Thursday, 22 October 2026


Petani, Perguruan Tinggi, Pemerintah Bersatu Bangun Nilam Positif

19 Sep 2025, 16:31 WIBEditor : Gesha

Petani, perguruan tinggi, pemerintah, dan industri bersatu membangun ekosistem nilam Indonesia yang adil, berkelanjutan, dan inovatif demi harga stabil serta nilai tambah lokal.

TABLOIDSINARTANI.COM -- Petani, perguruan tinggi, pemerintah, dan industri bersatu membangun ekosistem nilam Indonesia yang adil, berkelanjutan, dan inovatif demi harga stabil serta nilai tambah lokal.

Industri nilam Indonesia tengah bergerak menuju babak baru.

Kepala ARC-PUIPT Nilam Universitas Syiah Kuala (USK), Syaifullah Muhammad, menekankan pentingnya sinergi antara petani, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, hingga media untuk menciptakan ekosistem industri nilam yang positif dan berkelanjutan.

Pernyataan ini ia sampaikan dalam Pelatihan Pemanfaatan Teknologi Produksi bagi Usaha Kecil Komoditas Atsiri Sulawesi Utara, yang digelar Kementerian UMKM di Hotel Luwansa, Manado, Rabu (17/9).

Acara yang diikuti sekitar 50 pelaku industri atsiri Sulawesi Utara ini menghadirkan narasumber dari ARC-USK, Dewan Atsiri Indonesia, BRIN, serta pelaku industri atsiri nasional.

Pelatihan dibuka oleh Asisten Deputi Usaha Kecil Kementerian UMKM, Dr. Ali Alkatiry, menandai pentingnya dukungan pemerintah untuk mendorong industri nilam yang sehat dan berkeadilan.

Syaifullah menegaskan, kolaborasi para pemangku kepentingan atau yang dikenal dengan pendekatan Penta Helix adalah kunci agar harga nilam adil bagi semua pihak, mulai dari petani, penyuling, pengumpul, hingga eksportir.

“Di level internasional, harga minyak nilam relatif stabil pada kisaran USD 100 atau sekitar Rp 1,6 juta per kilogram. Dengan harga ini, setiap pelaku bisa mendapatkan margin yang wajar,” ujar Syaifullah.

Ia menambahkan, harga jual yang ideal bagi petani dan penyuling berada di kisaran Rp 1–1,2 juta per kilogram, sementara sisa margin keuntungan bisa dibagi antara pengumpul dan eksportir.

Menurutnya, fluktuasi harga yang terlalu tinggi, seperti yang sempat menembus Rp 2 juta per kilogram, hanya memberi keuntungan jangka pendek dan tidak mendukung keberlanjutan industri hilir.

Syaifullah juga menjelaskan, harga minyak nilam yang terlalu tinggi akan memberatkan industri hilir, meningkatkan HPP, dan mendorong pencarian bahan alternatif.

Jika hal ini terjadi, seluruh stakeholder nilam Indonesia bisa dirugikan dalam jangka panjang.

Lebih jauh, ia membagikan pengalaman ARC-USK selama 10 tahun dalam mengembangkan inovasi dan hilirisasi nilam, yang terbukti meningkatkan nilai tambah lokal.

Hilirisasi, menurut Syaifullah, adalah kunci kemandirian industri atsiri Indonesia.

“ARC-USK telah menghasilkan berbagai produk turunan nilam bernilai ekonomi tinggi yang sudah masuk pasar. Kami siap berkolaborasi dengan semua pihak, baik di dalam maupun luar negeri,” tegasnya.

Syaifullah menegaskan, keberhasilan industri nilam Indonesia membutuhkan peran aktif semua pihak:

- Petani & Penyuling: Fokus pada pembibitan, budidaya, dan penyulingan sesuai Good Agriculture Practices (GAP) dan sustainable farming, sehingga menghasilkan minyak nilam sesuai kualitas pasar.

- Pengumpul & Eksportir: Membeli dengan harga stabil sesuai harga internasional, menjaga margin adil bagi semua.

-Perguruan Tinggi & Lembaga Riset: Menghasilkan inovasi teknologi produksi yang efektif, melakukan transfer teknologi, serta mendampingi masyarakat agar kualitas produk sesuai standar.

- Pemerintah: Menyediakan pelatihan, capacity building, pembiayaan awal, akses pasar, dan regulasi yang adil.

- Industri Keuangan: Memberikan pinjaman lunak, kredit ekspor, dan dukungan lembaga penjamin kredit rakyat untuk pertanian.

Media Massa: Membantu diseminasi informasi positif, meningkatkan literasi dan edukasi masyarakat.

Pelatihan ini juga dihadiri perwakilan perguruan tinggi ternama seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Negeri Manado, menegaskan komitmen akademisi untuk mendukung industri atsiri nasional.

Dengan kolaborasi yang solid, Syaifullah optimistis, industri nilam Indonesia bisa menciptakan ekosistem yang adil, berkelanjutan, dan kompetitif di pasar global, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha kecil.

“Mari kita bersatu, berbagi tugas dan peran. Bersama-sama, kita wujudkan nilam positif yang memberi manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya.

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018