
Persiapan gerakan tanam di Sleman
TABLOIDSINARTANI.COM, Sleman---Untuk menjaga ketersediaan pangan, khususnya beras selama pandemi Covid-19, sektor pertanian terus mengupayakan berbagai langkah untuk menjaga ketahanan pangan. Salah satunya dengan percepatan gerakan tanam padi. Misalnya, Gerakan tanam (Gertam) padi di Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta.
Menurut penyuluh yang mendampingi dan mengawal petani dari UPTD BP4 Wilayah II Godean, Gertam Padi bertujuan untuk mendesiminasikan inovasi teknologi jajar legowo super serta meningkatkan motivasi petani untuk menerapkan inovasi baru. Harapannya agar produktivitas padi dan kesejahteraan petani juga meningkat.
Selain itu gerakan tanam ini juga sebagai salah satu upaya untuk pengendalian tikus. Dalam pengendalian tikus sawah, petani didampingi langsung dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Balitbangtan DI Yogyakarta dengan penerapan teknologi tanam serempak 50 ha, gropyokan tikus saat fase olah tanah, emposan lubang aktif tikus, TBS (Trap barrier System)/LTBS ( Linier Barrier System) dan sanitasi lingkungan.
Sebelum gerakan tanam berlangsung, telah dilaksanakan gropyokan tikus pada saat fase olah tanah dengan harapan mampu meningkatkan produksi padi semaksimal mungkin. Pemasangan TBS dan LTBS juga telah dilakukan menggunakan perangkap bubu dan tanaman pemikat.
Langkah terakhir sebelum gerakan tanam adalah sanitasi lingkungan yaitu membersihkan gulma atau semak-semak di habitat utama tikus yaitu tanggul irigasi, perbatasan dengan kampung, pematang, parit, dan saluran irigasi.
Gerakan tanam serempak seluas 50 ha di Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean ini melibatkaan beberapa kelompok tani (poktan). Diantaranya, Poktan Ngudi Makmur II, Poktan Kragilan, KT Marsudi Luhur dan Poktan Ngudi Makmur II.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Heru Saptono berharap, kegiatan gerakan tanam padi 50 ha ini dapat lebih memantapkan petani untuk tetap menyediakan pangan bagi masyarakat saat pandemic Covid 19. “Seandainya sampai terjadi kriris ekonomi diharapkan tidak sampai terjadi krisis pangan, sehingga masyarakat lebih cepat bangkit dari keterpurukan,” katanya.
Heru mengatakan, adanya gertam serempak ini selain untuk pengendalian hama tikus sawah juga bisa meningkatkan produksi padi hingga 7 persen. Pada akhirnya juga bisa menghasilkan beras dengan hasil yang bagus dan tidak kalah dengan beras lainnya. “Beras Sleman juga bisa diterima oleh masyarakat yang lebih luas untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Sleman di tengah situasi Covid 19 saat ini,” ujarnya.
Merespon arahan Presiden Jokowi, agar tidak terjadi krisis pangan, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta kepada seluruh penyuluh pertanian dan petani di Indonesia agar segera melakukan Gerakan Percepatan Tanam Padi dan Jagung serentak.
“Kita harus bekerja lebih keras, lebih terpadu dan lebih gotong royong agar makanan rakyat bisa terjamin. Krisis pangan tidak boleh terjadi di Indonesia, kita harus hadapi dengan kerja keras dengan semangat pantang menyera,” tegas Syahrul.
Karena itu, Syahrul mengajak seluruh insan pertanian untuk menghadapi tantangan tersebut dengan dua langkah konkret yaitu dengan penanaman yang lebih cepat dan momentum penyaluran sarana dan prasarana yang tepat. “Diharapkan kerja sama dengan berbagai pihak lebih intens agar semua dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengataka, pangan adalah masalah yang utama dan menentukan hidup matinya suatu bangsa. Untuk itu petani harus tetap semangat tanam, olah, dan panen.
“Hal ini membuktikan pertanian tidak pernah berhenti di tengah wabah Covid-19, kepada para penyuluh pertanian maupun swadaya diharapkan untuk tetap bekerja mendampingi para petani,” jelas Dedi.