Thursday, 30 June 2022


Penggerek Batang dan PMK

13 Jun 2022, 10:21 WIBEditor : Gesha

Antisipasi dini serangan hama penggerek batang padi dengan agens hayati | Sumber Foto:HUMAS TP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Penggerek Batang bukan hama padi pendatang baru tapi keganasaannya nomor dua sesudah tikus. Dia selalu mengancam dan sulit diberantas sehingga perlu terus diwaspadai bahkan sejak perbenihan. Larvanya bersembunyi di dalam batang tanaman padi, tahu-tahu sundep dan beluk sudah terjadi. Batang padi mengering dan tangkai malainya copot. Kalau ini terjadi, artinya semuanya sudah terlambat. Petani siap-siap mutung karena rugi besar, tiga bulan lebih bersusah payah tetapi tidak ikut panen.

Petani terbiasa mengusir hama penggerek batang padi ini dengan menggunakan insektisida. Yang mengagetkan adalah bahwa pemberantasan/penanganan hama ini oleh petani masih banyak mengalami kegagalan karena salah insektisida, kurang dosis, dan yang menguatirkan adalah hamanya yang sudah resisten terhadap pestisida.

Kondisi ini tentu saja membuat insan pertanian prihatin, padahal menurut FAO beberapa negara ASEAN termasuk Indonesia sudah menggunakan pestisida cukup tinggi, walaupun juaranya dipegang oleh negara tetangga. Pesannya sangat jelas, pada era masyarakat konsumen memilih produk pertanian bebas residu bahan kimia dan semakin peduli lingkungan, petani harus bijak dalam menggunakan pestisida, mulai beralih pada pestisida non kimiawi, mengembangkan musuh alami atau menggunakan cara lain seperti PHT yang konsepnya sangat peduli lingkungan.

Kita juga sedang didera cobaan berat dengan munculnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) padahal pandemi Covid belum tuntas. Kejadiannya juga persis saat permintaan sapi dan domba meningkat untuk kebutuhan qurban pada Idul Adha. Sudah banyak sumberdaya dan upaya yang dicurahkan untuk menangani Covid sehingga porsi anggaran pembangunan yang dialihkan untuk menangani virus yang sangat ganas tinggi luar biasa. Dengan munculnya PMK, entah masuk lewat pintu mana, pengalihan anggaran pasti berlanjut dalam jumlah lebih besar lagi.

Syukur bahwa orang Indonesia tidak pernah kekurangan gagasan. Semoga ujian ini dapat pula ditanggulangi dengan berbagai tindakan yang tepat. Dengan tekanan berat, akan muncul gagasan hebat dan selalu ada berkah di belakangnya. Tapi tentu harus disertai juga upaya-upaya kita semua seluruh bangsa untuk mencegah agar kejadian merugikan itu tidak datang karena kecerobohan. Penggerek batang bisa menyebar cepat karena iklim, lalulintas kegiatan manusia yang tidak mungkin dapat dihentikan. Lalulintas ternak sudah dibatasi, diisolir agar PMK tidak menyebar.

Bagaimana dengan ternak yang sudah sakit? Sangat memprihatinkan melihat ternak yang terpapar PMK. Penderitaannya sangat berat, dan walaupun dikatakan dagingnya masih aman untuk dikonsumsi, karena PMK bukan penyakit zoonosis, tetapi kerugian petani pastilah sangat besar. Semoga kita segera menemukan cara untuk mengatasinya. (Beberapa kutipan diambil dari berbagai sumber)

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018