Thursday, 30 June 2022


Langkanya Minyak Goreng di Negeri Kaya Sawit

16 Mar 2022, 19:07 WIBEditor : Yulianto

Petani sawit berharap pemerintah meninjau ulang RPP UU Cipta Kerja | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Meroketnya harga minyak goreng di Indonesia selain menjadikan sebuah ironi, juga berkontribusi besar terhadap inflasi. Padahal Indonesia merupakan negara terbesar produsen dan eksportir minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO).

Tahun 2020, Indonesia menduduki rangking pertama eksportir terbesar minyak kelapa sawit dengan volume 37,3 juta ton dengan market share global mencapai 55 persen. Meskipun Indonesia produsen CPO terbesar, ternyata kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar produsen minyak goreng tidak terintegrasi dengan produsen CPO. Adanya kenaikan harga minyak goreng lebih karena harga internasional yang naik cukup tajam.

Namun di sisi lain, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan, pasokan minyak goreng di masyarakat saat ini aman. Kebutuhan minyak goreng nasional sebesar 5,06 juta ton per tahun, sedangkan produksi bisa mencapai 8,02 juta ton.

Namun realita di lapangan menunjukkan sebaliknya. Minyak goreng murah dalam program pemerintah tersebut sangat sulit didapatkan dan memunculkan masalah baru, kelangkaan. Di ritel modern, rak yang berisi minyak goreng lebih sering kosong.

Setali tiga uang, di pasar tradisional pedagang juga tidak menjual minyak goreng program pemerintah. Operasi pasar minyak goreng murah sesuai harga eceran tertinggi (HET) pemerintah itupun digelar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan komoditas minyak goreng yang semakin langka dan harga yang terus melambung.

Lantaran susahnya mencari minyak goreng sesuai harga yang dijanjikan pemerintah, banyak warga terutama ibu rumah tangga yang rela antri mendapatkan minyak dalam operasi pasar yang digelar sejumlah pihak.

Pemerintah, melalui Kementerian Perdagangan akhirnya memutuskan untuk menggelontorkan duit subsidi Rp 3,6 triliun untuk penyediaan minyak goreng murah seharga Rp 14.000 per liter dan tersedia di pasar.

Kementerian Perdagangan beralasan, soal minyak goreng murah yang susah didapatkan, karena tingginya permintaan minyak goreng oleh masyarakat di peritel modern. Karenanya dinilai pentingnya mengurangi tekanan permintaan di peritel modern.

Caranya yaitu dengan penyediaan minyak goreng curah di pasar tradisional dengan harga sesuai dengan HET. Jadi, ketika di pasar tradisional minyak curahnya sudah ada, pressure untuk beli di ritel itu akan berkurang sehingga nanti suplai normal, semuanya mengikuti harga eceran tertinggi.

Pada awal Februari ini, minyak goreng curah di pasar tradisional belum mengikuti HET baru yang ditetapkan pemerintah. Pasalnya, masih banyak minyak goreng stok lama yang dibeli pedagang dengan harga lama. 

Salah satu upaya menurunkan harga minyak goreng curah di pasar tradisional, pemerintah mengungkapkan adanya upaya pencampuran antara minyak goreng stok lama dengan yang baru. Dengan begitu, harga minyak goreng di pasar tradisional diharapkan bisa segera turun sesuai dengan HET baru.

Bahkan dengan proses blending sehingga harganya ke depannya diharapkan bisa menjadi Rp 11.500/kg untuk minyak curah. Harapannya, panic buying tidak terjadi lagi, dan pendistribusian minyak goreng murah akan sampai ke wilayah Indonesia timur.

Pengawasan Ketat

Oke Nurwan dalam dialog bertajuk Menjamin Ketersediaan Minyak Goreng bersama Ombudsman secara virtual, 8 Februari 2022 mengatakan, kontrol ketat akan dilakukan suplai produksi minyak sawit untuk dalam negeri sebelum diekspor oleh para produsen.

Untuk saat ini tercatat ada 40 juta liter minyak sawit yang siap didistribusikan. Volume itu merupakan hasil dari kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) sebesar 20 persen dari pasokan minyak sawit mentah (CPO) yang akan diekspor.

Kemendag memastikan produksi CPO untuk kebutuhan minyak goreng dalam negeri tidak akan bocor dan dijual ke luar negeri. Hingga saat ini, dari 196 perusahaan eksportir, baru diterbikan izin ekspor untuk 14 perusahaan karena kebanyakan belum memenuhi pasokan dalam negeri sesuai kebijakan DMO.

Selain itu pasokan minyak goreng hasil DMO akan mulai mengisi pasar-pasar tradisional dalam kemasan curah seharga Rp 11.500 di tingkat konsumen. Diharapkan, dengan kelancaran distribusi minyak curah untuk pasar, tekanan permintaan terhadap toko ritel modern bisa dikurangi.

Untuk kapasitas maksimal penyimpanan minyak goreng di ritel modern sekitar 20-25 juta liter per bulan. Jumlah itu cukup kecil dibandingkan dengan total kebutuhan minyak goreng untuk masyarakat yang mencapai 327 juta liter per bulan.

Adapun stok minyak goreng di toko ritel, berdasarkan laporan terakhir yang diterima Kemendag, gudang telah terisi sekitar 12 juta liter atau 50 persen dari kapasitas penyimpanan, dan ini artinya, di toko ritel saat ini sudah tersedia hanya saja mungkin masih dalam perjalanan. Semoga rakyat tidak sulit lagi, untuk mendapatkan minyak goreng di negeri yang kaya sawit.

Reporter : Hendy Fitriandoyo (Fungsional Perencana)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018