Rabu, 19 Juni 2019


Minat Daerah Optimasi Lahan Rawa Meningkat

23 Mei 2019, 10:14 WIBEditor : Gesha

Ekskavator yang diterjunkan untuk optimasi lahan rawa | Sumber Foto:ISTIMEWA

Dengan potensi lahan rawa yang sangat besar itu, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) melakukan optimasi lahan rawa (lebak/pasang surut) melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi)

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA--- Lahan rawa ibarat raksasa yang tengah tertidur. Dengan potensi yang sangat besar hingga 34 juta hektar (ha), lahan marginal tersebut bisa menjadi penyokong masa depan pangan Indonesia.

Dengan potensi yang sangat besar itu, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) melakukan optimasi lahan rawa (lebak/pasang surut) melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (Serasi). Adanya program itu diharapkan terjadi peningkatan produktivitas dan indeks pertanaman (IP).

Dirjen PSP, Sarwo Edhy mengatakan, program Serasi dilaksanakan dalam rangka peningkatan produktivitas dan pendapatan petani dengan target seluas 500 ribu ha. Pada tahap awal akan dilakukan  di Sumatera Selatan seluas 220.000 ha, Kalimantan Selatan 153.363 ha dan Sulawesi Selatan 33.505 ha.

Menurut Sarwo, semula memang hanya dua provinsi yakni Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing seluas 250 ribu ha. Tapi dalam perkembangannya banyak daerah yang juga ingin mengembangkan lahan rawa. Diantaranya, Lampung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Riau.

“Banyak gubernur yang mengajukan ikut program Serasi. Setelah kami telusuri dan layak karena ada lahannya yang sesuai dan juga petani yang akan menggarap, provinsi yang bisa dialokasikan untuk program serasi adalah Lampung, Kalteng, Kalbar dan Riau,” tuturnya.

Dalam program ini ada beberapa kegiatan yakni, Survei Investigasi dan Desain (SID), rehabilitasi jaringan irigasi, bantuan alsintan pra dan pascapanen, bantuan saprodi, pengembangan usaha melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB), Integrasi budidaya serta melibatkan petani milenial.

Kegiatan ini juga melibatkan TNI-AD dalam pendampingan pelaksanaan kegiatan untuk membantu dalam koordinasi antara Babinsa dengan petani. Selain itu juga  dalam pelaksanaan SID, pendampingan proses pengerjaan fisik di lapangan serta membantu memastikan seluruh pekerjaan terlaksana dengan baik.

“Kerjasama dengan TNI AD ini mendapat respon positif. Apalagi TNI mempunyai kepentingan dalam ketahanan pangan, sehingga menjadi tugas TNI juga,” ujar Sarwo.

Kementan juga terus bekerja dengan petani yang menggarap lahan rawa tersebut dengan bantuan ekskavator dan pompa gratis. Data Ditjen PSP jumlah ekskavator yang telah diterjunkan ke provinsi pengembangan lahan rawa yakni Sumatera Selatan sebanyak 71 unit, Kalimantan Selatan 67 unit ekskavator besar dan 16 unit ekskavator kecil, dan di Sulawesi Selatan sebanyak 25 unit ekskavator.

Jika raksasa tidur berupa rawa tersebut berhasil dibangunkan dan terbukti produktif, maka IP padi bisa mencapai tiga kali dalam setahun. “Sasaran kira ada dua yakni peningkatan IP dan produktivitas,” ujarnya.

Di lokasi Serasi menurut Sarwo, selama ini  IP-nya baru 1 dan 1,5. Dengan program Serasi setidaknya nanti bisa naik menjadi 2, bahkan IP 3. Begitu juga produktivitas yang selama ini masih rendah hanya 2,5-3,5 ton/ha dapat ditingkatkan paling tidak menjadi 5 ton/ha.Di Desa Kandangan, Tanah Laut, dengan optimasi lahan rawa ada yang produktivitasnya mencapai 7 ton/ha.

Meski dalam optimasi lahan rawa tak semudah membalikkan telapak tangan, namun Sarwo optimis program Serasi bisa berhasil. “Dengan hasil itu kita optimis target pengembangan lahan rawa seluas 500 ribu ha bisa tercapai. Apalagi ekskavator sudah diterjunkan dengan jumlah yang cukup di masing-masing provinsi,” tuturnya.

Reporter : Juli
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018