Selasa, 26 Maret 2019


Canggih ! Butter Cocoa Kendari Goes to Belanda

11 Mar 2019, 21:56 WIBEditor : Gesha

Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi menunjukkan butter cocoa yang akan diekspor langsung ke Belanda | Sumber Foto:HUMAS KARANTINA

Dengan fasilitas pelabuhan yang lengkap, kini Kendari bisa langsung kirim komoditas produk pertanian unggulannya langsun ke negara tujuan


TABLOIDSINARTANI.COM, Kendari --- Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) melepas Sertiikat Kesehatan Tumbuhan atau Phyosanitary Certificate Butter Cocoa sebanyak 80 ton ke Belanda. Pelepasan ekspor ini merupakan yang perdana diberangkatkan dari Pelabuhan Newport Bungkutoko, Kendari.

"Dengan fasilitas pelabuhan yang lengkap, kini Kendari bisa langsung kirim komoditas produk pertanian unggulannya ke Belanda, Selamat ," kata, Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Barantan,  Agus Sunanto saat melepas ekspor di pelabuhan Bungkutoko, Kendari, Senin (11/3).

Kepala Karantina Pertanian Kendari, Mastari memaparkan bahwa nilai ekspor komoditas olahan produk pertanian unggulan asal Kendari yang kali ini diekspor setara dengan Rp 8,117 miliar. Dari data lalulintas ekspor produk pertanian melalui wilayah kerjanya sepanjang tahun  2018 adalah 360 ton setara dengan nilai Rp 36, 5 miliar dengan 4 kali frekuensi.

Komoditas jahe  segar juga merupakan komoditas yang dilalulintaskan melalui Pelabuhan Bungkutoko. "Tercatat pada Mei 2018, sebanyak 20 ton jahe dengan nilai US$ 17.550 di ekspor ke Taiwan, jelas Mastari.

Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi yang hadir dan turut menyaksikan pelepasan ekspor langsung secara perdana dari Pelabuhan Bungkutoko ini menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Pertanian khususnya Barantan melakui Karantina Pertanian Kendari atas fasilitasi ekspor produk olahan asal Kendari.

Kedepan Gubernur berharap terjadi kerjasama seluruh pemangku kepentingan termasuk petani dan pelaku usaha untuk mendongkak ekspor. Selain itu, Ali juga berharap akan adanya penambahan negara mitra dagang potensial  lain, karena Provinsi Sulawesi Tenggara khususnya Kendari masih memiliki banyak potensi komoditas lokal.

Gelar Ekspor

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Barantan,  Agus Sunanto menuturkan Barantan adalah pembuka akses ekspor melalui protokol karantina pertanian dan penjaminan kesehatan atau bebas organisme pengganggu tumbuhan karantina dengan penerbitan Phytosanitary Certificate (Sertifikat kesehatan komoditas ekspor).

Barantan selama empat tahun terakhir, telah melakukan berbagai kebijakan dalam mendukung ekspor dan impor produk dengan standar mutu. Salah satunya adalah dengan kebijakan standar internasional, yakni mengembangkan Implementing Arrangement for The  Exchange  of Electronic Certification. e-Cert Quarantine atau sertifikat karantina secara online yang diberlakukan untuk negara mitra dagang,

Saat ini, baru 3 negara mitra dagang yang dapat melakukan pertukaran data melalui e-Cert yakni Australia, New Zealand dan Belanda. Kedepan proses sertifikasi karantina untuk tujuan ekspor Belanda dapat menggunakan fasilitas ini.

"Kami menargetkan akselerasi ekspor bisa meningkat sebesar 200%, dan upaya kolaboratif dengan semua pihak segera kita realisasikan," tukasnya.

 

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018