatkan akarnya sebagaimana halnya ginseng. Disinyalir kandungan akar Polyscias dapat digunakan sebagai herbal. “Jadi Polyscias ini tidak hanya memiliki nilai estetika di penampilan saja, tetapi juga bermanfaat sebagai bahan pengobatan,” ujarnya.

Selain Poktan Alamanda, ada beberapa kelompok tani yang mengembangkan dracaena untuk tujuan ekspor diantaranya adalah Poktan Gandaresmi, yang berlokasi di Desa Karawang. Poktan Gandaresmi yang diketuai Ceceo tengah berencana untuk membuka ekspor tujuan Belanda. Terkait rencana ekspor ke Belanda, Poktan Gandaresmi akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi dan Badan Karantina Pertanian.

Direktur Buah dan Florikultura, Ditjen Hortikultura, Liferdi Lukman mengungkapkan, peluang ekspor masih sangat terbuka lebar. Tahun ini, Direktorat Jenderal Hortikultura mengembangkan dracaena seluas 1 ha di Kabupaten Sukabumi untuk meningkatkan produksi. Bantuan pengembangan dracaena ini diberikan kepada lima kelompok tani dracaena. Tak hanya itu, pada 2021 akan diberikan tambahan anggaran untuk 2 ha kawasan.

Diakui, peningkatan jumlah permintaan ekspor belum bisa diimbangi dengan jumlah produksi karena luas lahan pengembangan dracaena saat ini masih terbatas. Dengan peningkatan luas lahan diharapkan dapat meningkatkan kuota ekspor serta meningkatkan gairah petani dalam pengembangan dracaena.

 

 

Reporter : kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018