Rabu, 19 Juni 2019


Jaminan Lancarnya Distribusi Pasca Lebaran, Kunci Stabil Harga Pangan

24 Mei 2019, 15:05 WIBEditor : Gesha

Kelancaran distribusi bisa menjamin harga pangan tetap stabil hingga pasca Idul Fitri | Sumber Foto:NATTASYA

Agung menegaskan yang kini harus dikawal adalah sistem distribusi dari stok pangan tersebut.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri di tahun 2019 ini, dapan dikatakan pasokan harga pangan tidak mengalami kenaikan yang terlampau jauh atau bisa tergolong stabil. Salah satu kuncinya adalah kelancaran distribusi. Stabilisasi seperti inilah yang akan terus dijaga hingga pasca Idul Fitri mendatang.

"Ketersediaan pangan saat Ramadhan hingga Idul Fitri, aman mulai dari beras, jagung, bawang merah, bawang putih yang kini harganya sudah turun. Cabai bahkan harganya turun dan terlalu murah. Kondisi seperti ini (harga dan pasokan terjangkau) yang kita harapkan bisa terus berlangsung hingga pasca lebaran nanti," ungkap Kepala Badan Ketahanan Pangan, Agung Hendriadi saat meresmikan Toko Tani Indonesia Center (TTIC) di Bogor, Jumat (25/5).

Agung mencontohkan, daging sapi kini sudah ada stok sebanyak 151 ribu ton. Sedangkan kebutuhan selama dua bulan terahir (Ramadhan-Idul Fitri) hanya 80 ribu ton. "Stok cukup, jadi tidak ada alasan harga naik!," tukasnya.

Agung menegaskan yang kini harus dikawal adalah sistem distribusi dari stok pangan tersebut. "Misalnya cabai, bawang kini tengah masuki masa panen, telur ayam produksinya berlebihan. Stoknya ada dan selalu ada, maka harus kita kawal adalah distribusinya agar menjamin harga pangan tetap stabil," tegasnya.

Apabila nantinya ada kenaikan harga dari komoditas pangan tersebut, Toko Tani Indonesia (TTI) akan melakukan operasi pasar. "Terlebih komoditas daging, ayam dan telur. Begitu ada gejala naik, kita langsung guyur pasar. Kita siap dengan mitra kita, peternak-peternak kita," tegasnya.

Mekanisme inilah yang sudah dibangun Badan Ketahanan Pangan bersama Direktorat Jenderal Teknis dan produsen pangan, terlebih jika harga di produsen tidak ada kenaikan namun harga di pasar dan konsumen mengalami kenaikan tajam. Lebih lanjut Agung menuturkan pengawalan dan kelancaran distribusi pangan ini dilakukan bersama-sama dengan Satgas Pangan.

Untuk diketahui, Satgas Pangan dibentuk pemerintah sejak tahun 2017 sebagai bentuk kerjasama Kepolisian dengan Kementerian/Lembaga terkait untuk stabilisasi harga pangan. Tugas utama Satgas Pangan ini melakukan pengawasan terhadap harga pokok di pasar dan dievaluasi setiap dua pekan.

Di level daerah, Satgas Pangan dibentuk oleh Polda bersama Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan dalam memantau harga dan ketersediaan pangan.

Monitoring Pasar

BKP juga selalu melakukan monitoring pasar setiap harinya, khususnya seminggu sebelum Idul Fitri. Monitoring tersebut dilakukan dengan melihat kenyataan harga naik di pasar dan tingkat konsumen, tetapi tidak ada kenaikan yang berarti di tingkat produsen.

Kepala Pusat Distribusi dan Cadangan Pangan, BKP, Prof Risfaheri menuturkan pihaknya selalu mewaspadai dinamika pasar meskipun pasokan dan harga hingga sekarang masih stabil. "Kita tingkatkan monitoring hingga seminggu pertama Lebaran. Dua komoditas yang diwaspadai adalah telur, daging dan ayam," tuturnya.

Prof Risfaheri mencontohkan harga telur yang sempat naik di minggu pertama Ramadhan, kemudian mulai berangsur normal bahkan turun dibandingkan di minggu pertama. "Seminggu akan lebaran pasti naik, tapi selalu kita pantau. Begitupula seminggu pasca Idul Fitri dimana distribusi pasti sedikit terganggu karena belum banyaknya orang yang beraktivitas di pasar," bebernya.

Guna memperlancar distribusi pasokan pasca Lebaran, Prof Risfaheri menuturkan pihaknya akan melakukan berbagai upaya mulai dari membeli stok dan menjualnya langsung dalam bentuk operasi pasar, hingga memberdayakan TTI Center untuk menyentuh langsung pada konsumen.

"Untuk memastikan operasi pasar, kita harus lakukan monitoring pasar terus. Melihat pergerakan harga dan pergerakan distribusinya. Kita ada 1000 orang pemantau harga yang setiap harinya melaporkan berapa harga di produsen, berapa harga di konsumen," tuturnya.

Dari laporan monitoring tersebut, bisa dianalisa dan diambil kesimpulan daerah-daerah mana yang rawan stabilisasi harga. "Biasanya yang sering gejolak itu Jabodetabek, termasuk daerah timur Indonesia yang umum mengalami kenaikan harga," tuturnya.

Penentuan harga yang naik tidak normal, diakui Prof Risfaheri dilihat dari harga acuan. Kalau sudah naik lebih harga acuan ditambah harga di tingkat produsen tidak mengalami kenaikan berarti, maka langsung dilakukan operasi pasar. "Kita tidak bisa menyamaratakan berapa persennya, namun kita analisa dari gap antara harga di produsen dan konsumen yang terlampau jauh, maka kita guyur dengan operasi pasar," tutup Prof Risfaheri.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018