Wednesday, 21 October 2026


Penyuluh sebagai Guru Petani, Namun Tak Menggurui

28 Jun 2021, 07:54 WIBEditor : Gesha

Penyuluh garda terpenting dalam peningkatan kesejahteraan petani

 

 

Oleh : Entang Sastraatmadja

Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat

Sesungguh nya banyak atribut yang melekat dalam diri penyuluh pertanian. Salah satu nya penyuluh pertanian seringkali disebut sebagai gurunya petani beserta keluarganya.

Pelekatan atribut ini wajar, mengingat penyuluhan pertanian sendiri merupakan sistem pendidikan non formal yang diberikan kepada petani beserta keluarga nya di pedesaan. 

Tujuan jangka pendek nya agar terjadi perubahan perilaku, yakni sikap, tindakan dan wawasan nya ke arah yang lebih baik; sedangkan tujuan jangka panjang yang ingin diraih nya adalah mewujudkan kesejahteraan petani dan keluarga nya.

Dalam kaitan nya dengan pendidikan non formal, penyuluh berperan sebagai guru. Berbeda dengan seorang guru dalam sistem pendidikan formal, seorang penyuluh diberi kesempatan untuk mengembangkan metode pengajaran nya secara leluasa dan tidak kaku. 

Penyuluh diminta untuk mampu menularkan pengetahuan yang dimiliki nya. Penyuluh dituntut untuk dapat mengajarkan teknik-teknik budiaya pertanian dengan menggunakan teknologi mutakhir. Penyuluh harus mampu membawa petani ke suasana kehidupan yang lebih baik.

Lebih jauh dari itu, penyuluh ditantang pula untuk dapat menghapuskan kemiskinan petani. Mengacu pada tugas dan tanggungjawab seperti yang disebutkan diatas, ternyata untuk menjadi penyuluh yang handal dan profesional, bukanlah hal yang cukup mudah untuk diraih.

Sebagai "guru", perilaku seorang penyuluh harus dapat "digugu" dan "ditiru". Itulah bahasa kiratanya guru. Digugu artinya dapat dipercaya apa-apa yang dibicarakan nya, sedangkan ditiru artinya harus dapat diikuti atau dijadikan contoh dalam kehidupan. 

Guru memiliki citra sebagai orang yang disegani dan dihormati. Guru adalah sosok seorang pendidik yang menjadi "penitipan" para orang tua yang menyekolahkan putera puteri nya. Guru juga telah didaulat sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. 

Penyuluh pun demikian, sebagai guru petani dalam tata cara bercocok-tanam yang baik, seorang penyuluh mestilah selalu mengikuti perkembangan dan teknologi di bidang budidaya atau pun pemasaran hasil pertanian. 

Penyuluh hari ini, tentu tidak sekedar dituntut untuk mahir dalam mengajari petani dengan cara-cara bertani yang modern, namun penyuluh pun diminta untuk mengajari petani bagaimana cara-cara berdagang yang menguntungkan dari apa-apa yang diproduksi petani, sehingga kesejahteraan nya menjadi lebih baik lagi.

Penyuluh dimohon mampu menciptakan "petani pedagang" yang mampu mengkalkulasi komoditas yang ditanam nya secara ekonomis. Bertani bukan lagi hanya sekedar menanam, namun juga mesti berorientasi bisnis. 

Petani tidak lagi hanya diajari cara-cara meningkatkan produksi, tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana produksi yang meningkat itu, dapat pula meningkatkan kesejahteraan hidup nya. Penyuluh sebagai guru, tentu perlu memiliki kiat-kiat khusus guna mewujudkan harapan diatas.

Untuk itu, agar penyuluh dapat meningkatkan potensi dan kapasitas nya menjadi lebih handal, tentu dibutuhkan pendidikan dan pelatihan yang seirama dengan perguliran jaman. 

Materi Penyuluhan

Penyuluh sebagai Guru Petani tapi tidak Menggurui Petani, artinya petani sebagai orang dewasa tidak mau digurui. Oleh karena itu methodologinya Andragogi harus berbeda dengan mengajari anak-anak (pedagogi).

Andragogi pada dasarnya inventarisasi permasalahan yang dihadapi petani lalu dicarikan solusinya. Learning by doing menjadi pendekatan yang lebih cocok. Penyuluh ketika berhadapan dengan petani/kelompoktani harus pandai membuat suasana cair terlebih dahulu. Setelah itu baru menyampaikan materi penyuluhan kepada petani.

Misalnya ketika penyuluh akan menyampaikan materi penyuluhan diawali dengan menanyakan kondisi pertanamannya dan atau ternaknya apa yang petani lakukan? berapa produksi yang pernah dicapai ? Apabila potensi produksi belum tercapai, berarti ada sesuatu inovasi yang belum diterapkan petani. Disitulah mulai/awal dari penyampaian materi penyuluhan. Itulah yang dimaksud Penyuluh tidak menggurui Petani.

Di sisi lain, Penyuluh tidak boleh dididik dengan materi-materi yang sudah ketinggalan jaman, namun penyuluh perlu dididik dengan materi-materi yang sesuai dengan perkembangan jaman yang sedang menggelinding saat ini. 

Tentu akan lebih keren lagi jika materi-materi yang diberikan kepada penyuluh pun dirancang untuk dapat menangkap isyarat jaman di masa depan. Sebagai seorang guru, mesti nya para penyuluh dapat merenungkan apa-apa yang telah digambarkan diatas.

Sekiranya para penyuluh sudah diberi "amunisi" materi-materi penyuluhan yang berbasis pada aspirasi petani, boleh jadi hasrat untuk menampilkan petani-petani sejahtera, pasti nya bukan lagi mimpi di siang bolong. 

Reporter : Kontributor
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018