Friday, 05 June 2020


Persemaian Kering Rusunawa, Trik Petani Madura Siasati Curah Hujan Kurang

18 May 2020, 15:20 WIBEditor : Yulianto

Dewo Ringgih, penyuluh pertanian di Kecamatan Kalianget, Sumenep, menunjukkan persemaian kering | Sumber Foto:Dewo Ringgih

TABLOIDSINARTANI.COM, Sumenep---Pola tanam padi yang sangat tergantung curah hujan, membuat petani di Kabupaten Sumenep, Madura, harus menyiasati dengan baik. Dibantu penyuluh pertanian, petani membuat persemaian kering rumah susun pengganti lahan sawah (Rusunawa) untuk mengejar masa tanam.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada musim tanam akhir tahun 2019 intensitas curah hujan sangat kurang, sehingga menyebabkan jadwal tanam yang semula pada November 2019, terpaksa mundur menjadi Januari 2020. Dampak mundurnya jadwal tanam berimbas mundur jadwal tanam pada musim tanam (MT) padi ke-2.

Dewo Ringgih, penyuluh pertanian di Kecamatan Kalianget, Sumenep, mengatakan, MT 2 normalnya petani melakukan pada Maret. Karena mundurnya musim tanam, petani harus menyiasati dengan menerapkan persemaian kering Rusunawa untuk mempercepat masa tanam. Apalagi percepatan luas tambah tanam (LTT) harus segera dilakukan.

Kelebihan persemaian kering menurut Ringgih, bisa dilakukan di pekarangan rumah petani dan bisa mempercepat tanam. Jika persemaian di lahan sawah minimal membutuhkan waktu kurang lebih 21 HSS (hari setelah sebar) untuk bisa ditanam, maka persemaian kering di pekarangan paling tidak bisa mempecepat masa tanam hingga 20 hari.

Dikatakan, media untuk persemaian padi menggunakan tanah dan pupuk organik dengan perbandingan 3:1. Dengan komposisi media tersebut persemaian tidak membutuhkan tambahan pupuk kimia lagi.

“Jadi selain mempercepat masa tanam, keunggulan persemaian kering ini tidak membutuhkan biaya yang sangat banyak dibandingkan persemaian di sawah,” tuturnya.

Inovasi ini pertama kali diterapkan Hasanudin, petani dari Poktan Sumber Tani Desa Kalimook, Kecatan Kalianget. Inovasi Hasanudin ini mendapat respon antusias dari petani lainya, terutama di Madura. Selain mempecepat masa tanam, persemaian kering memudahkan petani merawat bibit, sehingga kualitas bibit akan jauh lebih bagus dibandingkan bibit dengan persemaian di lahan sawah.

Inovasi peremaian kering rusunawa ini mempermudah aktivitas budidaya padi. Apalagi di tengah wabah Covid-9 yang belum kunjung berakhir, ketersediaan dan kebutuhan pangan setiap saat harus dapat terpenuhi. Bahkan diakui sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian dalam menjaga roda kehidupan.

“Kita harus bekerja lebih keras, lebih terpadu dan lebih gotong royong agar makanan rakyat bisa terjamin. Krisis pangan tidak boleh terjadi di Indonesia, kita harus hadapi dengan kerja keras dengan semangat pantang menyerah,” tegas menteri pertanian, Syahrul Yasin Limpo.

Karena itu, Syahrul mengajak seluruh insan pertanian untuk menghadapi tantangan tersebut dengan dua langkah konkret, yaitu dengan penanaman yang lebih cepat dan momentum penyaluran sarana dan prasarana yang tepat. “Saya harapkan kerja sama dengan berbagai pihak lebih intens agar semua dapat berjalan dengan baik,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, pangan adalah masalah yang utama dan menentukan hidup matinya suatu bangsa. Karena itu, petani harus tetap semangat tanam, olah, dan panen.

“Hal ini membuktikan pertanian tidak pernah berhenti di tengah wabah Covid-19, kepada para penyuluh pertanian diharapkan untuk tetap bekerja mendampingi para petani,” jelas Dedi.

Reporter : Dewo Ringgih, Yeniarta (BBPP KETINDAN)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018