
Gegara harga plastik naik tajam, biaya kemasan ikut membengkak dan akhirnya memicu lonjakan harga pangan di pasar. Beras, minyak goreng hingga sembako lain ikut meroket, bikin pedagang dan konsumen tertekan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Gegara harga plastik naik tajam, biaya kemasan ikut membengkak dan akhirnya memicu lonjakan harga pangan di pasar. Beras, minyak goreng hingga sembako lain ikut meroket, bikin pedagang dan konsumen tertekan.
Kenaikan harga pangan kembali terjadi di sejumlah pasar domestik pada pertengahan April 2026. Lonjakan ini bukan hanya dipicu faktor pasokan bahan pokok, tetapi juga diduga kuat akibat meningkatnya biaya kemasan plastik yang ikut menekan harga jual di tingkat pedagang.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) nasional, sejumlah komoditas seperti beras dan minyak goreng mengalami kenaikan harga pada Minggu (19/4/2026). Kenaikan paling terasa terjadi pada beras dan minyak goreng kemasan yang kini makin mahal di pasaran.
Harga beras kualitas bawah I naik 0,69 persen menjadi Rp14.600 per kilogram, sementara kualitas bawah II berada di Rp14.550 per kilogram. Untuk beras medium I dan II juga ikut naik masing-masing menjadi Rp16.100 dan Rp15.950 per kilogram.
Sementara itu, minyak goreng mengalami kenaikan lebih tajam. Minyak goreng curah naik sekitar 1 persen menjadi Rp20.300 per kilogram. Adapun minyak goreng kemasan merek I dan II masing-masing naik 1,08 persen dan 1,34 persen menjadi Rp23.500 dan Rp22.650 per kilogram.
Kenaikan harga ini memicu perhatian pelaku pasar. Ketua Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (DPW APPSI), Ngadiran, menyebut salah satu faktor yang ikut mendorong kenaikan harga pangan saat ini adalah mahalnya biaya kemasan plastik yang digunakan dalam distribusi produk.
“Karena plastik harganya sekarang sangat mahal, itu yang ikut memengaruhi harga jual di pasar,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan biaya kemasan tidak hanya berdampak pada produk olahan, tetapi juga merembet ke harga kebutuhan pokok yang dikemas, seperti minyak goreng dan bahan pangan lainnya.
Kondisi ini membuat pelaku usaha kecil di pasar tradisional ikut merasakan tekanan. Banyak pedagang mengaku harus menyesuaikan harga jual agar tetap bisa menutup biaya operasional yang terus meningkat, termasuk dari sisi pengemasan dan distribusi.
Selain faktor plastik, biaya logistik dan distribusi juga dinilai ikut memperburuk tekanan harga di tingkat konsumen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga. Cabai rawit merah tercatat turun 13,9 persen menjadi Rp71.550 per kilogram, disusul cabai rawit hijau yang turun 7,55 persen ke Rp48.950 per kilogram. Bawang merah juga melemah 2,53 persen menjadi Rp46.150 per kilogram, serta bawang putih turun 0,62 persen ke Rp39.950 per kilogram.
Namun penurunan ini belum cukup menahan laju kenaikan pada komoditas lain, terutama yang terdampak biaya kemasan.
Menanggapi kondisi tersebut, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menyatakan pemerintah akan memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menjaga stabilitas harga, termasuk memastikan ketersediaan bahan pendukung seperti plastik kemasan.
Menurutnya, gangguan pada rantai pasok bahan kemasan bisa berdampak langsung pada harga pangan di pasar.
“Pemerintah akan memperkuat koordinasi agar pasokan bahan kemasan tetap stabil, sehingga tidak menekan harga pangan di tingkat konsumen,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa stabilitas pangan tidak hanya bergantung pada produksi bahan pokok, tetapi juga pada efisiensi rantai distribusi dari hulu ke hilir.
Para pelaku pasar berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah strategis untuk menekan biaya distribusi, termasuk stabilisasi harga bahan kemasan yang kini menjadi salah satu komponen penting dalam rantai pasok pangan nasional.