Monday, 08 August 2022


Alam yang Kita Kuras, Ternyata Melawan Balik Sangat Keras

14 Jan 2022, 21:15 WIBEditor : Yulianto

Kegiatan urban farming | Sumber Foto:Dok. sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tabloid Sinar Tani edisi kali ini ingin mengingatkan kembali perubahan iklim yang dampaknya semakin terasa. Makin sering dan makin hebat. Walaupun bukan penyebab utama, pertanian adalah penyebab penting perubahan iklim global karena menyumbang (sekitar 25 persen) emisi Rumah Kaca (Green House Gas) akibat pembukaan lahan, peternakan, penggunaan input asal fosil seperti pupuk dan bahan bakar.

Di saat yang sama, pertanian juga merupakan sektor yang terdampak paling serius akibat perubahan iklim. Perubahan pola curah hujan, banjir, kekeringan, serangan hama dan kenaikan suhu menyebabkan produksi pertanian menurun, spesies hewan dan populasi biota laut berkurang serta kenyamanan kerja di pertanian memburuk. 

Dampak perubahan iklim ekstrim mempengaruhi seluruh kehidupan. Akibatnya fatal, karena kenaikan temperatur dunia 2 derajat saja bisa mencairkan gunung es abadi dan meningkatkan permukaan air laut sehingga pulau-pulau kecil di Indonesia bisa tenggelam. Itu perkiraan para ahli. Luar biasa. Jika alam melawan balik ulah manusia yang merusaknya, dampaknya mengerikan.  

Sementara itu tantangan yang dihadapi pertanian pada masa depan memang sangat besar. Menurut FAO, saat ini dunia sudah menggunakan sekitar 80 persen lahan tersedia yang layak untuk ditanami (arable land), dan 15 persen di antaranya dalam keadaan rusak karena manajemen yang buruk.

Pada tahun 2050, waktu yang tidak lama, hanya satu generasi lagi, populasi penduduk dunia akan mencapai 9,7 milyar jiwa, sehingga kebutuhan akan bahan pangan meningkat. Sementara kondisi sumberdaya alam, tanah, air dan agroekologi terdegradasi lebih cepat karena perubahan iklim sehingga kemampuan alam untuk memproduksi semakin berkurang.  Hanya dalam kurun waktu 40 tahun, dunia telah kehilangan sepertiga lahan pertanian. 

Dunia menghadapi perubahan iklim dan mau tidak mau harus beradaptasi terhadap kondisi alam yang lebih buruk. Semua negara harus memenuhi sasaran dan rencana global perbaikan iklim. Biayanya luar biasa tapi tidak bisa ditunda, perubahan iklim sudah nyata dirasakan. Kita harus memperbaiki, menghadapi dan beradaptasi.

Peningkatan produktivitas bahan pangan harus terus diupayakan, tanaman harus mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim, resisten terhadap hama dan kondisi alam ekstrim. Ini semua memerlukan perubahan strategi di sektor pertanian, melalui pengembangan bioteknologi, benih yang toleran terhadap kekeringan, hama penyakit dan salinitas.

Kembali ke alam adalah yang terbaik, tetapi tetap dengan sasaran produktivitas karena peningkatan populasi memerlukan peningkatan produksi pangan dalam jumlah lebih besar. Pembatasan penggunaan transportasi dan alat pertanian berbahan bakar fosil menjadi keniscayaan.

Pertanian yang ramah lingkungan sudah diterapkan di seluruh dunia dengan tingkatan yang berbeda-beda. Di Indonesia sudah dikembangkan sistem pertanian yang ramah lingkungan. Pertanian skala rumah tangga, termasuk di perkotaan (urban farming) semakin memasyarakat.

Pertanian harus hemat lahan dan zero waste. Pertanian di lahan sempit terbatas menjamur dengan menggunakan teknologi hemat lahan dan hemat air, seperti hidroponik, aquaponik dan pertanian vertikal. Wujudnya adalah pertanian yang multi fungsi yang indah dan menyejukkan. Kondisi yang sudah berkembang baik ini perlu terus dipupuk dan difasilitasi melalui kebijakan pemerintah yang tepat.

Banyak teknologi yang efektif bisa dilakukan, tapi yang utama adalah menata perilaku manusia agar menahan keinginannya untuk tidak berlebihan menguras kekayaan alam di dunia. Semoga 

 

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018